Penjelasan Hadits Nasa'i No. 629 tentang Tata cara adzan dengan suara rendah pada syahadat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ mengajarkan adzan kepadanya secara langsung, huruf demi huruf. Dalam adzan tersebut, kalimat syahadat diucapkan dua kali dengan suara yang lebih rendah (untuk didengar orang di sekitar), lalu diulang lagi dalam bagian yang lebih keras. Ini menunjukkan bahwa adzan memiliki susunan tertentu, dan sebagian kalimat dilafalkan dengan suara yang lebih pelan sebagai bagian dari sunnah adzan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini terdapat dalam Sunan An-Nasa'i no. 629, Kitab Adzan, Bab Menurunkan Suara dalam Adzan. Perawi: Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (sebagaimana disebutkan):

أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ، قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ، - وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ - قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ الْعَزِيزِ، وَجَدِّي عَبْدُ الْمَلِكِ، عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَقْعَدَهُ فَأَلْقَى عَلَيْهِ الأَذَانَ حَرْفًا حَرْفًا...

Hadits ini juga memiliki riwayat lain dalam Shahih Muslim dan Sunan Abu Dawud, namun dengan redaksi yang sedikit berbeda. Imam An-Nasa'i meriwayatkannya dalam kitab Sunan-nya, dan hadits ini menjadi dalil dalam bab menurunkan suara pada sebagian kalimat adzan.

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang adzan dan seruan kepada shalat:

QS. Al-Ma'idah [5]: 58

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

Terjemahan: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."

Ayat ini menunjukkan bahwa adzan adalah seruan kepada shalat yang telah ada sejak awal Islam, dan orang-orang munafik serta kafir mengejeknya. Ini menegaskan pentingnya adzan dalam syariat.

Penjelasan Rinci

Hadits Abu Mahdhurah ini menjelaskan tata cara adzan yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ. Beberapa poin penting:

  1. Pengajaran langsung huruf demi huruf — Nabi ﷺ tidak hanya memerintahkan, tetapi mengajarkan adzan secara rinci. Ini menunjukkan pentingnya adzan dan keutamaan orang yang mengumandangkannya.
  2. Susunan adzan — Dalam riwayat ini, adzan dimulai dengan takbir dua kali, lalu syahadat dua kali, kemudian syahadat diulang lagi dengan suara lebih rendah, lalu hayya 'ala ash-shalah dan hayya 'ala al-falah masing-masing dua kali, ditutup dengan takbir dan tahlil.
  3. Menurunkan suara — Imam An-Nasa'i memasukkan hadits ini dalam bab "Menurunkan Suara dalam Adzan". Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sebagian kalimat adzan dilafalkan dengan suara lebih rendah, terutama pada bagian syahadat yang diulang, agar orang di sekitar dapat mendengar dengan jelas namun tidak mengganggu kekhusyukan.
  4. Perbedaan pendapat — Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa menurunkan suara pada bagian tertentu adzan adalah sunnah, berdasarkan hadits ini. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik memiliki pandangan yang lebih umum tentang adzan tanpa membedakan volume suara secara khusus. Namun, yang paling kuat adalah pendapat yang mengikuti zhahir hadits, yaitu adanya penurunan suara pada bagian syahadat yang diulang, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad.
  5. Hikmah — Menurunkan suara pada bagian tertentu bertujuan agar muadzin tidak terlalu keras pada kalimat yang diulang, sehingga adzan tetap indah dan tidak membingungkan pendengar. Ini juga menunjukkan bahwa adzan memiliki seni dan adab tersendiri.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa adzan adalah syiar Islam yang agung, dan setiap kalimatnya memiliki makna mendalam. Mengucapkan syahadat dua kali dengan suara rendah kemudian diulang lagi adalah bentuk penekanan tauhid dan risalah Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemuda yang suaranya indah. Pada suatu hari, Nabi ﷺ memanggilnya dan mengajarinya adzan secara langsung. Nabi ﷺ mendudukkannya, lalu melafalkan adzan huruf demi huruf, dan Abu Mahdhurah mengikutinya. Setelah selesai, Nabi ﷺ mengusap kepalanya dan mendoakannya, sehingga suaranya semakin merdu. Sejak itu, Abu Mahdhurah menjadi muadzin tetap di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya.

Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ memperhatikan kualitas adzan dan mendidik para muadzin dengan penuh kasih sayang. (Sumber: Sirah Ibnu Hisyam dan Thabaqat Ibnu Sa'd, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah).

Kesimpulan Praktis

  1. Adzan adalah ibadah yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, maka hendaknya dikumandangkan dengan penuh adab dan mengikuti sunnah.
  2. Menurunkan suara pada bagian tertentu dari adzan, terutama pada syahadat yang diulang, adalah sunnah yang memiliki dalil shahih.
  3. Muadzin hendaknya memperhatikan volume suara agar dapat didengar oleh jamaah tanpa berlebihan.
  4. Mengajarkan adzan kepada generasi berikutnya adalah bagian dari menjaga syiar Islam.
  5. Hendaknya kita menghormati adzan dan menjawabnya sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?