Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bagaimana Abu Mahdhurah—seorang pemuda yang mulanya mengejek dan meniru suara muadzin—justru kemudian dipanggil Rasulullah ﷺ, diajari lafazh adzan langsung oleh beliau, dan akhirnya diangkat menjadi muadzin tetap di Makkah. Pelajaran utamanya: adzan adalah syiar agung Islam yang lafazhnya diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, dan siapa pun yang bertaubat serta memperbaiki diri bisa diangkat derajatnya oleh Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, karena boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan..."
Ayat ini menjadi teguran umum bagi perbuatan mengejek yang dilakukan Abu Mahdhurah dan kawan-kawannya terhadap muadzin Rasulullah ﷺ.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Adzan, Bab Adzan dalam Perjalanan (no. 632). Perawi sahabatnya adalah Abu Mahdhurah (radhiyallahu 'anhu), dan jalur periwayatannya melalui Abdullah bin Muhairiz yang dibesarkan dalam asuhan Abu Mahdhurah.
Hadits ini juga memiliki riwayat pendukung dalam Shahih Muslim dari jalur Abu Mahdhurah, yang menegaskan bahwa lafazh adzan memang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits Abu Mahdhurah ini adalah dalil utama lafazh adzan yang disyariatkan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan adzan diajarkan secara langsung (talaqqi) dari Nabi ﷺ, bukan hasil ijtihad sahabat.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menempatkan hadits ini sebagai rujukan utama sifat adzan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
1. Konteks peristiwa. Abu Mahdhurah menceritakan bahwa ia bersama beberapa pemuda berada di jalan pulang dari Hunain. Ketika muadzin Rasulullah ﷺ mengumandangkan adzan, mereka justru meniru dan mengejeknya. Ini menunjukkan bahwa sebelum masuk Islam secara mantap, mereka masih jahil terhadap syiar agama.
2. Teguran yang lembut. Ketika Nabi ﷺ mendengar suara yang meninggi, beliau tidak langsung menghukum. Beliau memanggil mereka, bertanya siapa yang bersuara, lalu melepaskan yang lain dan hanya menahan Abu Mahdhurah. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menghukum secara massal, tetapi memilih satu orang untuk dididik. Inilah manhaj tarbiyah Nabi ﷺ: menegur dengan lembut, tidak mempermalukan di depan orang banyak.
3. Pengajaran adzan secara langsung. Nabi ﷺ berkata: "Berdirilah, kumandangkan adzan." Lalu beliau sendiri yang mengajarkan lafazhnya. Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, ini menunjukkan bahwa lafazh adzan bersifat tauqifi (ditetapkan oleh syariat), bukan hasil kreasi manusia. Karena itu para ulama—termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik—berpegang pada lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
4. Perbedaan pendapat tentang jumlah takbir. Dalam hadits ini, lafazh adzan dimulai dengan takbir empat kali ("Allahu Akbar" empat kali), lalu dua syahadat, lalu dua syahadat Rasul, lalu dua hayya 'alas-shalah, dua hayya 'alal-falah, lalu takbir dua kali, lalu tahlil sekali. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpegang pada lafazh ini. Imam Abu Hanifah berpegang pada lafazh lain yang juga shahih (takbir empat kali di awal, dan seterusnya). Imam Malik berpegang pada lafazh dengan tarji' (mengulang syahadat dengan suara rendah lalu keras). Perbedaan ini adalah perbedaan tanawwu' (variasi) yang dibolehkan, karena semua lafazh tersebut shahih dari Nabi ﷺ.
5. Perintah "irji' famdud shautak" (ulangi dan keraskan suaramu). Ini menunjukkan bahwa adzan harus dikumandangkan dengan suara yang lantang dan jelas, karena tujuannya adalah memberitahu orang banyak. Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa mengeraskan suara adzan adalah sunnah yang disepakati.
6. Pemberian hadiah perak. Setelah selesai adzan, Nabi ﷺ memberi Abu Mahdhurah sekantong perak. Ini menunjukkan bahwa muadzin boleh menerima upah atau hadiah, dan bahwa Nabi ﷺ menghargai orang yang melayani syiar agama. Namun para ulama—termasuk Imam An-Nawawi—menjelaskan bahwa yang lebih utama adalah mengharap pahala dari Allah, dan upah hanya sebagai penghibur.
7. Pengangkatan sebagai muadzin Makkah. Abu Mahdhurah meminta kepada Nabi ﷺ agar diizinkan adzan di Makkah, dan Nabi ﷺ menyetujuinya. Ia kemudian adzan bersama 'Attab bin Asid, gubernur Makkah. Ini menunjukkan bahwa adzan di kota suci Makkah memiliki keutamaan tersendiri, dan bahwa Nabi ﷺ menetapkan muadzin tetap untuk kota tersebut.
Story Telling
Alkisah, seorang pemuda bernama Abu Mahdhurah bersama kawan-kawannya sedang dalam perjalanan pulang dari Hunain. Mereka mendengar suara muadzin Rasulullah ﷺ yang lantang memanggil orang untuk shalat. Bukannya menghormati, mereka justru menirukan dan mengejek suara itu dengan nada olok-olok.
Namun Rasulullah ﷺ—yang hatinya penuh kasih—tidak marah. Beliau memanggil mereka, bertanya siapa yang bersuara keras, lalu melepaskan semua kecuali Abu Mahdhurah. Beliau lalu berkata: "Berdirilah, kumandangkan adzan." Abu Mahdhurah berdiri dengan gemetar, dan Nabi ﷺ sendiri yang mengajarinya lafazh adzan, kata demi kata, dengan penuh kesabaran.
Setelah selesai, Nabi ﷺ memberinya sekantong perak. Abu Mahdhurah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, perintahkan aku adzan di Makkah." Nabi ﷺ menjawab: "Aku telah memerintahkanmu untuk itu."
Sejak hari itu, pemuda yang dulunya mengejek adzan, berubah menjadi muadzin tetap di kota Makkah—kota yang paling mulia di bumi. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kisah ini adalah bukti bahwa taubat yang tulus dapat mengangkat derajat seseorang, dan bahwa didikan Nabi ﷺ mampu mengubah ejekan menjadi pengabdian.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mengejek syiar agama, termasuk adzan, karena itu adalah tanda keimanan yang lemah dan bisa mendatangkan teguran Allah.
- Adzan adalah ibadah tauqifi—lafazhnya harus mengikuti yang diajarkan Nabi ﷺ, bukan dikarang sendiri.
- Bertaubatlah dengan tulus, karena siapa pun yang memperbaiki diri bisa diangkat derajatnya oleh Allah, seperti Abu Mahdhurah.
- Hormati muadzin dan hargai orang yang melayani syiar Islam.
- Bagi yang ingin menjadi muadzin, hendaklah mengeraskan suara, mengumandangkan dengan jelas, dan mengharap pahala dari Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.