Penjelasan Hadits Nasa'i No. 993 tentang Keutamaan membaca surah Al-Ikhlas

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar membaca surat Al-Ikhlas (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ), karena surat ini berisi penetapan tauhid dan sifat-sifat Allah. Seorang sahabat yang selalu mengakhiri shalatnya dengan surat ini beralasan bahwa ia mencintainya karena berisi sifat Ar-Rahman, dan Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah pun mencintainya. Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada tauhid dan sifat-sifat Allah adalah sebab datangnya kecintaan Allah kepada hamba.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Firman Allah tentang surat Al-Ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlas [112]: 1)

Dan firman Allah:

اللَّهُ الصَّمَدُ

"Allah yang menjadi tumpuan segala sesuatu." (QS. Al-Ikhlas [112]: 2)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 993), dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah dengan lafaz yang semakna, dan oleh At-Tirmidzi yang menyebutkan keutamaan surat ini.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa surat Al-Ikhlas disebut "sifat Ar-Rahman" karena di dalamnya terkandung penetapan keesaan Allah dan kesempurnaan-Nya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan mencintai surat Al-Ikhlas dan membaca serta merenunginya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa cinta kepada Allah dan sifat-sifat-Nya adalah pokok agama, dan siapa yang mencintai tauhid, Allah akan mencintainya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

Pertama: Surat Al-Ikhlas adalah inti tauhid.

Surat ini disebut "sifat Ar-Rahman" karena seluruh isinya berbicara tentang keesaan Allah, kesempurnaan-Nya, dan bahwa Dia tidak membutuhkan apa pun sedangkan segala sesuatu membutuhkan-Nya. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat ini adalah jawaban atas pertanyaan orang-orang tentang sifat Allah, sehingga ia menjadi ringkasan tauhid yang paling padat.

Kedua: Kecintaan kepada Allah dan sifat-Nya adalah tanda iman yang benar.

Sahabat tersebut berkata: "Karena ia adalah sifat Ar-Rahman, dan aku suka membacanya." Ini menunjukkan bahwa hatinya terikat kepada Allah melalui pemahaman dan kecintaan terhadap sifat-sifat-Nya. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa kecintaan kepada Allah adalah pokok ibadah, dan kecintaan itu tumbuh dari mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya.

Ketiga: Balasan sesuai jenis amal.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Katakan kepadanya bahwa Allah mencintainya." Ini adalah kabar gembira yang agung. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa siapa yang mencintai sesuatu karena Allah, maka Allah akan mencintainya, dan kecintaan Allah adalah puncak kebahagiaan seorang hamba.

Keempat: Tidak ada larangan mengkhususkan surat tertentu dalam shalat.

Para ulama dari daftar seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad menyebutkan bahwa membaca surat tertentu secara rutin dalam shalat diperbolehkan selama tidak meyakini bahwa surat lain tidak boleh dibaca. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya mengkhususkan surat Al-Ikhlas dalam shalat karena keutamaannya.

Kelima: Adab bertanya dan meneliti.

Rasulullah ﷺ tidak langsung menghukumi, tetapi memerintahkan untuk bertanya terlebih dahulu: "Tanyakan kepadanya mengapa ia melakukan itu." Ini mengajarkan adab dalam menilai perbuatan orang lain — mencari klarifikasi sebelum memberi penilaian. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah pelajaran tentang keadilan dan kelembutan dalam menilai.

Story Telling

Dikisahkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana dalam hadits ini — bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus seorang sahabat untuk memimpin sebuah pasukan kecil (sariyyah). Sahabat ini, ketika menjadi imam shalat bagi pasukannya, selalu membaca surat-surat Al-Qur'an, namun ia selalu mengakhiri bacaannya dengan surat Al-Ikhlas di setiap rakaat.

Ketika pasukan itu kembali dari tugasnya, mereka melaporkan kebiasaan imam mereka kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ tidak langsung menegur atau memuji, tetapi beliau bertanya: "Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukan hal itu?"

Maka sahabat itu pun ditanya. Dengan jujur dan penuh cinta ia menjawab: "Karena surat itu adalah sifat Ar-Rahman 'azza wa jalla, dan aku suka membacanya."

Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Katakan kepadanya bahwa Allah 'azza wa jalla mencintainya."

Betapa agungnya balasan ini — seorang hamba yang mencintai Allah melalui sifat-Nya, lalu Allah sendiri yang mengabarkan bahwa Dia mencintai hamba tersebut. Ibn Qayyim dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa ini adalah puncak dari hubungan antara hamba dan Rabb-nya: cinta yang berbalas.

Kesimpulan Praktis

  1. Rutinkan membaca surat Al-Ikhlas dalam shalat, terutama di rakaat terakhir atau sebagai penutup bacaan, karena ia adalah inti tauhid.
  2. Renungkan makna surat Al-Ikhlas — bahwa Allah itu Ahad (Maha Esa), Shamad (tumpuan segala sesuatu), tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.
  3. Tanamkan kecintaan kepada Allah melalui pemahaman nama dan sifat-Nya, karena kecintaan inilah yang akan membuahkan kecintaan Allah kepada kita.
  4. Bersikap lembut dan adil dalam menilai perbuatan orang lain — tanyakan dan cari klarifikasi sebelum menghukumi, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.
  5. Jangan ragu mengamalkan sunnah meskipun terlihat sederhana, karena bisa jadi amalan kecil itu menjadi sebab datangnya kecintaan Allah yang sangat besar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?