Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5442 tentang Doa berlindung dari ilmu tak bermanfaat dan hati tak khusyuk

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah doa perlindungan yang sangat penting dari Nabi ﷺ. Beliau memohon perlindungan kepada Allah dari empat penyakit hati dan jiwa yang berbahaya: ilmu yang tidak membawa manfaat, hati yang keras dan tidak khusyuk, doa yang tidak dikabulkan, serta jiwa yang selalu merasa kurang dan tidak pernah puas. Ini adalah pelajaran agar kita selalu menjaga kualitas ibadah dan kebersihan hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam kitab Sunan-nya, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga terdapat dalam kitab-kitab hadits lain seperti Shahih Muslim (no. 2723) dengan redaksi yang sedikit berbeda, dan Sunan Abi Dawud (no. 1548).

Teks hadits secara lengkap:

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي الْهُذَيْلِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَنَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ

Terjemahan:

"Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Sinan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sinan, dari Abdullah bin Abi al-Hudzail, dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi ﷺ biasa memohon perlindungan dari empat hal: dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dan dari jiwa yang tidak pernah puas."

Hadits ini memiliki dalil pendukung dari Al-Qur'an, di antaranya firman Allah:

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

QS. Al-Ahzab [33]: 67

"Dan mereka berkata: 'Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).'"

Ayat ini menunjukkan penyesalan orang-orang yang mengikuti ilmu yang tidak bermanfaat dan menyesatkan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung empat permohonan perlindungan yang sangat mendalam, yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan kami:

1. Ilmu yang tidak bermanfaat (عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak membuahkan amal, tidak membersihkan hati, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menghantarkan seseorang untuk mengenal Allah, takut kepada-Nya, dan beramal saleh. Ibnul Qayyim membagi ilmu menjadi dua: ilmu yang bermanfaat (nafi') dan ilmu yang tidak bermanfaat (ghairu nafi'). Ilmu yang tidak bermanfaat bisa berupa ilmu yang dipelajari tetapi tidak diamalkan, atau ilmu yang sebenarnya tidak diperlukan untuk urusan agama dan akhirat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak menghasilkan amal saleh dan tidak memperbaiki hati. Ini termasuk ilmu yang hanya menjadi hujjah (argumen) yang memberatkan pemiliknya di akhirat.

2. Hati yang tidak khusyuk (قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hati yang tidak khusyuk adalah hati yang keras, tidak tunduk kepada Allah, tidak merasakan kehadiran-Nya, dan tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur'an maupun nasihat. Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena menghalangi seseorang dari menerima hidayah dan merasakan manisnya iman.

Ibnul Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan menyebutkan bahwa kekhusyukan hati adalah ruh dari ibadah. Tanpa khusyuk, ibadah menjadi jasad tanpa ruh. Beliau menjelaskan bahwa hati yang tidak khusyuk disebabkan oleh kelalaian (ghaflah), cinta dunia yang berlebihan, dan banyaknya dosa.

3. Doa yang tidak didengar (دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ)

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa yang tidak didengar adalah doa yang tidak dikabulkan oleh Allah. Ini bisa disebabkan oleh beberapa hal: memakan makanan yang haram, hati yang lalai, atau meminta sesuatu yang tidak baik. Syaikh as-Sa'di menambahkan bahwa doa yang tidak didengar juga bisa berarti doa yang tidak bermanfaat dan tidak membawa kebaikan.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa seorang hamba harus berusaha agar doanya dikabulkan dengan cara: ikhlas, memakan makanan halal, dan tidak tergesa-gesa dalam berdoa.

4. Jiwa yang tidak pernah puas (نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ)

Ibnul Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa jiwa yang tidak pernah puas adalah jiwa yang selalu merasa kurang, tidak pernah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, dan selalu ingin lebih dari apa yang dimilikinya. Ini adalah penyakit hati yang disebut thama' (kerakusan) dan hirs (ketamakan).

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa jiwa yang tidak pernah puas adalah ciri orang yang cinta dunia. Semakin banyak dunia yang diperoleh, semakin banyak pula yang diinginkan. Obat dari penyakit ini adalah zuhud, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain.

Perbedaan Pendapat di Antara Ulama:

Para ulama dalam daftar kami sepakat tentang makna umum hadits ini. Perbedaan hanya pada rincian contoh dan penekanan. Imam an-Nawawi lebih menekankan pada aspek ibadah dan doa, sedangkan Ibnul Qayyim lebih menekankan pada aspek hati dan jiwa. Syaikh as-Sa'di menekankan pada aspek amal dan manfaat. Namun, semuanya sepakat bahwa keempat hal ini adalah penyakit yang harus dijauhi dan dimohonkan perlindungan kepada Allah.

Pendapat yang Paling Kuat:

Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan seluruh penjelasan ulama di atas, karena hadits ini bersifat jami' (mengumpulkan) berbagai macam penyakit hati dan jiwa. Setiap muslim hendaknya memohon perlindungan dari keempatnya secara bersamaan, karena keempatnya saling berkaitan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah seorang yang sangat tekun beribadah. Beliau pernah menanyakan kepada Nabi ﷺ tentang puasa dan shalat malam, dan Nabi ﷺ membimbingnya untuk tidak berlebihan. Abdullah bin Amr juga dikenal sebagai sahabat yang banyak menulis hadits, bahkan beliau memiliki catatan hadits yang disebut Shahifah ash-Shadiqah.

Suatu ketika, Abdullah bin Amr mendengar Nabi ﷺ berdoa dengan doa ini. Beliau pun menghafalnya dan mengajarkannya kepada umat. Ini menunjukkan betapa pentingnya doa ini, sehingga seorang sahabat yang mulia seperti Abdullah bin Amr merasa perlu untuk meriwayatkannya kepada generasi setelahnya.

Dalam kitab Shifat ash-Shafwah, disebutkan bahwa Al-Hasan al-Bashri, seorang tabi'in yang mulia, pernah berkata: "Aku telah menemui banyak orang, dan aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih kuat dalam beribadah daripada para sahabat Nabi ﷺ. Mereka adalah orang-orang yang hatinya paling khusyuk, ilmunya paling bermanfaat, doanya paling didengar, dan jiwanya paling merasa cukup."

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak doa dengan doa ini: Bacalah doa ini secara rutin, terutama setelah shalat dan di waktu-waktu mustajab, untuk memohon perlindungan dari keempat penyakit ini.
  2. Evaluasi ilmu: Pastikan setiap ilmu yang kita pelajari membawa kita lebih dekat kepada Allah dan menghasilkan amal saleh.
  3. Jaga kekhusyukan hati: Lakukan muhasabah (introspeksi) harian, perbanyak dzikir, dan hindari hal-hal yang mengeraskan hati.
  4. Perbaiki kualitas doa: Pastikan makanan halal, ikhlas dalam berdoa, dan tidak tergesa-gesa dalam mengharapkan jawaban.
  5. Latih jiwa untuk merasa cukup: Bersyukur dengan apa yang ada, hindari sifat tamak, dan ingat bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?