Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5212 tentang Larangan memakai cincin di jari telunjuk dan tengah

Penjelasan Hadits Sunan An-Nasa'i No. 5212

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memuat dua pelajaran utama: (1) doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib, yaitu memohon hidayah (petunjuk) dan tasdid (keteguhan di atas kebenaran); dan (2) larangan memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah. Kedua hal ini termasuk sunnah yang perlu kita jaga dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan An-Nasa'i no. 5212, Kitab az-Zinah, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu:

<p>قُلِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي</p>

"Katakanlah: Ya Allah, berilah aku petunjuk dan teguhkanlah aku (di atas kebenaran)."

Dan dalam riwayat ini Nabi ﷺ melarang Ali meletakkan cincin di jari telunjuk dan jari tengah.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan doa hidayah — QS. Al-Fatihah [1]: 6:

<p>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</p>

"Tunjukilah kami jalan yang lurus."

Hadits pendukung — Imam Muslim meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

<p>قُلِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي</p>

dan dalam riwayat lain beliau menambahkan penjelasan tentang hidayah dan tasdid. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "hidayah" berarti petunjuk menuju jalan yang benar, sedangkan "tasdid" berarti keteguhan, kelurusan, dan istiqamah di atas jalan tersebut.

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam an-Nawawi menjelaskan makna doa ini dalam Syarh Shahih Muslim dan Al-Adzkar.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani membahas larangan memakai cincin di telunjuk dan tengah dalam Fathul Bari.
  • Imam an-Nasa'i sendiri menyusun hadits ini dalam bab khusus tentang larangan tersebut.

Penjelasan Rinci

Pertama: Doa "Allahummahdini wa saddidni"

Para ulama menjelaskan bahwa doa ini mengandung dua permintaan agung:

  1. Hidayah (الهداية) — yaitu petunjuk menuju kebenaran, baik dalam ilmu maupun amal. Ini mencakup hidayah irsyad (petunjuk berupa ilmu) dan hidayah taufiq (petunjuk berupa kemampuan mengamalkan).
  2. Tasdid (التسديد) — yaitu keteguhan, kelurusan, dan kesempurnaan dalam mengamalkan kebenaran tersebut, sehingga seseorang tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan doa ini karena seorang hamba senantiasa membutuhkan hidayah dan keteguhan dalam setiap keadaan. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa hidayah dan tasdid adalah dua kebutuhan pokok hati, sebagaimana makanan dan obat bagi tubuh.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan agar Allah memberi ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, serta menjauhkan dari kesesatan dan penyimpangan.

Kedua: Larangan memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah

Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa larangan ini bersifat karahah tanzih (makruh, tidak sampai haram) menurut jumhur ulama, karena mengandung unsur menyerupai kebiasaan orang-orang tertentu atau karena menunjukkan kesombongan. Sebagian ulama seperti dalam mazhab Syafi'i dan Hanbali menegaskan makruhnya memakai cincin di kedua jari tersebut.

Hikmahnya menurut para ulama:

  • Jari telunjuk dan tengah adalah jari yang digunakan untuk menunjuk dan berisyarat, sehingga memakai cincin di sana bisa mengganggu atau menyerupai kebiasaan tertentu.
  • Sunnahnya adalah memakai cincin di jari kelingking atau jari manis, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.

Imam an-Nasa'i menempatkan hadits ini dalam bab khusus untuk menunjukkan perhatian beliau terhadap sunnah-sunnah yang jarang diketahui.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu — seorang yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal sebagai ahli ilmu — selalu merawat doa ini. Beliau mengajarkan kepada umat agar senantiasa memohon hidayah dan keteguhan, karena beliau menyadari bahwa hati manusia bisa berubah.

Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata tentang pentingnya doa ini: "Seorang mukmin senantiasa membutuhkan hidayah dan keteguhan, karena ia tidak tahu apakah esok ia masih di atas jalan yang lurus atau tidak." (Makna umum dari nasihat beliau yang dikenal dalam kitab-kitab nasihat salaf.)

Kisah ini mengajarkan bahwa hidayah bukan hanya milik orang yang belum tahu, tetapi juga kebutuhan orang yang sudah tahu agar tetap istiqamah.

Kesimpulan Praktis

  1. Rutinkan doa "اللهم اهدني وسددني" dalam kehidupan sehari-hari, terutama setelah shalat dan di waktu-waktu mustajab.
  2. Pahami maknanya: memohon petunjuk menuju kebenaran dan keteguhan di atasnya.
  3. Hindari memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah, sebagai bentuk mengikuti sunnah.
  4. Utamakan jari kelingking atau jari manis untuk memakai cincin, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits lain.
  5. Belajar dari para ulama seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnul Qayyim dalam memahami hadits dengan benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?