Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa mempercayai thiyarah (merasa sial karena melihat/mendengar sesuatu) adalah bagian dari syirik kecil, karena menggantungkan hati kepada selain Allah. Namun Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa rasa was-was itu bisa ada pada manusia, dan obatnya adalah tawakkal — bersandar penuh kepada Allah. Jadi seorang mukmin tidak dilarang merasakan bisikan itu, tetapi wajib melawannya dengan tauhid dan tawakkal.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ma'idah [5]: 23 (potongan yang relevan):
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Terjemahan: "Dan kepada Allah saja hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
QS. At-Talaq [65]: 3 (potongan yang relevan):
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Terjemahan: "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya."
Hadits terkait:
- Hadits dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, riwayat At-Tirmidzi no. 1614 (Kitab Sirah, Bab Thiyarah dan Fa'al), dan beliau berkata: "Hadits ini hasan shahih." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan makna serupa.
- Hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
Terjemahan: "Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada hammah, dan tidak ada shafar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama daftar:
- Imam at-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan shahih.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa thiyarah termasuk syirik karena mengandung ketergantungan hati kepada selain Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa thiyarah diharamkan dan termasuk syirik kecil.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa thiyarah merusak tauhid karena hati bergantung pada sebab yang tidak syar'i.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Al-Qaul as-Sadid menegaskan thiyarah bertentangan dengan tawakkal.
Penjelasan Rinci
1. Makna thiyarah
Thiyarah (طِيَرَة) berasal dari kata thair (طَيْر) yang berarti burung. Orang Arab jahiliyah dahulu melepaskan burung; jika terbang ke kanan dianggap baik, ke kiri dianggap sial. Kemudian istilah ini dipakai untuk segala bentuk merasa sial karena melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu — misalnya: "Saya gagal karena bertemu orang cacat", "Saya tidak jadi berangkat karena mendengar suara burung tertentu", dan sejenisnya.
2. Mengapa disebut syirik?
Nabi ﷺ menyebutnya syirik karena:
- Hati orang yang terkena thiyarah menggantungkan nasib kepada makhluk/kejadian, bukan kepada Allah.
- Ini menyerupai keyakinan bahwa ada selain Allah yang menentukan baik-buruknya sesuatu.
- Ibnu Hajar menjelaskan ini adalah syirik ashghar (syirik kecil), tidak mengeluarkan dari Islam, tetapi mengurangi kesempurnaan tauhid.
3. Sabda "وَمَا مِنَّا إِلَّا..." — "dan tidak ada di antara kita kecuali..."
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang mengucapkan kalimat ini:
- Pendapat pertama (yang dikuatkan Sulaiman bin Harb, dan dinukil oleh Imam Bukhari melalui Muhammad bin Isma'il/al-Bukhari): Kalimat "وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ" adalah perkataan Abdullah bin Mas'ud sendiri, bukan sabda Nabi ﷺ. Ini yang disebutkan At-Tirmidzi dalam riwayat ini, dan dinukil dari Sulaiman bin Harb.
- Pendapat kedua: Sebagian meriwayatkannya sebagai sabda Nabi ﷺ.
Imam at-Tirmidzi sendiri mengisyaratkan bahwa yang lebih kuat adalah pendapat Sulaiman bin Harb, yaitu kalimat itu adalah perkataan Ibnu Mas'ud رضي الله عنه.
4. Makna kalimat Ibnu Mas'ud
Ibnu Mas'ud berkata: "Dan tidak ada di antara kita (yang selamat dari bisikan thiyarah) kecuali Allah menghilangkannya dengan tawakkal."
Maksudnya: setiap manusia hampir pasti pernah merasakan bisikan was-was thiyarah di hatinya, tetapi seorang mukmin melawannya dengan tawakkal kepada Allah, sehingga Allah menghilangkan pengaruh buruk itu dari hatinya.
5. Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya
- Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim): thiyarah haram dan termasuk syirik kecil; namun jika hanya lintasan hati tanpa diikuti keyakinan dan perbuatan, tidak dihukum, asalkan segera ditolak dengan tawakkal.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari): thiyarah dilarang karena merusak tauhid; obatnya adalah tawakkal dan mengabaikannya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Madarijus Salikin, Zadul Ma'ad): thiyarah adalah pintu setan untuk merusak tawakkal; seorang hamba harus menutup pintu itu dengan tauhid.
- Syaikh as-Sa'di (Al-Qaul as-Sadid): tawakkal adalah separuh agama; thiyarah merusaknya.
- Syaikh bin Baz dan Syaikh al-Utsaimin menjelaskan dalam fatwa-fatwa mereka bahwa thiyarah termasuk syirik ashghar, dan wajib ditinggalkan; jika seseorang merasa was-was, hendaklah ia melanjutkan urusannya dan bertawakkal.
6. Perbedaan thiyarah dengan tafa'ul (optimisme)
Islam tidak melarang tafa'ul — merasa optimis dengan kata atau tanda yang baik. Nabi ﷺ menyukai tafa'ul dan melarang thiyarah (HR. Al-Bukhari). Bedanya: tafa'ul menggantungkan harapan kepada Allah, sedangkan thiyarah menggantungkan nasib kepada makhluk.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — seorang sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal keilmuannya — setelah menyampaikan hadits ini, beliau menambahkan kalimat yang menjadi obat bagi hati yang was-was:
"Dan tidak ada di antara kita kecuali (merasakan bisikan itu), tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal."
Ini menunjukkan kejujuran dan kelembutan beliau: beliau tidak menyatakan bahwa seorang mukmin pasti bersih dari bisikan thiyarah, tetapi beliau mengajarkan jalan keluarnya, yaitu tawakkal. Inilah adab salaf: mengakui kelemahan manusia, lalu menunjukkan obatnya, bukan menghakimi.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang merasa was-was karena sesuatu, beliau menjawab dengan tenang: "Tawakkal kepada Allah dan teruskan." (dinukil dalam kitab-kitab manaqib beliau).
Kesimpulan Praktis
- Yakini bahwa thiyarah adalah syirik kecil yang wajib dijauhi.
- Jangan biarkan bisikan was-was menghentikan urusanmu; teruskan dan bertawakkal kepada Allah.
- Perbanyak dzikir dan doa tawakkal, seperti: "Hasbunallahu wa ni'mal wakil."
- Bedakan antara tafa'ul (optimis, dianjurkan) dan thiyarah (merasa sial, dilarang).
- Jangan menghakimi orang yang sedang was-was; nasihati dengan lembut dan arahkan kepada tawakkal.
- Pelajari tauhid dan tawakkal dari kitab-kitab ulama seperti Kitab Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Qaul as-Sadid karya as-Sa'di, dan Fathul Majid.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.