Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah anjuran agar para makmum maju dan merapat ke depan mengikuti imam, serta tidak suka mundur atau shaf di belakang. Ini menunjukkan keutamaan shaf pertama dan peringatan keras bagi yang sengaja mengakhirkan diri tanpa uzur. Intinya, umat Islam diperintahkan untuk bersemangat mendekat kepada imam dan mengisi shaf-shaf depan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Al-Imamah, Bab "Mengimami Orang yang Mengikuti Imam" (no. 795), dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Ash-Shalah, Bab "Perintah Merapatkan Shaf" (no. 438), dari Abu Sa'id Al-Khudri dengan lafaz yang serupa.
Teks Arab Hadits (sebagaimana dalam riwayat An-Nasa'i):
أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ حَيَّانَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا فَقَالَ: "تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ".
Makna ringkas: Rasulullah ﷺ melihat para sahabat cenderung mundur ke belakang, maka beliau bersabda: "Majulah kalian, dan ikutilah aku (dengan berada di belakangku), dan hendaklah orang-orang yang di belakang kalian mengikuti kalian. Tidaklah suatu kaum terus-menerus mengakhirkan diri (dari shaf depan) melainkan Allah akan mengakhirkan mereka (dari rahmat-Nya)."
Kaitan dengan ulama: Hadits ini dijelaskan oleh para ulama dari kalangan yang kami rujuk, di antaranya:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (juz 4, hlm. 157) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perintah untuk maju ke shaf depan dan larangan mengakhirkan diri tanpa uzur.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (juz 2, hlm. 210) saat menjelaskan hadits-hadits tentang shaf, beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna "dikhirkan oleh Allah" adalah dijauhkan dari rahmat dan kebaikan-Nya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (juz 3, hlm. 345) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shaf pertama dan anjuran bersegera ke masjid untuk mendapatkan shaf depan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Perintah Maju ke Shaf Depan
Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk maju dan tidak mundur. Ini menunjukkan bahwa shaf yang paling utama adalah yang paling dekat dengan imam. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada panggilan shalat dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi." (HR. Al-Bukhari no. 615, Muslim no. 437)
2. Makna "Mengikuti Imam"
Sabda beliau "فَأْتَمُّوا بِي" (maka ikutilah aku) memiliki dua makna yang disebutkan oleh para ulama:
- Pertama: Hendaknya kalian berada di belakangku secara langsung, sehingga kalian benar-benar mengikuti gerakanku dengan jelas.
- Kedua: Hendaknya kalian menjadikan aku sebagai imam yang diikuti, dan kalian adalah makmum yang berada di belakangku.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (juz 2, hlm. 210) menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan sunnahnya imam berada di depan dan makmum di belakangnya, serta makmum tidak boleh sejajar atau mendahului imam.
3. Peringatan Keras bagi yang Sengaja Mengakhirkan Diri
Sabda beliau: "Tidaklah suatu kaum terus-menerus mengakhirkan diri melainkan Allah akan mengakhirkan mereka" — para ulama menafsirkan "diakhirkan oleh Allah" dengan beberapa makna:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (juz 4, hlm. 157) mengatakan: "Maknanya adalah Allah akan mengakhirkan mereka dari rahmat-Nya, kebaikan-Nya, dan derajat yang tinggi. Ini adalah ancaman yang sangat keras bagi orang yang suka mengakhirkan diri dari shaf pertama padahal tidak ada uzur."
- Al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh Imam An-Nawawi) mengatakan: "Bisa juga maknanya adalah Allah akan mengakhirkan mereka di hari kiamat dan menjauhkan mereka dari derajat orang-orang yang beriman."
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (juz 3, hlm. 345) menjelaskan: "Ini adalah ancaman yang sangat keras. Barangsiapa yang suka mengakhirkan diri dari kebaikan, maka Allah akan mengakhirkan dia dari kebaikan tersebut. Dan barangsiapa yang suka maju dalam kebaikan, maka Allah akan memajukannya."
4. Hikmah di Balik Anjuran Ini
Para ulama menyebutkan hikmahnya antara lain:
- Shaf depan lebih dekat dengan imam sehingga lebih khusyuk dan lebih jelas mengikuti gerakan imam.
- Shaf depan lebih utama karena lebih dekat dengan kiblat dan lebih dekat dengan imam.
- Mengisi shaf depan menunjukkan semangat dalam kebaikan dan cinta kepada shalat berjamaah.
5. Pengecualian bagi yang Memiliki Uzur
Para ulama mengecualikan orang yang memiliki uzur syar'i seperti sakit, lanjut usia, atau kondisi yang menghalanginya untuk berada di shaf depan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (juz 2, hlm. 211) menjelaskan bahwa larangan ini ditujukan bagi orang yang mampu tetapi sengaja mengakhirkan diri tanpa uzur.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Para sahabat Rasulullah ﷺ apabila masuk masjid dan melihat shaf pertama telah penuh, maka sebagian mereka menangis karena tidak mendapatkan keutamaan shaf pertama." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dengan sanad yang shahih)
Ini menunjukkan betapa besarnya semangat para salaf dalam meraih keutamaan shaf pertama. Mereka bersedih apabila tidak mendapatkannya, karena mereka memahami betul sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan shaf pertama dan ancaman bagi yang mengakhirkan diri.
Kesimpulan Praktis
- Bersegeralah ke masjid agar bisa mendapatkan shaf pertama dan kedua.
- Jangan sengaja mundur atau memilih shaf belakang padahal shaf depan masih kosong, kecuali ada uzur syar'i.
- Isilah shaf dari depan secara berurutan, jangan langsung mengisi shaf belakang.
- Rapatkan dan luruskan shaf, karena merapatkan shaf termasuk kesempurnaan shalat berjamaah.
- Jadikan semangat ini sebagai latihan untuk bersegera dalam kebaikan-kebaikan lainnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.