Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah nasihat berharga dari Nabi ﷺ kepada Abu Hasyim bin 'Utbah tentang sikap zuhud (tidak rakus) terhadap harta dunia. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ketika seseorang mendapati harta yang melimpah, maka yang cukup baginya hanyalah sekadar pembantu (khādim) dan kendaraan untuk berjuang di jalan Allah. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam mengumpulkan harta dan menjadikan kebutuhan secukupnya sebagai standar hidup, bukan kekayaan yang berlimpah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Perhiasan dari Sunnah, Bab Mengambil Pelayan dan Kendaraan, no. 5372, dari Samurah bin Sahm, dari Abu Hasyim bin 'Utbah radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Az-Zukhruf [43]: 32
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."
Hadits terkait lainnya:
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ»
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup (kafaf), dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim no. 1054)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa zuhud bukanlah berarti mengharamkan yang halal atau membuang harta, tetapi zuhud adalah hati tidak bergantung pada harta dan tidak bersedih ketika kehilangannya. Beliau juga menukil perkataan Al-Hasan al-Bashri tentang makna zuhud.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki konteks yang sangat menarik. Abu Hasyim bin 'Utbah adalah seorang sahabat yang mulia. Ketika beliau tertimpa wabah thā'ūn (penyakit menular), Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu datang menjenguknya. Abu Hasyim menangis, dan Mu'awiyah bertanya apakah ia menangis karena sakit atau karena dunia yang telah hilang kenikmatannya.
Jawaban Abu Hasyim sangat dalam: "Bukan karena itu, tetapi Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepadaku suatu pesan yang aku berharap aku telah mengikutinya." Pesan itu adalah bahwa ia mungkin akan hidup di masa ketika harta kekayaan dibagikan kepada manusia, dan Nabi ﷺ berpesan bahwa yang cukup baginya hanyalah seorang pembantu dan kendaraan untuk berjuang di jalan Allah.
Abu Hasyim kemudian berkata: "Aku hidup di masa itu, dan aku mengumpulkan (harta)." Ini adalah pengakuan jujur dari seorang sahabat bahwa ia tidak sepenuhnya mengikuti pesan Nabi ﷺ tersebut.
Beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Zuhud terhadap dunia: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kebutuhan pokok yang wajar — pembantu dan kendaraan untuk jihad — sudah cukup. Ini bukan berarti mengharamkan kekayaan, tetapi mengajarkan hati agar tidak diperbudak oleh harta.
- Kejujuran sahabat: Abu Hasyim dengan jujur mengakui kekurangannya di hadapan Mu'awiyah. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat serius dalam menilai diri mereka terhadap pesan-pesan Nabi ﷺ.
- Kendaraan di jalan Allah: Yang dimaksud marakib (kendaraan) di sini adalah kendaraan yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah, seperti untuk berhijrah, berjihad, atau menuntut ilmu.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa zuhud adalah mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia, bukan mengosongkan tangan dari harta. Seseorang bisa memiliki harta yang banyak tetapi hatinya zuhud, dan sebaliknya seseorang bisa tidak punya harta tetapi hatinya sangat cinta dunia.
Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah membagi-bagi rezeki di antara hamba-Nya sesuai hikmah-Nya. Sebagian diberi banyak dan sebagian diberi sedikit, dan yang terbaik adalah menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat, bukan tujuan akhir.
Story Telling
Ada kisah indah tentang zuhudnya seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, yaitu Sa'id bin al-Musayyib. Beliau adalah seorang yang sangat alim dan zuhud di Madinah. Suatu ketika, Gubernur Madinah ingin menikahkan putrinya dengan anak Sa'id, namun Sa'id menolak dengan halus karena khawatir hal itu akan mempengaruhi keikhlasan dan kesederhanaan hidupnya.
Sa'id bin al-Musayyib pernah berkata: "Tidak ada suatu amalan pun yang lebih utama setelah kewajiban selain mencari rezeki yang halal." Namun beliau juga hidup sangat sederhana, tidak pernah menumpuk harta, dan selalu membagikan apa yang ia miliki. Beliau memahami bahwa dunia hanyalah jembatan menuju akhirat.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa para ulama salaf sangat menjaga hati mereka dari cinta dunia, meskipun mereka tetap bekerja dan mencari rezeki yang halal. Keseimbangan inilah yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan kebutuhan secukupnya sebagai standar — bukan kekayaan berlimpah yang menjadi tujuan hidup.
- Gunakan harta untuk ketaatan — seperti kendaraan untuk berjuang di jalan Allah, baik itu jihad fisik, menuntut ilmu, atau bersedekah.
- Jujurlah menilai diri sendiri — seperti Abu Hasyim yang mengakui kelemahannya, kita pun harus berani mengoreksi diri.
- Hati-hati dari cinta dunia — karena cinta dunia adalah pangkal dari banyak kesalahan, sebagaimana diingatkan oleh para ulama.
- Perbanyak doa agar diberi hati yang qana'ah (merasa cukup) dengan pemberian Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.