Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1071 tentang Pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap manusia yang dikubur akan didatangi dua malaikat (Munkar dan Nakir) yang menanyakan tentang keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman akan menjawab dengan benar, lalu kuburnya dilapangkan dan diterangi; sedangkan orang munafik akan ragu-ragu, lalu kuburnya disempitkan dan ia disiksa hingga hari kebangkitan. Hadits ini menegaskan kebenaran adanya siksa dan nikmat kubur sebagai bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan siksa kubur:

Allah ﷻ berfirman:

وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ ۞ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

QS. Ghafir [40]: 45–46

Terjemahan: "Dan mereka (kaum Fir'aun) dikelilingi oleh azab yang buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan): 'Masukkanlah kaum Fir'aun ke dalam azab yang paling berat.'"

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bagi sebagian ulama tentang adanya siksa kubur, karena azab ditampakkan kepada mereka sebelum hari Kiamat, yaitu di alam barzakh.

Hadits terkait dari kitab shahih:

Hadits dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa'i — dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani — menjelaskan secara panjang tentang pertanyaan dua malaikat di dalam kubur, nikmat kubur bagi orang beriman, dan siksa kubur bagi orang kafir dan munafik.

Imam at-Tirmidzi dalam kitab Jami' at-Tirmidzi (no. 1071) menyatakan bahwa hadits Abu Hurairah ini berstatus hasan gharib, dan menyebutkan bahwa banyak sahabat meriwayatkan tentang siksa kubur, di antaranya: Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Al-Bara' bin 'Azib, Abu Ayyub, Anas, Jabir, 'Aisyah, dan Abu Sa'id radhiyallahu 'anhum.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini berbicara tentang salah satu rukun iman yang sering dilupakan, yaitu iman kepada hari akhir dan segala yang terjadi setelah kematian, termasuk fitnah kubur (pertanyaan malaikat), nikmat kubur, dan siksa kubur.

1. Kedatangan dua malaikat (Munkar dan Nakir)

Nabi ﷺ menyebutkan bahwa dua malaikat berwarna hitam dan biru akan datang kepada mayit. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan warna hitam dan biru menggambarkan bentuk yang menakutkan, dan ini adalah hakikat yang wajib kita imani tanpa perlu membayangkan bentuknya secara detail.

2. Pertanyaan tentang Rasulullah ﷺ

Pertanyaan inti adalah: "Apa yang kau katakan tentang orang ini?" — yaitu tentang Nabi Muhammad ﷺ. Ini menunjukkan bahwa pokok ujian di alam kubur adalah tauhid dan keimanan kepada Rasul. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa pertanyaan ini menguji apakah seseorang benar-benar beriman atau hanya mengikuti tanpa keyakinan.

3. Jawaban orang beriman dan balasannya

Orang beriman menjawab dengan yakin: "Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya."

Kemudian:

  • Kuburnya dilapangkan 70 hasta — Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Ahwal al-Qubur menjelaskan bahwa ini adalah gambaran luasnya rahmat Allah bagi orang beriman.
  • Kuburnya diterangi — Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menyebutkan bahwa cahaya ini adalah nikmat yang terus menyertai hingga hari kebangkitan.
  • Dikatakan "tidurlah seperti tidurnya pengantin" — Ibnul Qayyim dalam Ar-Ruh menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan tentang ketenangan dan istirahat yang sempurna, tanpa gangguan.

4. Jawaban orang munafik dan balasannya

Orang munafik menjawab: "Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku pun mengatakan yang sama, aku tidak tahu."

Ini menunjukkan bahwa keimanan yang hanya ikut-ikutan tanpa keyakinan tidak akan menyelamatkan seseorang di alam kubur. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyyah menegaskan bahwa iman yang benar adalah iman yang diyakini hati, diucapkan lisan, dan diamalkan anggota badan — bukan sekadar mengikuti lingkungan.

Kemudian bumi diperintahkan untuk menyempitkan dan menghimpitnya, sehingga tulang rusuknya saling bersilangan. Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wal Malahim menyebutkan bahwa siksa ini berlangsung terus-menerus hingga hari kebangkitan.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat tentang kewajiban mengimani adanya fitnah kubur, nikmat kubur, dan siksa kubur. Perbedaan hanya pada rincian teknis (misalnya: apakah pertanyaan berlaku bagi semua orang atau hanya mukallaf, apakah anak-anak ditanya, dan sebagainya). Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnul Qayyim dalam Ar-Ruh — adalah bahwa fitnah kubur berlaku bagi setiap mukallaf yang telah sampai kepadanya dakwah, dan ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, ketika berdiri di atas kuburan, beliau menangis hingga jenggotnya basah. Beliau ditanya: "Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, tetapi engkau menangis karena kuburan?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kubur adalah tempat pertama dari akhirat. Barangsiapa selamat darinya, maka setelahnya lebih mudah. Dan barangsiapa tidak selamat, maka setelahnya lebih sulit.'" (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Hikmah: Para salaf sangat takut kepada fitnah kubur karena mereka tahu bahwa keselamatan di alam kubur adalah kunci keselamatan di akhirat. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada kuburan."

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada fitnah kubur, nikmat kubur, dan siksa kubur adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah — wajib diyakini dan tidak boleh diingkari.
  2. Pokok ujian di kubur adalah tauhid dan keimanan kepada Rasulullah ﷺ — maka perkuatlah tauhid dan kecintaan kepada sunnah Nabi ﷺ.
  3. Iman yang ikut-ikutan tanpa keyakinan tidak akan menyelamatkan — maka pelajarilah agama dengan dalil, bukan sekadar mengikuti tradisi.
  4. Perbanyak doa berlindung dari siksa kubur — sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan dalam hadits shahih: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur..." (HR. Muslim).
  5. Ingatlah kematian dan kubur — karena mengingatnya akan melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?