Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5503 tentang Permohonan perlindungan dari kelemahan dan sifat buruk

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa perlindungan yang sangat agung yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Beliau berlindung kepada Allah dari delapan perkara yang menjadi sumber keburukan di dunia dan akhirat: kelemahan karena usia tua (pikun), kesedihan yang melampaui batas, ketidakmampuan berbuat baik, kemalasan, sifat kikir, sifat pengecut, beban utang yang menindih, dan dominasi/tekanan orang lain yang membuat seseorang tidak mampu menegakkan kebenaran. Doa ini mengajarkan kita untuk selalu merasa butuh kepada Allah dalam segala keadaan, baik saat sehat maupun sakit, saat lapang maupun sempit.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 5503) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6367) dan Imam Muslim (no. 2706) dengan lafaz yang serupa.

Adapun dalil dari Al-Qur'an yang sejalan dengan makna doa ini, Allah berfirman:

QS. Al-Furqan [25]: 65

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

"Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azab itu adalah kebinasaan yang kekal.'"

Doa ini menunjukkan bahwa seorang mukmin senantiasa memohon perlindungan dari segala keburukan, baik keburukan dunia maupun akhirat. Para ulama menjelaskan bahwa doa perlindungan Nabi ﷺ ini mencakup permohonan agar dijauhkan dari segala hal yang dapat merusak agama dan kehidupan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki latar yang indah. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ meminta kepada Abu Talhah (ayah tirinya) untuk mencari seorang anak yang bisa melayani beliau. Maka Anas-lah yang terpilih. Dalam pelayanannya itu, Anas sering mendengar Nabi ﷺ memperbanyak doa perlindungan ini.

Para ulama menjelaskan makna setiap kalimat dalam doa ini:

1. الْهَرَمِ (al-haram) - Usia tua/pikun

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kelemahan tubuh dan akal karena lanjut usia, sehingga seseorang tidak mampu lagi beribadah dengan baik atau menjadi beban bagi orang lain. Ini adalah permohonan agar Allah menjaga akal dan tubuh tetap sehat hingga akhir hayat.

2. الْحُزْنِ (al-huzn) - Kesedihan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa kesedihan yang dimaksud adalah kesedihan yang melampaui batas karena musibah dunia yang membuat seseorang lalai dari ketaatan dan putus asa dari rahmat Allah. Adapun kesedihan karena dosa yang mendorong taubat adalah terpuji.

3. الْعَجْزِ (al-'ajz) - Ketidakmampuan

Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa ini adalah lawan dari kemampuan. Yaitu lemahnya seseorang untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menekankan bahwa seorang mukmin harus berlindung dari sifat malas dan lemah karena keduanya menghalangi dari ketaatan.

4. الْكَسَلِ (al-kasal) - Kemalasan

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kemalasan adalah tidak adanya semangat untuk beramal, baik amal dunia maupun akhirat. Ini berbeda dengan 'ajz (ketidakmampuan), karena kemalasan terjadi pada orang yang mampu tetapi tidak mau bersemangat.

5. الْبُخْلِ (al-bukhl) - Kekikiran

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa kikir adalah menahan harta yang seharusnya dikeluarkan untuk ketaatan dan hak-hak sesama. Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat menghalangi seseorang dari jihad, zakat, sedekah, dan silaturahmi.

6. الْجُبْنِ (al-jubn) - Pengecut

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pengecut adalah takut kepada selain Allah secara berlebihan, sehingga seseorang tidak berani menegakkan kebenaran, tidak berani berjihad, dan tidak berani memerintahkan kebaikan. Ini bertentangan dengan keberanian yang merupakan sifat orang beriman.

7. ضَلَعِ الدَّيْنِ (dhala'id-dain) - Beban utang

Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah utang yang memberatkan dan membuat seseorang tidak mampu melunasinya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ juga berlindung dari utang karena utang dapat membuat seseorang berdusta dan mengingkari janji.

8. غَلَبَةِ الرِّجَالِ (ghalabatir-rijal) - Dominasi pria

Imam Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa maknanya adalah kekuasaan/dominasi orang lain yang membuat seseorang tidak mampu menegakkan kebenaran dan keadilan. Ada juga yang menafsirkan khusus untuk kaum pria yang menindas wanita, namun pendapat yang lebih kuat adalah makna umum yaitu dominasi/tekanan dari orang-orang yang zalim.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa doa ini menunjukkan betapa lemahnya manusia dan betapa butuhnya ia kepada Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari berbagai keburukan ini, sekalipun ia dalam keadaan sehat dan kuat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun di Madinah. Dalam riwayat lain (Shahih Al-Bukhari no. 6038), Anas berkata: "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan 'ah' kepadaku atas sesuatu yang kulakukan, dan tidak pernah berkata 'mengapa kamu melakukan ini?' atas sesuatu yang kulakukan."

Ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ dalam memperlakukan pembantunya. Namun dalam hadits di atas, Anas justru mendengar Nabi ﷺ sering berdoa memohon perlindungan dari berbagai keburukan. Ini mengajarkan bahwa meskipun seseorang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah seperti Nabi ﷺ, ia tetap merendahkan diri dan memohon perlindungan kepada Allah dari segala keburukan. Ini adalah pelajaran tentang tawadhu' dan rasa butuh kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak membaca doa ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama di waktu pagi dan petang, karena doa ini mencakup perlindungan dari keburukan dunia dan akhirat.
  2. Jauhi sifat-sifat yang disebut dalam doa seperti kemalasan, kekikiran, dan pengecut, karena semua itu menghalangi ketaatan kepada Allah.
  3. Berhati-hatilah dengan utang - jangan berutang kecuali dalam keadaan darurat dan pastikan mampu melunasinya.
  4. Selalu merasa butuh kepada Allah dalam segala keadaan, baik saat sehat maupun sakit, saat kuat maupun lemah.
  5. Amalkan doa ini untuk keluarga dan orang-orang yang kita cintai, karena Nabi ﷺ mengajarkannya sebagai bentuk kasih sayang kepada umatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?