Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan doa perlindungan (isti'adzah) yang dibaca setelah shalat, mencakup lima hal: kekikiran, sifat pengecut, dikembalikan ke usia pikun yang lemah, fitnah dunia, dan siksa kubur. Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu mengajarkan doa ini kepada anak-anaknya dengan sangat serius, sebagaimana guru mengajarkan bacaan kepada muridnya. Doa ini mengajarkan kita untuk memohon perlindungan Allah dari penyakit hati dan fitnah kehidupan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Isti'adzah, Bab Memohon Perlindungan dari Kekikiran (no. 5447), dari jalur 'Amr bin Maimun Al-Awdi dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Sa'd bin Abi Waqqash, dengan lafaz yang serupa. Imam An-Nawawi menyebutkan hadits ini dalam Syarh Shahih Muslim dan menjelaskan bahwa doa ini termasuk doa yang dianjurkan dibaca di akhir shalat.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema isti'adzah dan fitnah dunia:
QS. Al-Falaq [113]: 1-2
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
Terjemahan: "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya."
QS. Al-Mu'minun [23]: 97-98
وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ
Terjemahan: "Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu wahai Tuhanku, dari kehadiran mereka."
QS. An-Nahl [16]: 70 — tentang dikembalikan ke usia yang paling lemah (ardzalil 'umur):
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Terjemahan: "Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu. Di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang paling lemah (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung pelajaran penting tentang isti'adzah (memohon perlindungan) yang dilakukan Nabi ﷺ di akhir shalat. Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu — salah satu sahabat yang dijamin masuk surga dan termasuk sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira — mengajarkan doa ini kepada anak-anaknya dengan metode pengajaran yang serius, layaknya seorang guru mengajarkan bacaan kepada murid-muridnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya doa ini untuk ditanamkan sejak dini.
Lima hal yang dimohonkan perlindungan:
Pertama: Al-Bukhl (kekikiran). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kekikiran adalah penyakit hati yang menghalangi seseorang berinfak di jalan Allah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menyebutkan bahwa kekikiran adalah sifat yang membinasakan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa kekikiran membinasakan umat-umat sebelum kita.
Kedua: Al-Jubn (sifat pengecut/keberanian yang buruk). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah rasa takut yang berlebihan dalam menghadapi kebenaran dan jihad, yang membuat seseorang meninggalkan kewajiban. Ini berbeda dengan sifat hati-hati yang terpuji.
Ketiga: Dikembalikan ke ardhalil 'umur (usia pikun yang paling lemah). Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah usia tua yang sangat lemah, di mana seseorang kehilangan akal dan ingatannya. Memohon perlindungan dari kondisi ini adalah bentuk tawakal dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah.
Keempat: Fitnah dunia. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa fitnah dunia mencakup segala godaan yang melalaikan dari akhirat — harta, jabatan, syahwat, dan segala yang membuat hati terpaling dari Allah.
Kelima: Siksa kubur. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah azab yang akan dialami di alam barzakh, dan memohon perlindungan darinya adalah sunnah yang ditekankan.
Perbedaan pendapat ulama tentang waktu membaca doa ini: sebagian ulama memahami "dubur ash-shalat" sebagai setelah salam (pendapat yang dipegang jumhur, termasuk Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar), sebagian memahami sebelum salam di akhir shalat. Yang paling kuat menurut dalil adalah setelah salam, karena hadits ini secara zhahir menunjukkan demikian, dan inilah yang diamalkan oleh banyak ulama Ahlus Sunnah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, seorang panglima Islam yang terkenal dalam Perang Qadisiyah, tetap menyempatkan diri mengajarkan doa-doa penting kepada anak-anaknya. 'Amr bin Maimun Al-Awdi — seorang tabi'in yang meriwayatkan hadits ini — menyaksikan sendiri bagaimana Sa'd mengajarkan kalimat-kalimat ini dengan penuh kesungguhan, seperti seorang guru yang mengajarkan Al-Qur'an kepada murid-muridnya. Ketika 'Amr menceritakan hal ini kepada Mus'ab bin Sa'd (putra Sa'd), beliau membenarkannya. Ini menunjukkan bahwa pengajaran doa ini adalah tradisi keluarga para sahabat, diwariskan dari generasi ke generasi. Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits ini dalam kitab Isti'adzah sebagai bagian dari bab tentang memohon perlindungan dari kekikiran, menunjukkan betapa ulama hadits sangat memperhatikan doa-doa perlindungan ini.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah doa ini setelah salam shalat — baik shalat fardhu maupun sunnah — sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
- Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak dengan penuh kesungguhan, sebagaimana Sa'd mengajarkannya kepada anak-anaknya.
- Renungkan makna lima perlindungan: kekikiran, pengecut, pikun, fitnah dunia, dan siksa kubur — semuanya adalah penyakit yang harus kita jauhi.
- Jangan remehkan doa perlindungan, karena Nabi ﷺ sendiri rutin membacanya di akhir shalat.
- Perbanyak isti'adzah dalam kehidupan sehari-hari, karena ini adalah bentuk tawakal dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.