Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5004 tentang Malu adalah salah satu cabang dari iman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil agung yang menjelaskan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan di dalam hati, tetapi juga mencakup perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Iman memiliki banyak cabang, dan sifat malu (al-haya') adalah salah satu cabang yang sangat penting. Hadits ini mengajarkan kita bahwa iman itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:

Sebagaimana yang Anda kutip, Imam An-Nasa'i meriwayatkan dalam Sunan-nya (no. 5004) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

> "الإيمان بضع وسبعون شعبة، والحياء شعبة من الإيمان"

>

> "Iman itu memiliki tujuh puluh lebih cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka. Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan dengan lafazh:

> "الإيمان بضع وسبعون – أو بضع وستون – شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان"

>

> "Iman itu memiliki tujuh puluh lebih – atau enam puluh lebih – cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman." (HR. Al-Bukhari no. 9, Muslim no. 35)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini secara mendalam. Di antaranya:

  1. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "bidh'un" (بضع) adalah bilangan antara tiga sampai sepuluh. Jadi maknanya adalah iman memiliki 70 hingga 79 cabang lebih.
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) memaparkan secara panjang lebar tentang pembagian cabang-cabang iman ini, dan beliau menukil perkataan para ulama seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Ibnu Hibban tentang perinciannya.
  3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Iman menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa iman mencakup perkataan dan perbuatan, dan bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Ini adalah pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah, berbeda dengan pemahaman Murji'ah yang mengatakan iman hanya cukup di hati.

Penjelasan Rinci

Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran yang sangat besar tentang hakikat iman.

1. Makna "Iman" dalam Hadits Ini

Para ulama Ahlus Sunnah, di antaranya Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Al-Bukhari, menjelaskan bahwa iman dalam syariat mencakup tiga hal:

  • Pembenaran dalam hati (tasdiq bil qalb): meyakini dengan sepenuh hati.
  • Ucapan dengan lisan (qaul bil lisan): mengucapkan syahadat dan dzikir.
  • Amalan dengan anggota badan (amal bil jawarih): melakukan ibadah dan ketaatan.

Oleh karena itu, iman itu bisa bertambah dengan bertambahnya ketaatan, dan bisa berkurang dengan berkurangnya ketaatan atau bertambahnya kemaksiatan.

2. Makna "Cabang-Cabang Iman"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa cabang-cabang iman itu adalah seluruh amal ketaatan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Semua amal shaleh, baik yang berkaitan dengan hati, lisan, maupun anggota badan, adalah cabang dari pohon iman.

Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya membuat bab khusus tentang hal ini, dan beliau membawakan hadits ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan termasuk bagian dari iman.

3. Kedudukan Sifat Malu (Al-Haya')

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ secara khusus menyebutkan bahwa malu adalah salah satu cabang iman. Ini menunjukkan keutamaan sifat malu yang sangat besar.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin menjelaskan bahwa malu adalah salah satu akhlak mulia yang menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan dan penghalang dari perbuatan buruk. Malu terbagi menjadi dua:

  • Malu kepada Allah: yaitu malu untuk bermaksiat kepada-Nya karena merasa selalu diawasi oleh-Nya.
  • Malu kepada sesama manusia: yaitu malu untuk melakukan hal-hal yang buruk atau memalukan di hadapan manusia.

Imam Al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh Imam An-Nawawi) berkata: "Malu adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan hal-hal yang buruk, dan mencegahnya dari menelantarkan hak-hak orang lain."

4. Hikmah Menyebut Malu Secara Khusus

Para ulama menyebutkan beberapa hikmah mengapa Nabi ﷺ menyebut malu secara khusus di antara cabang-cabang iman yang lain:

  • Karena malu adalah sifat yang mendorong kepada seluruh kebaikan. Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya, yang sejalan dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah) menyebutkan bahwa malu adalah akar dari semua akhlak mulia.
  • Karena malu adalah sifat yang membedakan manusia dari hewan. Manusia yang tidak punya malu, maka ia telah kehilangan salah satu ciri kemanusiaannya yang paling utama.

5. Perbedaan Pendapat tentang Jumlah Pasti Cabang Iman

Para ulama berbeda pendapat dalam merinci cabang-cabang iman ini. Imam Ibnu Hibban merincinya menjadi 79 cabang, Imam Al-Hakim merincinya menjadi 73 cabang, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perincian yang paling masyhur adalah dari Imam Al-Bukhari yang membaginya menjadi tiga bagian besar: (1) niat, keyakinan, dan amalan hati, (2) amalan lisan, dan (3) amalan anggota badan.

Yang terpenting, perbedaan ini hanyalah dalam perincian, dan tidak mengurangi keagungan makna hadits ini. Intinya, seluruh amal kebaikan adalah bagian dari iman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal ditanya oleh seseorang, "Apa itu iman?" Maka Imam Ahmad menjawab, "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang." Kemudian beliau membawakan hadits ini sebagai dalilnya.

Ada juga kisah tentang seorang sahabat yang memiliki sifat malu yang sangat besar. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling pemalu. Sampai-sampai para malaikat pun malu kepadanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

> "ألا أستحيي من رجل تستحيي منه الملائكة"

>

> "Tidakkah aku merasa malu kepada seorang laki-laki yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?" (HR. Muslim no. 2401)

Ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sifat yang sangat mulia dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sifat malu inilah yang menjaga Utsman dari perbuatan buruk dan menjadikannya salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits yang mulia ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Iman itu mencakup hati, lisan, dan perbuatan. Maka kita harus menjaga ketiganya. Jangan hanya merasa beriman di hati, tetapi lisan dan perbuatan kita tidak mencerminkan keimanan.
  2. Iman bisa bertambah dan berkurang. Maka kita harus senantiasa berusaha menambah iman kita dengan memperbanyak ibadah dan ketaatan, serta menjauhi maksiat yang mengurangi iman.
  3. Sifat malu adalah cabang iman yang sangat penting. Maka kita harus menghiasi diri dengan sifat malu: malu kepada Allah untuk berbuat maksiat, dan malu kepada sesama untuk berbuat buruk.
  4. Jadikan semua amal kebaikan sebagai bagian dari iman. Menyingkirkan duri dari jalan pun adalah iman. Maka jangan remehkan kebaikan sekecil apa pun.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?