Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1067 tentang Cinta atau benci bertemu Allah menentukan cinta Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa "cinta atau benci kepada pertemuan dengan Allah" bukanlah sekadar takut mati, melainkan keadaan hati saat menerima kabar tentang apa yang Allah siapkan setelah kematian. Mukmin yang diberi kabar gembira berupa rahmat, keridhaan, dan surga akan rindu berjumpa Allah; sedangkan orang kafir yang diberi kabar siksa dan murka akan benci berjumpa dengan-Nya. Jadi ukurannya adalah iman dan keadaan hati, bukan semata rasa takut mati yang ada pada setiap manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Jenazah, dan beliau menilainya hasan shahih. Jalurnya: Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — dari Zurarah bin Aufa — dari Sa'd bin Hisyam — dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks hadits (potongan utama):

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»

Terjemah: "Siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah mencintai pertemuan dengannya; dan siapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah membenci pertemuan dengannya."

Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, kita semua membenci kematian?" Beliau menjawab:

«لَيْسَ ذَلِكَ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»

Terjemah: "Bukan begitu. Tetapi seorang mukmin, apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridhaan-Nya, dan surga-Nya, ia mencintai pertemuan dengan Allah dan Allah mencintai pertemuan dengannya. Dan orang kafir, apabila diberi kabar dengan siksa Allah dan kemurkaan-Nya, ia membenci pertemuan dengan Allah dan Allah membenci pertemuan dengannya."

Ayat yang berkaitan erat dengan makna ini:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

QS. Thaha [20]: 124 — "Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta."

Juga:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

QS. Yunus [10]: 9 — "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Tuhan mereka akan memberi petunjuk kepada mereka karena keimanan mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai di dalam surga-surga kenikmatan."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyentuh satu titik yang sering disalahpahami: hubungan antara rasa takut mati dan cinta atau benci kepada pertemuan dengan Allah. Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan kejernihan pemahamannya, langsung menangkap kemungkinan salah paham, lalu bertanya: "Bukankah kita semua membenci kematian?" Nabi ﷺ menjawab dengan penjelasan yang sangat halus: yang dimaksud bukan sekadar rasa takut mati, tetapi keadaan hati ketika seseorang diberi kabar tentang apa yang menantinya setelah kematian.

Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, salah satu perawi dalam jalur hadits ini dan termasuk tabi'in yang dikenal luas ilmunya, menjelaskan makna "liqa' Allah" (pertemuan dengan Allah) sebagai berjumpa dengan balasan dan keputusan Allah di akhirat. Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin, karena imannya, akan rindu kepada apa yang Allah janjikan; sedangkan orang kafir akan merasa berat dan menolak karena tahu apa yang menantinya.

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "benci kepada pertemuan dengan Allah" pada orang kafir bukanlah sekadar takut mati secara alami, melainkan karena mereka tahu bahwa setelah kematian ada hisab dan siksa, sehingga mereka ingin menjauh. Sedangkan pada mukmin, meskipun secara tabiat manusia ia tidak suka mati, namun hatinya ridha dan rindu kepada rahmat Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada pertemuan dengan Allah adalah tanda keimanan yang benar, dan sebaliknya, kebencian kepadanya adalah tanda kekufuran atau penyakit hati. Beliau juga menegaskan bahwa rasa takut mati yang ada pada manusia secara umum tidaklah tercela selama tidak disertai kebencian kepada apa yang Allah siapkan bagi orang beriman.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa rindu kepada Allah dan akhirat tumbuh dari ma'rifat (mengenal Allah) dan mahabbah (cinta kepada-Nya). Semakin seseorang mengenal Allah dan mencintai-Nya, semakin ia rindu berjumpa dengan-Nya. Sebaliknya, orang yang hatinya kosong dari ma'rifat akan merasa berat dan takut.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang pertemuan dengan Allah selalu dikaitkan dengan keadaan hati: orang beriman yang beramal saleh diberi kabar gembira, sedangkan orang yang berpaling diberi peringatan. Beliau menekankan bahwa kabar gembira itulah yang membuat mukmin rindu, dan kabar buruk itulah yang membuat kafir benci.

Perlu dicatat: sebagian ulama daftar, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah, menegaskan bahwa hadits ini termasuk pokok dalam bab iman dan tauhid, karena menunjukkan bahwa kecintaan dan kebencian kepada pertemuan dengan Allah adalah bagian dari keimanan itu sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'd bin Hisyam, perawi hadits ini, adalah seorang tabi'in yang sangat bersemangat menuntut ilmu. Ia pernah datang kepada Aisyah radhiyallahu 'anha dan bertanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, lalu Aisyah menjawab: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." Sa'd juga bertanya tentang shalat malam Nabi ﷺ, dan Aisyah menjelaskan dengan sangat rinci. Dari kegigihan Sa'd inilah banyak hadits penting tentang ibadah dan keadaan hati sampai kepada kita, termasuk hadits ini.

Hikmahnya: orang yang mencintai ilmu dan mendekat kepada Allah akan diberi pemahaman yang dalam tentang agama, dan hatinya akan semakin rindu kepada pertemuan dengan Rabb-nya. Sebaliknya, hati yang jauh dari ilmu dan dzikir akan merasa berat dan takut.

Kesimpulan Praktis

  1. Bedakan antara takut mati dan benci kepada pertemuan dengan Allah. Takut mati adalah tabiat manusia; benci kepada pertemuan dengan Allah adalah penyakit hati yang harus diobati dengan iman dan amal saleh.
  2. Perbanyak mengingat akhirat dan rahmat Allah. Dengan mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, hati akan tumbuh rindu kepada-Nya.
  3. Jauhi dosa dan maksiat yang membuat hati keras dan berat untuk berjumpa dengan Allah.
  4. Berdoalah agar Allah menjadikan kita termasuk orang yang rindu berjumpa dengan-Nya dan diberi husnul khatimah.
  5. Belajarlah dari para ulama seperti Qatadah, An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Rajab, dan As-Sa'di dalam memahami hadits-hadits tentang hati dan iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?