Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1614 tentang Tiyarah termasuk syirik dan hilang dengan tawakal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa mempercayai thiyarah (merasa sial karena melihat/mendengar sesuatu) adalah bagian dari syirik kecil, karena menggantungkan hati kepada selain Allah. Namun Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa rasa was-was itu bisa ada pada manusia, dan obatnya adalah tawakkal — bersandar penuh kepada Allah. Jadi seorang mukmin tidak dilarang merasakan bisikan itu, tetapi wajib melawannya dengan tauhid dan tawakkal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ma'idah [5]: 23 (potongan yang relevan):

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Terjemahan: "Dan kepada Allah saja hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

QS. At-Talaq [65]: 3 (potongan yang relevan):

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Terjemahan: "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya."

Hadits terkait:

  1. Hadits dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, riwayat At-Tirmidzi no. 1614 (Kitab Sirah, Bab Thiyarah dan Fa'al), dan beliau berkata: "Hadits ini hasan shahih." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan makna serupa.
  2. Hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Terjemahan: "Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada hammah, dan tidak ada shafar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam at-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan shahih.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa thiyarah termasuk syirik karena mengandung ketergantungan hati kepada selain Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa thiyarah diharamkan dan termasuk syirik kecil.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa thiyarah merusak tauhid karena hati bergantung pada sebab yang tidak syar'i.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Al-Qaul as-Sadid menegaskan thiyarah bertentangan dengan tawakkal.

Penjelasan Rinci

1. Makna thiyarah

Thiyarah (طِيَرَة) berasal dari kata thair (طَيْر) yang berarti burung. Orang Arab jahiliyah dahulu melepaskan burung; jika terbang ke kanan dianggap baik, ke kiri dianggap sial. Kemudian istilah ini dipakai untuk segala bentuk merasa sial karena melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu — misalnya: "Saya gagal karena bertemu orang cacat", "Saya tidak jadi berangkat karena mendengar suara burung tertentu", dan sejenisnya.

2. Mengapa disebut syirik?

Nabi ﷺ menyebutnya syirik karena:

  • Hati orang yang terkena thiyarah menggantungkan nasib kepada makhluk/kejadian, bukan kepada Allah.
  • Ini menyerupai keyakinan bahwa ada selain Allah yang menentukan baik-buruknya sesuatu.
  • Ibnu Hajar menjelaskan ini adalah syirik ashghar (syirik kecil), tidak mengeluarkan dari Islam, tetapi mengurangi kesempurnaan tauhid.

3. Sabda "وَمَا مِنَّا إِلَّا..." — "dan tidak ada di antara kita kecuali..."

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang mengucapkan kalimat ini:

  • Pendapat pertama (yang dikuatkan Sulaiman bin Harb, dan dinukil oleh Imam Bukhari melalui Muhammad bin Isma'il/al-Bukhari): Kalimat "وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ" adalah perkataan Abdullah bin Mas'ud sendiri, bukan sabda Nabi ﷺ. Ini yang disebutkan At-Tirmidzi dalam riwayat ini, dan dinukil dari Sulaiman bin Harb.
  • Pendapat kedua: Sebagian meriwayatkannya sebagai sabda Nabi ﷺ.

Imam at-Tirmidzi sendiri mengisyaratkan bahwa yang lebih kuat adalah pendapat Sulaiman bin Harb, yaitu kalimat itu adalah perkataan Ibnu Mas'ud رضي الله عنه.

4. Makna kalimat Ibnu Mas'ud

Ibnu Mas'ud berkata: "Dan tidak ada di antara kita (yang selamat dari bisikan thiyarah) kecuali Allah menghilangkannya dengan tawakkal."

Maksudnya: setiap manusia hampir pasti pernah merasakan bisikan was-was thiyarah di hatinya, tetapi seorang mukmin melawannya dengan tawakkal kepada Allah, sehingga Allah menghilangkan pengaruh buruk itu dari hatinya.

5. Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya

  • Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim): thiyarah haram dan termasuk syirik kecil; namun jika hanya lintasan hati tanpa diikuti keyakinan dan perbuatan, tidak dihukum, asalkan segera ditolak dengan tawakkal.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari): thiyarah dilarang karena merusak tauhid; obatnya adalah tawakkal dan mengabaikannya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Madarijus Salikin, Zadul Ma'ad): thiyarah adalah pintu setan untuk merusak tawakkal; seorang hamba harus menutup pintu itu dengan tauhid.
  • Syaikh as-Sa'di (Al-Qaul as-Sadid): tawakkal adalah separuh agama; thiyarah merusaknya.
  • Syaikh bin Baz dan Syaikh al-Utsaimin menjelaskan dalam fatwa-fatwa mereka bahwa thiyarah termasuk syirik ashghar, dan wajib ditinggalkan; jika seseorang merasa was-was, hendaklah ia melanjutkan urusannya dan bertawakkal.

6. Perbedaan thiyarah dengan tafa'ul (optimisme)

Islam tidak melarang tafa'ul — merasa optimis dengan kata atau tanda yang baik. Nabi ﷺ menyukai tafa'ul dan melarang thiyarah (HR. Al-Bukhari). Bedanya: tafa'ul menggantungkan harapan kepada Allah, sedangkan thiyarah menggantungkan nasib kepada makhluk.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — seorang sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal keilmuannya — setelah menyampaikan hadits ini, beliau menambahkan kalimat yang menjadi obat bagi hati yang was-was:

"Dan tidak ada di antara kita kecuali (merasakan bisikan itu), tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal."

Ini menunjukkan kejujuran dan kelembutan beliau: beliau tidak menyatakan bahwa seorang mukmin pasti bersih dari bisikan thiyarah, tetapi beliau mengajarkan jalan keluarnya, yaitu tawakkal. Inilah adab salaf: mengakui kelemahan manusia, lalu menunjukkan obatnya, bukan menghakimi.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang merasa was-was karena sesuatu, beliau menjawab dengan tenang: "Tawakkal kepada Allah dan teruskan." (dinukil dalam kitab-kitab manaqib beliau).

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa thiyarah adalah syirik kecil yang wajib dijauhi.
  2. Jangan biarkan bisikan was-was menghentikan urusanmu; teruskan dan bertawakkal kepada Allah.
  3. Perbanyak dzikir dan doa tawakkal, seperti: "Hasbunallahu wa ni'mal wakil."
  4. Bedakan antara tafa'ul (optimis, dianjurkan) dan thiyarah (merasa sial, dilarang).
  5. Jangan menghakimi orang yang sedang was-was; nasihati dengan lembut dan arahkan kepada tawakkal.
  6. Pelajari tauhid dan tawakkal dari kitab-kitab ulama seperti Kitab Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Qaul as-Sadid karya as-Sa'di, dan Fathul Majid.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?