Penjelasan Hadits Nasa'i No. 814 tentang Anjuran merapatkan dan merapikan barisan shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa merapikan dan merapatkan barisan shalat adalah perintah Nabi ﷺ yang sangat ditekankan sebelum shalat dimulai. Nabi ﷺ mengawasi langsung kerapian shaf para sahabat, bahkan beliau diberi kemampuan melihat mereka dari arah belakang. Ini menunjukkan betapa pentingnya kesempurnaan shaf dalam shalat berjamaah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan An-Nasa'i no. 814):

Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ menghadap kepada para sahabat sebelum takbir, lalu bersabda:

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

"Rapatkanlah barisan kalian dan dekatkanlah satu sama lain, karena aku dapat melihat kalian di belakang punggungku."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Ash-Shaff [61]: 4:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh."

Hadits pendukung — Shahih Al-Bukhari & Muslim:

Dari Anas رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda: "سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ" — "Ratakanlah shaf kalian, karena meratakan shaf termasuk kesempurnaan shalat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah merapatkan shaf bersifat sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan meninggalkannya mengurangi kesempurnaan shalat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memeriksa shaf karena shaf adalah bagian dari kesempurnaan berjamaah.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa merapatkan shaf mencakup bahu bertemu bahu dan kaki bertemu kaki, tanpa berlebihan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Nabi ﷺ menghadap para sahabat sebelum takbiratul ihram, lalu memerintahkan dua hal: (1) أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ — tegakkan/rapikan shaf, dan (2) تَرَاصُّوا — rapatkan dan dekatkan satu sama lain tanpa celah.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja menghadap jamaah sebelum takbir untuk memastikan shaf sudah rapi. Ini menunjukkan perhatian besar beliau terhadap kesempurnaan shalat berjamaah. Beliau juga menegaskan bahwa merapatkan shaf bukan sekadar anjuran, tetapi perintah yang harus diusahakan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa imam hendaknya memeriksa shaf sebelum memulai shalat, dan bahwa kerapian shaf adalah bagian dari adab shalat berjamaah.

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa "merapatkan" berarti menutup celah-celah kosong, sehingga setan tidak bisa masuk di antara shaf. Beliau juga menegaskan bahwa yang dimaksud merapatkan adalah bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.

Tentang "aku melihat kalian dari belakang punggungku":

Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah karamah (mukjizat) khusus Nabi ﷺ, di mana beliau dapat melihat para sahabat di belakangnya saat shalat. Sebagian ulama seperti Al-Bayhaqi menyebutkan bahwa ini adalah kekhususan Nabi ﷺ yang tidak dimiliki umatnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Sebagian (seperti Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah) menegaskan bahwa merapatkan shaf mencakup kaki dan bahu secara fisik.
  • Imam asy-Syafi'i menekankan pada meratanya shaf dan tidak ada celah, tanpa harus menempelkan kaki secara berlebihan.
  • Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah merapatkan bahu dan kaki sebagaimana hadits-hadits shahih lainnya, namun tetap dengan adab dan tidak menyakiti jamaah lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik رضي الله عنه — yang menjadi perawi hadits ini — adalah pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ selalu memperhatikan shaf sebelum shalat. Dalam riwayat lain, Anas menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: "Rapatkanlah shaf kalian, karena aku melihat kalian dari belakang punggungku." Anas juga menyebutkan bahwa para sahabat begitu patuh, sampai-sampai bahu mereka saling menempel dan kaki saling bertemu. Ini menunjukkan ketaatan sempurna para sahabat terhadap perintah Nabi ﷺ.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para sahabat memahami perintah ini dengan sangat serius, sehingga mereka benar-benar merapatkan shaf hingga tidak ada celah sedikit pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Rapikan shaf sebelum takbir — imam hendaknya memeriksa shaf dan mengingatkan jamaah.
  2. Rapatkan dan tutup celah — bahu dengan bahu, kaki dengan kaki, tanpa berlebihan.
  3. Jangan biarkan celah kosong — karena setan masuk di antara celah shaf.
  4. Imam bertanggung jawab — memastikan shaf rapi adalah bagian dari tugas imam.
  5. Kerapian shaf adalah kesempurnaan shalat — bukan sekadar formalitas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?