Penjelasan Hadits Nasa'i No. 936 tentang Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh cara bacaan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh cara bacaan (qira'at/sab'atu ahruf) yang semuanya benar dan berasal dari Allah. Umar bin Al-Khaththab awalnya mengingkari bacaan Hisyam bin Hakim karena berbeda dengan yang ia pelajari, namun Nabi ﷺ membenarkan keduanya. Ini mengajarkan kita adab dalam menyikapi perbedaan bacaan Al-Qur'an dan pentingnya merujuk kepada ahlinya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh:

  • Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Al-Iftitah, Bab "Mengumpulkan Apa yang Diterima dalam Al-Qur'an" (no. 936)
  • Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qiyamah [75]: 17-18

وَلَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ﴿١٦﴾ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ﴿١٨﴾

"Janganlah engkau menggerakkan lisanmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena ingin cepat (menghafalnya). Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu."

Kaitan dengan ulama:

  • Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) adalah perawi hadits ini dari Urwah bin Az-Zubair, dari Ibn Makhramah. Az-Zuhri adalah salah satu ulama Tabi'in yang paling kuat hafalannya dan menjadi rujukan dalam hadits-hadits tentang qira'at.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama tentang turunnya Al-Qur'an dengan tujuh huruf.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna sab'atu ahruf dan perbedaan pendapat ulama tentangnya.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits:

Hadits ini menceritakan peristiwa ketika Umar bin Al-Khaththab mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surah Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang diajarkan Nabi ﷺ kepadanya. Umar yang dikenal tegas langsung menegur dan bahkan menuduh Hisyam berdusta. Namun setelah keduanya dihadapkan kepada Nabi ﷺ, beliau membenarkan kedua bacaan tersebut dan menyatakan:

إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

"Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf (cara bacaan)."

Pemahaman Ulama:

1. Az-Zuhri meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang sangat kuat, menunjukkan betapa pentingnya peristiwa ini dalam memahami ilmu qira'at.

2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "tujuh huruf":

  • Sebagian mengatakan itu adalah tujuh dialek bahasa Arab (lahjah)
  • Sebagian mengatakan itu adalah tujuh macam bacaan yang berbeda
  • Pendapat yang paling kuat menurut Ibnu Hajar adalah bahwa itu adalah tujuh cara membaca yang Allah mudahkan untuk umat ini, yang semuanya benar dan tidak bertentangan dalam makna pokok

3. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah dari tujuh huruf ini adalah untuk memudahkan umat Islam yang berasal dari berbagai kabilah dengan dialek berbeda. Beliau juga menegaskan bahwa tidak boleh mengingkari bacaan yang mutawatir dari qira'at sab'ah.

4. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa perbedaan bacaan ini adalah rahmat dan kemudahan, bukan pertentangan. Semua qira'at yang mutawatir adalah wahyu dari Allah.

5. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan dengan tujuh huruf menunjukkan keluasan rahmat Allah dan kemudahan syariat-Nya.

Adab yang Diajarkan:

Hadits ini juga mengajarkan adab penting:

  • Umar awalnya mengingkari karena tidak tahu, namun segera merujuk kepada Nabi ﷺ
  • Nabi ﷺ tidak marah kepada Umar, tetapi mengajarkan dengan lembut
  • Kita tidak boleh terburu-buru mengingkari sesuatu yang belum kita ketahui ilmunya
  • Perbedaan dalam masalah qira'at yang mutawatir bukanlah perbedaan yang tercela

Story Telling

Dikisahkan bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, yang dikenal sangat tegas dalam membela kebenaran, suatu hari mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca Surah Al-Furqan dengan bacaan yang tidak ia kenali. Umar langsung menarik tangan Hisyam dan membawanya menghadap Rasulullah ﷺ.

Bayangkan suasana saat itu: Umar dengan penuh keyakinan melaporkan bahwa Hisyam membaca dengan cara yang tidak diajarkan Nabi ﷺ. Namun betapa terkejutnya Umar ketika Nabi ﷺ justru membenarkan bacaan Hisyam, dan kemudian membenarkan bacaan Umar juga.

Nabi ﷺ dengan penuh hikmah bersabda: "Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf." Umar pun terdiam dan menerima kebenaran. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa ilmu itu luas, dan kita harus merujuk kepada ahlinya sebelum mengingkari sesuatu.

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa peristiwa ini terjadi sebelum Nabi ﷺ wafat, dan menjadi dasar bagi para ulama qira'at dalam menetapkan bacaan-bacaan yang mutawatir.

Kesimpulan Praktis

  1. Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf yang semuanya benar dan berasal dari Allah, sebagai bentuk rahmat dan kemudahan bagi umat Islam.
  2. Jangan terburu-buru mengingkari bacaan atau pemahaman yang berbeda sebelum merujuk kepada ulama yang ahli.
  3. Adab dalam menyikapi perbedaan: Umar mengajarkan kita untuk tidak diam saja ketika melihat kemungkaran, tetapi juga untuk merujuk kepada ahlinya dengan cara yang baik.
  4. Mengikuti qira'at yang mutawatir: Bacaan Al-Qur'an yang kita gunakan hari ini (seperti qira'at 'Ashim riwayat Hafs) adalah bacaan yang mutawatir dan telah disepakati oleh para ulama.
  5. Menghormati ilmu qira'at: Pelajarilah Al-Qur'an dengan bimbingan guru yang sanadnya bersambung kepada Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?