Penjelasan Hadits Nasa'i No. 728 tentang Larangan meludah ke arah kiblat di masjid

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya kehormatan arah kiblat dan masjid dalam Islam. Rasulullah ﷺ marah ketika melihat ludah di arah kiblat karena itu bentuk merendahkan tempat ibadah. Ketika seorang wanita Anshar membersihkannya dan menggantinya dengan wewangian, beliau memuji perbuatannya. Pelajarannya: menjaga kebersihan dan kehormatan masjid adalah bagian dari iman dan adab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Masjid, Bab Takhliq Masjid (no. 728), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.

Teks hadits:

أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ حَدَّثَنَا عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَغَضِبَ حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَحَكَّتْهَا وَجَعَلَتْ مَكَانَهَا خَلُوقًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَا أَحْسَنَ هَذَا "

Terjemahan: Anas bin Malik berkata: "Rasulullah ﷺ melihat ludah di arah kiblat masjid, lalu beliau marah hingga wajahnya memerah. Kemudian seorang wanita dari Anshar berdiri, menggosoknya, dan menaruh wewangian (khaluq) di tempatnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Betapa bagusnya ini.'"

Dalil Al-Qur'an tentang kehormatan masjid:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

QS. Al-Hajj [22]: 32

"Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini mencakup mengagungkan masjid, kiblat, dan segala yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah. As-Sa'di menambahkan bahwa mengagungkan syiar Allah adalah tanda hati yang bersih dan penuh takwa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

Pertama: Kemuliaan arah kiblat. Arah kiblat adalah tempat menghadapnya hati dan wajah seorang hamba kepada Allah. Karena itu, meludah ke arah kiblat termasuk perbuatan yang sangat tidak pantas. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa larangan meludah ke arah kiblat berlaku baik di dalam masjid maupun di luar masjid, karena kiblat adalah arah yang dimuliakan.

Kedua: Kemarahan Nabi ﷺ karena Allah. Wajah beliau memerah bukan karena kepentingan pribadi, melainkan karena kehormatan syiar Allah direndahkan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa marah karena Allah adalah tanda keimanan yang kuat, dan itu berbeda dengan marah karena hawa nafsu.

Ketiga: Peran wanita Anshar. Seorang wanita dari Anshar segera bertindak tanpa menunggu perintah. Ia menggosok ludah itu dan menggantinya dengan khaluq (wewangian). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini menunjukkan semangat para sahabat, termasuk kaum wanita, dalam kebaikan dan menjaga masjid.

Keempat: Pujian Nabi ﷺ. Sabda beliau "مَا أَحْسَنَ هَذَا" (betapa bagusnya ini) menunjukkan bahwa memperbaiki dan memperindah masjid adalah amal yang dicintai Allah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memuji perbuatan tersebut karena mengandung maslahat: menghilangkan kotoran dan menambah keharuman tempat ibadah.

Kelima: Adab di masjid. Hadits ini juga mengajarkan agar kita tidak meludah di masjid, apalagi ke arah kiblat. Jika terpaksa, hendaknya menutupinya atau membersihkannya. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan bahwa menjaga kebersihan masjid adalah kewajiban kolektif umat.

Story Telling

Anas bin Malik رضي الله عنه, yang menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, menceritakan peristiwa ini dengan detail. Beliau melihat sendiri bagaimana wajah Nabi ﷺ memerah karena marah. Namun kemarahan itu segera berubah menjadi pujian ketika seorang wanita Anshar bangkit membersihkan kotoran itu dan menggantinya dengan wewangian.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin adalah orang yang cepat dalam kebaikan, tidak menunggu disuruh. Itulah gambaran wanita Anshar ini. Ia tidak berkata "nanti saja" atau "biar orang lain yang membersihkan", tetapi langsung bertindak. Dan Nabi ﷺ menghargai perbuatannya dengan pujian yang tulus.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menyebutkan bahwa pujian Nabi ﷺ terhadap perbuatan kecil yang ikhlas menunjukkan bahwa amal yang tampak sederhana bisa bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan dengan niat yang benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga kehormatan masjid dan kiblat. Jangan meludah, membuang kotoran, atau melakukan hal yang merendahkan tempat ibadah.
  2. Bersegera dalam kebaikan. Jangan menunggu orang lain untuk membersihkan atau memperbaiki masjid.
  3. Marah karena Allah, bukan karena hawa nafsu. Kemarahan yang benar adalah ketika syiar Allah direndahkan.
  4. Hargai kebaikan orang lain. Nabi ﷺ memuji perbuatan baik, walau dilakukan oleh seorang wanita biasa.
  5. Perindah masjid dengan kebersihan dan keharuman. Ini bagian dari mengagungkan syiar Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?