Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 889 tentang Cara meletakkan tangan saat shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat An-Nasa'i no. 889 dari Wa'il bin Hujr ini menjelaskan tata cara shalat Nabi ﷺ secara rinci, khususnya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, pergelangan, dan lengan bawah saat berdiri dalam shalat. Hadits ini juga memuat sunnah mengangkat tangan saat takbir, ruku, dan bangkit dari ruku, serta cara duduk tasyahud dan berisyarat dengan jari telunjuk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu, dalam Sunan An-Nasa'i no. 889, dari jalur Sufyan bin 'Uyainah dan Abdullah bin al-Mubarak (keduanya termasuk ulama dalam daftar), dari 'Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr.

Ayat yang menjadi landasan umum perintah mengikuti Nabi ﷺ:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Ayat tentang kewajiban meneladani Nabi ﷺ:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Hadits pendukung — dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

النَّاسُ يَأْتَمُّونَ بِإِمَامِهِمْ

"Manusia itu mengikuti imam mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) — menunjukkan pentingnya mengetahui tata cara shalat Nabi ﷺ secara rinci.

Penjelasan Rinci

Pertama: Kedudukan hadits ini

Hadits Wa'il bin Hujr ini termasuk hadits yang sangat penting dalam bab sifat shalat Nabi ﷺ, karena Wa'il bin Hujr sengaja datang dan mengamati langsung shalat Nabi ﷺ untuk meniru beliau secara detail. Imam An-Nasa'i menempatkannya dalam Kitab Pembukaan (Ifititah), bab khusus tentang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Kedua: Makna "وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ" (pergelangan dan lengan bawah)

Dalam hadits ini, Wa'il bin Hujr menyebutkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan tangan kanan di atas:

  • كَفِّهِ الْيُسْرَى — telapak tangan kiri
  • الرُّسْغِ — pergelangan tangan kiri
  • السَّاعِدِ — lengan bawah kiri

Ini menunjukkan bahwa bukan hanya telapak tangan yang diletakkan, tetapi mencakup pergelangan dan sebagian lengan bawah. Ini adalah sunnah yang diamalkan dalam madzhab Syafi'i dan Hanbali, dan dikuatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal serta Ishaq bin Rahuyah.

Ketiga: Perbedaan pendapat ulama dalam daftar

Di antara ulama dalam daftar, terdapat dua pendapat tentang posisi tangan saat berdiri:

  1. Di bawah pusar — ini pendapat yang dipilih oleh Imam Abu Hanifah dan sebagian riwayat dari Imam Ahmad.
  2. Di atas dada — ini pendapat yang dipilih oleh Imam asy-Syafi'i dan dikuatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibn Hibban, serta Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim.

Ibn Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa yang paling kuat adalah meletakkan tangan di atas dada, berdasarkan hadits Wa'il bin Hujr dan hadits lainnya. Ibn Rajab al-Hanbali juga menguatkan hal ini dalam Fath al-Bari-nya.

Keempat: Faedah lain dari hadits ini

  • Mengangkat tangan saat takbir hingga sejajar telinga — ini adalah sunnah yang shahih dan diamalkan oleh Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Al-Bukhari.
  • Mengangkat tangan saat ruku dan bangkit dari ruku — juga termasuk sunnah yang ditetapkan.
  • Cara duduk tasyahud — duduk iftirasy (duduk di atas kaki kiri, kaki kanan tegak) dan meletakkan tangan di atas paha.
  • Berisyarat dengan jari telunjuk — Nabi ﷺ menggerakkan jari telunjuknya saat berdoa. Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan bahwa menggerakkan jari saat berdoa adalah sunnah yang dikuatkan oleh hadits ini.

Kelima: Sikap ulama daftar terhadap hadits ini

  • Imam An-Nasa'i meriwayatkannya dalam bab khusus, menunjukkan perhatian beliau pada detail tata cara shalat.
  • Abdullah bin al-Mubarak — salah satu perawi dalam sanad ini — adalah ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan sifat shalat Nabi ﷺ.
  • Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban memasukkan hadits ini dalam kitab shahih mereka, menunjukkan keshahihannya.
  • Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan hadits ini sebagai dalil meletakkan tangan di atas dada.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat dari Yaman — pernah berkata: "Saya akan benar-benar memperhatikan shalat Rasulullah ﷺ, bagaimana beliau shalat." Maka ia pun datang dan mengamati dengan seksama, lalu menceritakan apa yang dilihatnya secara rinci kepada para tabi'in.

Imam Abdullah bin al-Mubarak — yang meriwayatkan hadits ini — adalah seorang ulama yang dikenal sangat zuhud dan wara'. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih teliti dalam meriwayatkan hadits daripada Sufyan ats-Tsauri." Dan beliau sendiri adalah murid dari Sufyan ats-Tsauri, serta guru dari Imam Ahmad bin Hanbal. Ketelitian beliau dalam meriwayatkan hadits ini menunjukkan betapa pentingnya detail tata cara shalat Nabi ﷺ bagi para salaf.

Kesimpulan Praktis

  1. Letakkan tangan kanan di atas tangan kiri, pergelangan, dan lengan bawah saat berdiri dalam shalat — ini adalah sunnah yang shahih.
  2. Angkat tangan saat takbir, ruku, dan bangkit dari ruku hingga sejajar telinga.
  3. Duduk iftirasy saat tasyahud, dengan tangan di atas paha dan jari telunjuk berisyarat saat berdoa.
  4. Ikuti tata cara shalat Nabi ﷺ dengan mempelajari hadits-hadits shahih seperti hadits Wa'il bin Hujr ini.
  5. Bersikap lembut dalam perbedaan pendapat — ulama dalam daftar berbeda dalam posisi tangan (di bawah pusar atau di atas dada), namun semuanya sepakat bahwa meletakkan tangan adalah sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi