Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab penting saat shalat: kita dilarang meludah ke arah kiblat (depan) atau ke arah kanan, karena kedua arah itu mulia dan arah kiblat adalah arah menghadap Allah. Jika terpaksa, hendaklah meludah ke arah kiri atau ke bawah kaki kiri. Nabi ﷺ sendiri langsung menegur dan membersihkan ludah yang beliau lihat di dinding kiblat masjid.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Masjid, Bab Larangan Nabi ﷺ untuk Meludah di Depan atau di Kanan Saat Shalat (no. 725), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَحَكَّهَا بِحَصَاةٍ وَنَهَى أَنْ يَبْصُقَ الرَّجُلُ بَيْنَ يَدَيْهِ أَوْ عَنْ يَمِينِهِ وَقَالَ " يَبْصُقُ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ الْيُسْرَى "
Terjemahan: Qutaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Humayd bin Abdurrahman, dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Nabi ﷺ melihat ludah di arah kiblat masjid, lalu beliau menggaruknya dengan kerikil dan melarang seseorang meludah ke depan atau ke kanannya. Beliau bersabda: "Hendaklah ia meludah ke kiri atau di bawah kaki kirinya."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab menghadap Allah dan menjaga kesucian:
QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya."
Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khusyuk mencakup menjaga adab lahir dan batin saat shalat, termasuk tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kekhusyukan seperti meludah ke arah kiblat. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa larangan ini bagian dari menjaga adab terhadap Allah dan masjid.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Larangan meludah ke arah kiblat dan ke kanan
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa arah kiblat adalah arah yang paling mulia karena seorang hamba sedang menghadap Rabb-nya. Meludah ke arah itu termasuk perbuatan tidak sopan terhadap Allah. Adapun arah kanan, para ulama menjelaskan bahwa kanan adalah arah yang dimuliakan dalam Islam — Nabi ﷺ menyukai memulai dari kanan dalam banyak perkara, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. Karena itu, meludah ke kanan dilarang.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa larangan ini berlaku baik di dalam shalat maupun di luar shalat selama berada di masjid, dan lebih ditekankan lagi saat shalat. Beliau juga menyebutkan hikmah larangan: karena malaikat berada di sisi kanan, dan karena kanan adalah arah yang baik untuk hal-hal yang mulia.
2. Perbuatan Nabi ﷺ menggaruk ludah dengan kerikil
Nabi ﷺ tidak hanya melarang, tetapi langsung bertindak membersihkan ludah tersebut. Ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Fathul Bari (kitabnya) menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ ini mengandung pelajaran tentang kepemimpinan yang baik: seorang pemimpin harus menjadi teladan dalam kebaikan, bukan hanya memerintah.
3. Alternatif: meludah ke kiri atau ke bawah kaki kiri
Jika seseorang benar-benar perlu meludah saat shalat, maka hendaklah ke arah kiri atau ke bawah kaki kiri. Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa arah kiri adalah arah yang lebih rendah dan tidak dimuliakan seperti kanan, sehingga lebih pantas untuk hal-hal yang tidak baik. Adapun meludah ke bawah kaki kiri, ini adalah pilihan terakhir jika tidak memungkinkan ke kiri.
4. Perbedaan pendapat di kalangan ulama
Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa larangan ini bersifat umum, baik di masjid maupun di luar masjid saat shalat. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menekankan larangan ini khusus di masjid. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah larangan ini berlaku saat shalat secara umum, dan lebih ditekankan lagi di dalam masjid, karena keumuman hadits.
5. Kaitan dengan khusyuk dalam shalat
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat khusyuk (QS. Al-Mu'minun: 2) menjelaskan bahwa khusyuk mencakup menjaga anggota badan dari perbuatan yang tidak pantas. Meludah ke arah kiblat saat shalat jelas mengurangi kekhusyukan dan adab terhadap Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ sedang berada di masjid bersama para sahabat. Beliau melihat ada ludah yang menempel di dinding arah kiblat. Wajah beliau berubah karena tidak suka — sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain — lalu beliau mengambil kerikil dan menggaruk ludah itu hingga bersih. Kemudian beliau bersabda kepada para sahabat: "Sesungguhnya salah seorang dari kalian ketika shalat sedang bermunajat kepada Rabb-nya, maka janganlah ia meludah ke arah kiblat, karena Allah ada di hadapannya." (Makna hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan lainnya).
Para sahabat pun memahami bahwa masjid adalah rumah Allah, dan adab di dalamnya harus dijaga. Abu Sa'id Al-Khudri — perawi hadits ini — adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang adab dan ibadah, dan beliau dikenal sangat menjaga sunnah Nabi ﷺ.
Hikmah: Islam mengajarkan adab yang sangat halus, bahkan dalam hal yang tampak kecil seperti meludah. Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim harus menjaga kebersihan, kesopanan, dan kesadaran bahwa ia sedang berada di hadapan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meludah ke arah kiblat (depan) atau ke kanan saat shalat, baik di masjid maupun di tempat lain.
- Jika terpaksa meludah, hendaklah ke arah kiri atau ke bawah kaki kiri.
- Jaga kebersihan masjid — jika melihat kotoran, bersihkanlah sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
- Tanamkan rasa khusyuk dengan menyadari bahwa kita sedang menghadap Allah saat shalat.
- Teladani Nabi ﷺ yang tidak hanya melarang, tetapi juga langsung bertindak membersihkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.