Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 846 tentang Kisah tertidurnya Nabi dan Bilal hingga matahari terbit

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang peristiwa ketika Rasulullah ﷺ dan para sahabat tertidur dan melewatkan waktu shalat Subuh dalam sebuah perjalanan. Pelajaran utamanya adalah bahwa ketika seseorang tertidur atau lupa sehingga terlewat dari shalat wajib, maka ia tetap harus mengerjakan shalat tersebut ketika ingat atau terbangun, dan tidak ada dosa baginya karena itu di luar kesengajaan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa adzan dan shalat qadha (mengganti) tetap disyariatkan, serta menjadi dalil bahwa shalat yang terlewat karena udzur tetap wajib diqadha.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

"Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

(QS. An-Nisa' [4]: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat memiliki waktu-waktu tertentu, namun jika seseorang terlewat karena udzur seperti tidur atau lupa, maka ia wajib mengqadhanya ketika ingat. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang tertidur melewatkan shalat atau lupa, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat." (HR. Muslim dari Anas bin Malik)

2. Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 846) dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib'i radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang semakna.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya mengqadha shalat yang terlewat karena tidur atau lupa, dan ini adalah kesepakatan para ulama.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam perjalanan menuju Khaibar, dan beliau menyebutkan bahwa para ulama mengambil dalil dari hadits ini tentang disyariatkannya adzan bagi shalat qadha.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, dan bahwa tidur bukanlah alasan untuk meninggalkan shalat secara sengaja.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Kehati-hatian Nabi ﷺ dalam menjaga shalat

Ketika para sahabat meminta beliau berhenti untuk beristirahat, Nabi ﷺ mengungkapkan kekhawatirannya bahwa mereka akan tertidur dan melewatkan shalat. Ini menunjukkan perhatian besar beliau terhadap shalat sebagai tiang agama. Namun ketika Bilal radhiyallahu 'anhu menawarkan diri untuk menjaga mereka, beliau pun menyetujuinya. Ini mengajarkan bahwa kita boleh bertawakal setelah melakukan ikhtiar, dan bahwa kekhawatiran yang wajar bukanlah berarti tidak boleh beristirahat.

2. Tidurnya para sahabat dan hikmah di baliknya

Mereka semua tertidur, termasuk Bilal yang berjanji akan menjaga. Ini menunjukkan bahwa hal tersebut terjadi di luar kesengajaan mereka. Allah ﷻ membiarkan mereka tidur hingga matahari terbit. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa peristiwa ini mengandung hikmah besar, yaitu untuk mengajarkan umat ini bagaimana cara mengqadha shalat yang terlewat, dan bahwa tidak ada dosa bagi yang tertidur.

3. Jawaban Nabi ﷺ yang menenangkan

Ketika Bilal merasa bersalah karena ketidurnya, Nabi ﷺ tidak memarahinya, tetapi justru menjelaskan bahwa hal itu terjadi atas kehendak Allah ﷻ. Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah mengambil jiwa kalian ketika Dia menghendaki dan mengembalikannya ketika Dia menghendaki." Ini adalah penjelasan yang sangat menenangkan, bahwa tidur adalah di luar kendali manusia. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tidur adalah salah satu bentuk wafat kecil, dan Allah ﷻ berkuasa penuh atas itu.

4. Disyariatkannya adzan untuk shalat qadha

Nabi ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan, lalu mereka berwudhu dan shalat berjamaah. Ini menunjukkan bahwa adzan tetap disunnahkan untuk shalat qadha, sebagaimana shalat pada waktunya. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang mengqadha shalat sendirian boleh mengumandangkan adzan dan iqamah, dan ini lebih utama.

5. Waktu pelaksanaan shalat qadha

Dalam hadits ini disebutkan bahwa mereka shalat setelah matahari terbit sepenuhnya. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang terlewat shalat karena tidur, ia tetap mengerjakannya ketika bangun, meskipun waktunya telah berlalu. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tidak ada larangan mengerjakan shalat qadha di waktu-waktu terlarang, karena qadha memiliki sebab sendiri.

6. Tidak ada dosa bagi yang terlewat karena udzur

Para ulama sepakat bahwa orang yang tertidur atau lupa tidak berdosa, karena Allah ﷻ berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

(QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Namun, mereka tetap wajib mengqadha shalat tersebut ketika ingat, berdasarkan perintah Nabi ﷺ dalam hadits riwayat Muslim: "Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur melewatkannya, maka kafaratnya adalah mengerjakannya ketika ia ingat."

Story Telling

Peristiwa ini terjadi dalam perjalanan menuju Khaibar. Para sahabat sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Ketika mereka meminta istirahat, Nabi ﷺ khawatir mereka akan terlewat shalat. Bilal dengan penuh percaya diri menawarkan diri untuk menjaga. Namun takdir Allah ﷻ berkata lain—Bilal pun tertidur.

Yang menarik, ketika Nabi ﷺ terbangun dan melihat matahari sudah terbit, beliau tidak marah. Beliau justru menenangkan Bilal dan para sahabat dengan menjelaskan bahwa Allah ﷻ yang mengatur tidur mereka. Kemudian beliau memerintahkan agar mereka pindah dari tempat tersebut, lalu berwudhu dan shalat.

Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa hikmah dipindahkannya mereka dari tempat tidur tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa tempat yang pernah digunakan untuk tidur dan melewatkan shalat tidaklah pantas untuk dijadikan tempat shalat, sebagai bentuk pengagungan terhadap shalat. Ini juga mengajarkan kita untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak berlama-lama dalam kelalaian.

Kisah ini mengajarkan bahwa kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya sangat besar. Beliau tidak pernah menyulitkan, tetapi selalu memberikan solusi terbaik. Ini juga mengajarkan bahwa ketika kita melakukan kesalahan karena kelalaian, yang terbaik adalah segera memperbaikinya tanpa berlarut-larut dalam penyesalan.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera qadha shalat yang terlewat karena tidur atau lupa, tanpa menunda-nunda.
  2. Tidak berdosa bagi yang terlewat karena udzur syar'i, tetapi wajib segera mengqadha.
  3. Disunnahkan adzan dan iqamah untuk shalat qadha, terutama jika dilakukan berjamaah.
  4. Jangan berputus asa ketika melakukan kesalahan karena kelalaian; segera perbaiki dan perbanyak istighfar.
  5. Meneladani kasih sayang Nabi ﷺ dalam menghadapi kesalahan orang lain, yaitu dengan menenangkan dan memberi solusi, bukan mencela.
  6. Bertawakal setelah berikhtiar — Bilal sudah berusaha menjaga, namun tetap tertidur. Ini mengajarkan bahwa hasil akhir tetap di tangan Allah ﷻ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.