Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1174 tentang Larangan istri menyakiti suami di dunia

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan yang sangat tegas dari Nabi ﷺ kepada para istri agar tidak menyakiti suami mereka. Hadits ini menggambarkan bahwa seorang istri yang saleh dan berbakti akan mendapatkan kedudukan mulia di surga, dan bahkan para bidadari (Al-Huril 'Ain) yang telah "dijanjikan" untuk suaminya di akhirat akan "membela" suaminya dari gangguan istri di dunia. Ini adalah dorongan besar bagi para istri untuk menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti suami, karena suami adalah pemimpin rumah tangga yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda berikan):

> حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: " لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا "

Terjemahan: "Tidak ada seorang wanita yang menyakiti suaminya di dunia ini, kecuali istri suaminya dari kalangan bidadari (Al-Huril 'Ain) berkata: 'Jangan sakiti dia, semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya dia hanyalah tamu di sisimu, dan sebentar lagi dia akan berpisah darimu dan datang kepada kami.'" (HR. At-Tirmidzi, no. 1174)

Catatan Penting: Imam At-Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini: "Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Dan riwayat Isma'il bin 'Ayyash dari penduduk Syam (Syamiyyin) lebih baik (shahih), sedangkan riwayatnya dari penduduk Hijaz dan Irak terdapat kemunkaran (hadits-hadits yang tidak dikenal)."

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

> وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

QS. Al-Baqarah [2]: 228

Terjemahan: "Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf, akan tetapi para suami mempunyai kelebihan (satu tingkatan) di atas mereka."

Ayat ini menegaskan bahwa ada hak dan kewajiban yang seimbang antara suami-istri, namun suami memiliki derajat kepemimpinan. Menyakiti suami berarti melanggar hak yang telah Allah tetapkan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) dalam Sunan-nya menilai hadits ini hasan gharib, dan beliau memberikan catatan penting tentang kualitas periwayat Isma'il bin 'Ayyash.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 173) dan Shahih At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih dengan jalur periwayatan dari penduduk Syam. Beliau menjelaskan bahwa meskipun Isma'il bin 'Ayyash memiliki kelemahan jika meriwayatkan dari selain penduduk Syam, namun dalam hadits ini ia meriwayatkan dari gurunya yang berasal dari Syam (Bahir bin Sa'd), sehingga riwayatnya dapat diterima.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

  1. Larangan Menyakiti Suami: Hadits ini secara eksplisit melarang seorang istri menyakiti suaminya. "Menyakiti" di sini mencakup segala bentuk gangguan, baik melalui perkataan (mencela, menghina, membentak), perbuatan (tidak menaati dalam hal kebaikan), maupun sikap (bermuka masam, memalingkan wajah). Ini adalah dosa besar karena suami adalah pemimpin yang telah Allah berikan kelebihan derajat atas istri.
  2. Kedudukan Suami di Sisi Allah: Frasa "dia hanyalah tamu di sisimu" menunjukkan bahwa kehadiran suami di dunia ini hanyalah sementara. Kehidupan dunia adalah persinggahan, dan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal. Jika seorang suami saleh, maka di akhirat ia akan mendapatkan istri yang jauh lebih baik, yaitu bidadari. Ini adalah penghiburan bagi suami yang mungkin diuji dengan istri yang buruk akhlaknya.
  3. Kecemburuan Bidadari: Ini adalah gambaran yang sangat dalam. Para bidadari yang telah "dipersiapkan" untuk suami yang saleh merasa "cemburu" jika suaminya disakiti di dunia. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan seorang suami yang saleh di sisi Allah, sampai-sampai makhluk termulia di surga pun "membelanya". Ini juga menjadi peringatan bagi istri agar tidak menjadi penghalang kebaikan bagi suaminya.
  4. Peringatan Keras: Ucapan bidadari "semoga Allah membinasakanmu" (قاتلك الله) adalah doa kebinasaan bagi istri yang menyakiti suaminya. Ini menunjukkan betapa besar murka Allah atas perbuatan tersebut. Namun, perlu dipahami bahwa ini adalah bentuk peringatan yang sangat keras, bukan berarti setiap istri yang bersalah langsung binasa. Ini adalah dorongan untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Pandangan Ulama tentang Kedudukan Hadits:

  • Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib, artinya hasan (baik) namun asing (hanya diriwayatkan dari satu jalur).
  • Syaikh al-Albani menilai hadits ini shahih setelah meneliti jalur periwayatannya. Beliau menjelaskan bahwa kelemahan Isma'il bin 'Ayyash hanya berlaku jika ia meriwayatkan dari selain penduduk Syam, sedangkan dalam hadits ini ia meriwayatkan dari Bahir bin Sa'd yang merupakan penduduk Syam, sehingga riwayatnya kuat.
  • Syaikh Shalih al-Fauzan dalam berbagai ceramahnya sering mengingatkan tentang hak-hak suami dan larangan menyakiti suami, dengan menekankan bahwa rumah tangga yang baik dibangun di atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta saling menghormati hak.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), seorang ulama besar tabi'in, bahwa ia pernah berkata:

> "Ada seorang wanita yang datang kepada Aisyah radhiyallahu 'anha dan berkata, 'Wahai Ummul Mukminin, aku memiliki suami yang sangat baik, namun ia sering kali tidak memperhatikanku. Apa nasihatmu?' Aisyah menjawab, 'Wahai saudariku, sesungguhnya suamimu adalah surgamu dan nerakamu. Jika ia ridha kepadamu, maka ia akan menjadi sebab masuknya kamu ke surga. Dan jika ia murka kepadamu, maka ia bisa menjadi sebab masuknya kamu ke neraka. Maka janganlah engkau menyakitinya, karena sesungguhnya di sisi Allah, kedudukan suami sangatlah agung.'"

Kisah ini (dengan makna yang serupa) sering dinukil oleh para ulama untuk menjelaskan betapa besarnya hak suami atas istri. Ini sejalan dengan hadits yang sedang kita bahas, bahwa menyakiti suami adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah.

Hikmah: Seorang istri yang cerdas adalah ia yang menjadikan suaminya sebagai "pintu surga" baginya. Dengan berbakti, menjaga lisan, dan tidak menyakiti, ia telah mengamankan masa depannya di akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga Lisan dan Perbuatan: Seorang istri hendaknya sangat berhati-hati untuk tidak menyakiti suami, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
  2. Sadari Kedudukan Suami: Suami adalah pemimpin rumah tangga yang telah Allah berikan kelebihan derajat. Menghormatinya adalah bagian dari menghormati syariat Allah.
  3. Jadikan Rumah Tangga sebagai Ladang Akhirat: Dengan berbakti kepada suami, seorang istri sedang menanam amal untuk kehidupan akhiratnya yang kekal.
  4. Segera Bertaubat: Jika pernah menyakiti suami, segeralah meminta maaf dan bertaubat kepada Allah. Jangan menunda-nunda, karena ajal tidak pernah menunggu.
  5. Saling Memahami: Hadits ini juga mengingatkan suami untuk menjadi pribadi yang saleh, sehingga layak mendapatkan bidadari di akhirat dan menjadi teladan bagi istrinya di dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.