Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bagaimana Abu Mahdhurah—yang awalnya mengejek adzan kaum Muslimin—justru kemudian dipilih oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi muazin tetap di Masjidil Haram karena suaranya yang indah. Hadits ini mengajarkan bahwa adzan adalah syiar agung Islam, bahwa suara indah dalam adzan adalah karunia yang dianjurkan, dan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan lafazh adzan serta iqamah secara langsung. Hadits ini juga menunjukkan betapa lembutnya Nabi ﷺ terhadap orang yang awalnya mengejek, lalu membimbingnya dengan kasih sayang.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ma'idah [5]: 58
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Terjemahan: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Adzan, Bab Adzan dalam Perjalanan (no. 633). Perawi sahabat: Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu. Jalur periwayatan melalui Utsman bin As-Sa'ib dari ayahnya dan dari Ummu Abdul Malik bin Abu Mahdhurah, keduanya mendengar langsung dari Abu Mahdhurah.
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Muslim bin Al-Hajjaj dalam Shahih-nya (Kitab Ash-Shalah, Bab Adzan), dan oleh Abu Dawud as-Sijistani, At-Tirmidzi, serta Ibnu Majah—semuanya meriwayatkan kisah Abu Mahdhurah ini dengan lafazh yang beragam namun maknanya saling menguatkan.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits Abu Mahdhurah ini adalah dalil bahwa adzan terdiri dari kalimat yang diulang (tarji' dan takbir empat kali di awal), dan beliau menegaskan bahwa suara indah dalam adzan adalah perkara yang disunnahkan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang yang awalnya bukan muazin menjadi muazin tetap setelah dipilih oleh pemimpin, dan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang menetapkan Abu Mahdhurah sebagai muazin di Masjidil Haram.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menukil hadits ini sebagai dalil bahwa adzan Subuh memiliki tambahan "Ash-shalatu khairun minan-naum" (shalat lebih baik daripada tidur), dan bahwa iqamah dilafazhkan dengan kalimat yang diulang dua kali kecuali takbir dan tahlil di akhir.
Penjelasan Rinci
Latar belakang kisah:
Abu Mahdhurah adalah seorang pemuda dari penduduk Makkah. Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Perang Hunain (8 H), beliau melewati suatu tempat dan para sahabat mengumandangkan adzan. Abu Mahdhurah bersama sepuluh pemuda Makkah saat itu belum masuk Islam—mereka mengikuti rombongan Nabi ﷺ dengan maksud tertentu, lalu ketika mendengar adzan, mereka menirukan adzan tersebut untuk mengejek. Namun Rasulullah ﷺ mendengar di antara mereka ada suara yang indah, dan beliau tidak marah. Sebaliknya, beliau memanggil mereka dan meminta mereka adzan satu per satu.
Pemahaman ulama tentang hadits ini:
Pertama, tentang suara indah dalam adzan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa disunnahkan memilih muazin yang bersuara indah dan lantang, karena adzan adalah seruan untuk mengumpulkan manusia, dan suara yang indah lebih menarik hati. Ibnu Hajar menambahkan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang memperhatikan keindahan suara Abu Mahdhurah menunjukkan bahwa kualitas suara adalah pertimbangan syar'i dalam memilih muazin, bukan sekadar perkara duniawi.
Kedua, tentang lafazh adzan. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengajarkan adzan dengan takbir empat kali di awal, kemudian syahadat dua kali, lalu syahadat dua kali lagi (tarji'), kemudian hayya 'alash-shalah dua kali, hayya 'alal-falah dua kali, dan pada adzan Subuh ditambah "Ash-shalatu khairun minan-naum" dua kali. Ini adalah salah satu bentuk lafazh adzan yang shahih. Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayatnya menguatkan lafazh ini. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik memiliki lafazh yang sedikit berbeda dalam jumlah takbir awal (dua kali), namun semuanya shahih dan boleh diamalkan. Yang paling kuat menurut dalil adalah apa yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini, yaitu takbir empat kali.
Ketiga, tentang iqamah. Nabi ﷺ mengajarkan iqamah dengan kalimat yang diulang dua kali, kecuali takbir di akhir dan tahlil. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, serta dikuatkan oleh Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat iqamah sama seperti adzan (satu kali satu kali), dan Imam Malik berpendapat iqamah juga dua kali namun tanpa tarji'. Perbedaan ini adalah perbedaan yang mu'tabar (diakui) di antara para ulama, dan semuanya memiliki dalil.
Keempat, tentang sikap Nabi ﷺ terhadap orang yang mengejek. Ini adalah pelajaran akhlak yang sangat agung. Para pemuda itu mengejek adzan, namun Nabi ﷺ tidak menghukum mereka, tidak mencela mereka, bahkan memanggil mereka dengan lembut dan mengajarkan mereka. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kelembutan Nabi ﷺ inilah yang menyebabkan hati Abu Mahdhurah terbuka untuk Islam. Ini adalah metode dakwah yang penuh hikmah: membalas keburukan dengan kebaikan.
Kelima, tentang mengusap ubun-ubun dan mendoakan. Nabi ﷺ mengusap ubun-ubun Abu Mahdhurah dan mendoakannya tiga kali. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menyebutkan bahwa berkah dari usapan dan doa Nabi ﷺ ini terlihat pada keturunan Abu Mahdhurah yang kemudian menjadi muazin-muazin di Masjidil Haram secara turun-temurun. Ini menunjukkan bahwa doa Nabi ﷺ mustajab dan bahwa keberkahan bisa mengalir melalui sentuhan dan doa beliau.
Keenam, tentang adzan di Masjidil Haram. Nabi ﷺ menetapkan Abu Mahdhurah sebagai muazin tetap di Masjidil Haram. Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' mencatat bahwa Abu Mahdhurah dan keturunannya menjadi muazin di Masjidil Haram selama beberapa generasi. Ini menunjukkan bahwa adzan di Masjidil Haram memiliki keutamaan khusus, dan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang menetapkan orang untuk tugas mulia ini.
Story Telling
Alkisah, setelah Perang Hunain yang penuh kemenangan, Rasulullah ﷺ kembali menuju Makkah. Di tengah perjalanan, para sahabat mengumandangkan adzan. Suara adzan itu bergema di lembah, memanggil manusia untuk menghadap Allah.
Di kejauhan, sepuluh pemuda Makkah yang belum beriman mendengar suara itu. Mereka bukan hendak menyambut, tetapi hendak mengejek. Mereka menirukan adzan dengan nada olok-olok, berusaha merendahkan syiar Islam.
Namun Rasulullah ﷺ—yang hatinya penuh kasih—bukan marah. Beliau justru berhenti dan mendengarkan. Di antara suara-suara olok-olok itu, beliau menangkap sesuatu yang berbeda: ada suara yang indah, jernih, dan menggema. "Aku mendengar di antara mereka adzan seseorang yang bagus suaranya," kata beliau.
Beliau pun memanggil para pemuda itu. Satu per satu diminta adzan. Ketika giliran Abu Mahdhurah—pemuda terakhir—mengumandangkan adzan, suaranya memenuhi udara dengan keindahan yang membuat Nabi ﷺ tersenyum. Beliau memanggilnya mendekat, duduk di hadapannya, mengusap ubun-ubunnya dengan tangan penuh berkah, dan mendoakannya tiga kali.
"Pergilah," kata Nabi ﷺ, "dan kumandangkan adzan di Baitullah."
Abu Mahdhurah tertegun. Hatinya yang keras meleleh. Ia bertanya, "Bagaimana caranya, ya Rasulullah?" Maka Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya lafazh adzan dan iqamah dengan penuh kesabaran, kalimat demi kalimat, hingga ia hafal.
Sejak hari itu, Abu Mahdhurah menjadi muazin Masjidil Haram. Dan doa Nabi ﷺ itu terus mengalir: keturunannya menjadi muazin-muazin di Baitullah selama generasi demi generasi. (Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah dan Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala').
Hikmahnya: betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak membalas ejekan dengan kemarahan, tetapi dengan kelembutan yang mengubah hati. Dan betapa besar keberkahan doa beliau—satu usapan di ubun-ubun, satu doa yang tulus, mengubah seorang pengejek menjadi muazin Baitullah dan mengalirkan keberkahan kepada keturunannya.
Kesimpulan Praktis
- Adzan adalah syiar agung Islam — jangan pernah meremehkan atau mengejeknya, karena ia adalah seruan kepada Allah.
- Suara indah dalam adzan adalah karunia — dianjurkan bagi muazin untuk memperindah suaranya, dan bagi yang memilih muazin untuk mempertimbangkan kualitas suara.
- Lafazh adzan yang diajarkan Nabi ﷺ — takbir empat kali, syahadat dua kali dengan tarji', hayya 'alash-shalah dan hayya 'alal-falah dua kali, dan pada Subuh ditambah "Ash-shalatu khairun minan-naum".
- Iqamah — dilafazhkan dengan kalimat yang diulang dua kali, kecuali takbir dan tahlil di akhir.
- Kelembutan dalam dakwah — balaslah keburukan dengan kebaikan, sebagaimana Nabi ﷺ membalas ejekan dengan doa dan pengajaran.
- Doa dan usapan Nabi ﷺ penuh berkah — dan keberkahan orang shalih bisa mengalir kepada keturunannya.
- Hendaklah kita memuliakan muazin — karena mereka adalah orang-orang yang mengumandangkan seruan agung kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.