Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa bersin di dalam shalat bukanlah hal yang membatalkan shalat, dan menjawabnya dengan memuji Allah adalah perbuatan yang sangat dicintai Allah ﷻ. Bahkan, pujian yang diucapkan oleh sahabat Rifa'ah bin Rafi' radhiyallahu 'anhu ini diangkat oleh lebih dari tiga puluh malaikat karena keikhlasan dan keagungan lafadznya. Hadits ini juga mengajarkan adab bahwa makmum tidak perlu mengeraskan suara di dalam shalat, namun jika ada keperluan seperti ini, tetap diperbolehkan dengan lafadz yang baik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sebutkan) diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Al-Iftitah (Pembukaan Shalat), Bab Qaulul Ma'mum Idza 'Athasa Khalfal Imam (Ucapan Makmum Jika Bersin di Belakang Imam), no. 931. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah dari jalur yang berbeda.
Dalil Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada penolong bagi-Nya dari kehinaan, dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.'" (QS. Al-Isra' [17]: 111)
Ayat ini menunjukkan keutamaan memuji Allah dengan lafadz yang baik, dan bahwa pujian kepada Allah adalah ibadah yang agung.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Syarh Sunan, di antaranya:
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarh Shahih al-Bukhari) menjelaskan tentang keutamaan dzikir dan pujian kepada Allah di dalam shalat.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan Syarh al-Arba'in menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang makmum mengucapkan pujian kepada Allah ketika bersin di dalam shalat, dan itu tidak membatalkan shalat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Hukum Bersin di Dalam Shalat dan Menjawabnya
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah bersepakat bahwa bersin di dalam shalat tidak membatalkan shalat. Jika seseorang bersin, ia dianjurkan untuk memuji Allah dengan lafadz yang ringan, seperti "Alhamdulillah" atau lafadz yang lebih panjang sebagaimana dalam hadits ini.
Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa menjawab bersin dengan memuji Allah di dalam shalat hukumnya boleh menurut jumhur ulama, dan tidak membatalkan shalat. Beliau menukil pendapat Imam asy-Syafi'i yang membolehkan hal ini, karena ini termasuk dzikir kepada Allah.
2. Keutamaan Lafadz Pujian yang Diucapkan Sahabat
Lafadz yang diucapkan oleh Rifa'ah bin Rafi' radhiyallahu 'anhu adalah:
"Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, mubarakan 'alaihi, kama yuhibbu rabbuna wa yardha."
Artinya: "Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan diberkahi, sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Tuhan kita."
Lafadz ini mengandung makna yang sangat dalam:
- "Hamdan katsiran" (pujian yang banyak) — menunjukkan pengakuan atas kebesaran nikmat Allah yang tak terhitung.
- "Thayyiban" (baik) — pujian yang keluar dari hati yang bersih dan lisan yang suci.
- "Mubarakan fihi" (diberkahi di dalamnya) — pujian yang membawa keberkahan bagi yang mengucapkannya.
- "Mubarakan 'alaihi" (diberkahi atasnya) — pujian yang Allah berkahi dan terima.
- "Kama yuhibbu rabbuna wa yardha" (sebagaimana yang dicintai dan diridhai Tuhan kami) — pujian yang sesuai dengan apa yang Allah cintai dan ridhai.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa pujian yang paling utama adalah pujian yang keluar dari hati yang ikhlas, dengan lafadz yang baik, dan mengandung pengagungan kepada Allah.
3. Makna "Tiga Puluh Lebih Malaikat"
Nabi ﷺ bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tiga puluh lebih malaikat bersegera untuk melihat siapa di antara mereka yang akan mengangkatnya."
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari lafadz pujian ini. Para malaikat berlomba-lomba untuk mengangkat amal ini kepada Allah ﷻ karena keikhlasan dan keagungan maknanya. Ini adalah bentuk penghormatan Allah kepada hamba-Nya yang berdzikir dengan pujian yang baik.
4. Adab Makmum di Dalam Shalat
Hadits ini juga menunjukkan bahwa ketika Nabi ﷺ bertanya, "Siapa yang berbicara dalam shalat?" — beliau tidak langsung menegur, tetapi menanyakan dengan lembut. Ini mengajarkan adab seorang imam kepada makmumnya: tidak terburu-buru menghakimi, tetapi bertanya dengan baik.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa pertanyaan Nabi ﷺ ini bukanlah bentuk kemarahan, tetapi untuk mengetahui apa yang diucapkan, karena beliau mendengar suara tersebut dan ingin memastikan apakah itu dzikir yang baik atau bukan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang bersin di dalam shalat, apakah ia boleh mengucapkan "Alhamdulillah"? Maka beliau menjawab: "Ya, boleh. Karena ini adalah dzikir kepada Allah, dan shalat adalah tempat dzikir."
Beliau kemudian menyebutkan hadits Rifa'ah bin Rafi' ini sebagai dalil. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan adab-adab di dalam shalat dan tidak mempersempit apa yang telah Allah ﷻ lapangkan.
Kisah lain, Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang seseorang yang berbicara di dalam shalat karena lupa atau karena kebutuhan mendesak. Beliau menjawab dengan lembut: "Shalat adalah ibadah yang agung, namun Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang penting, jangan dijadikan kebiasaan."
Kesimpulan Praktis
- Bersin di dalam shalat tidak membatalkan shalat, dan menjawabnya dengan memuji Allah adalah perbuatan yang baik dan dicintai Allah ﷻ.
- Lafadz pujian yang baik seperti yang diucapkan sahabat Rifa'ah radhiyallahu 'anhu memiliki keutamaan yang sangat besar, hingga diangkat oleh para malaikat.
- Adab seorang imam adalah bersikap lembut dan tidak terburu-buru menghakimi makmumnya.
- Adab seorang makmum adalah tidak mengeraskan suara di dalam shalat, namun jika ada keperluan seperti bersin, cukup dengan lafadz yang ringan dan tidak berlebihan.
- Hendaknya kita memperbanyak pujian kepada Allah dengan lafadz-lafadz yang baik dan penuh makna, baik di dalam maupun di luar shalat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.