Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa iman dan Islam memiliki makna yang berbeda ketika disebut secara bersamaan. Islam adalah ketundukan lahiriah dengan amal-amal yang tampak, sedangkan iman adalah keyakinan batin yang lebih tinggi derajatnya. Nabi ﷺ mengajarkan kepada Sa'd bin Abi Waqqash agar tidak sembarangan menetapkan seseorang sebagai "mukmin" hanya berdasarkan penilaian lahiriah, karena hakikat iman ada di dalam hati.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi latar bab ini:
QS. Al-Hujurat [49]: 14
وَقَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Terjemahan: "Orang-orang Arab Badui itu berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka): 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah berislam (tunduk),' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه, dari Sunan An-Nasa'i no. 4993, Kitab Iman dan Syariatnya. Sanadnya: Amru bin Mansur → Hisham bin Abdul Malik → Salam bin Abi Muti' → Ma'mar → Az-Zuhri → Amir bin Sa'd → Sa'd bin Abi Waqqash.
Penjelasan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ketika Islam dan iman disebut bersamaan, maka Islam bermakna amal-amal lahiriah (syariat) dan iman bermakna keyakinan batin. Namun jika disebut sendiri-sendiri, keduanya saling mencakup.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini bukan berarti seorang Muslim tidak beriman, melainkan mengajarkan adab dalam menetapkan derajat iman kepada orang lain tanpa dasar wahyu.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Hujurat [49]: 14 menjelaskan bahwa kaum Badui (A'rab) yang baru masuk Islam belum mencapai derajat iman yang sempurna, karena iman menuntut pembenaran hati yang kokoh dan amal yang istiqamah.
- Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan iman lebih khusus daripada Islam; setiap mukmin adalah muslim, tetapi tidak setiap muslim otomatis mencapai derajat mukmin yang sempurna.
Penjelasan Rinci
Konteks hadits:
Rasulullah ﷺ sedang membagikan harta (dalam sebagian riwayat disebut sebagai bagian dari ghanimah/rampasan perang). Beliau memberi kepada sebagian orang dan tidak memberi kepada sebagian lainnya. Ini adalah kebijaksanaan beliau dalam ta'lif al-qulub (menarik hati orang-orang yang baru masuk Islam agar imannya semakin kokoh).
Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — melihat seseorang yang tidak diberi, lalu berkata: "Wahai Rasulullah, engkau memberi si fulan dan menahan dari si fulan, padahal dia seorang mukmin?"
Nabi ﷺ menjawab: "Jangan katakan 'mukmin', katakan 'muslim'."
Pemahaman ulama:
Az-Zuhri (perawi hadits ini) mengaitkan jawaban Nabi ﷺ dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 14, di mana Allah membedakan antara "iman" dan "Islam" bagi kaum Badui yang baru masuk.
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa perbedaan ini bukanlah perbedaan yang saling menafikan, melainkan perbedaan derajat:
- Islam — ketundukan secara lahiriah: mengucapkan syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan amal-amal yang tampak.
- Iman — keyakinan yang mantap di dalam hati, yang melahirkan amal-amal batin seperti rasa takut, harap, cinta, dan tawakkal kepada Allah.
Imam an-Nawawi menambahkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada Sa'd agar berhati-hati dalam menetapkan derajat iman seseorang, karena:
- Iman adalah perkara batin yang hanya Allah yang mengetahui hakikatnya.
- Menetapkan seseorang sebagai "mukmin" secara mutlak bisa mengandung pengkultusan yang tidak pada tempatnya.
- Seorang Muslim yang amalnya belum sempurna tetap disebut Muslim, dan itu sudah cukup sebagai pujian yang benar.
Syaikh as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat ini juga menjadi dalil bahwa iman memiliki tingkatan, dan tidak semua Muslim berada pada derajat iman yang sama. Ini sejalan dengan hadits lain tentang cabang-cabang iman (riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) yang menyebutkan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama:
Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah berpendapat bahwa Islam dan iman pada dasarnya satu hakikat, namun berbeda penekanan. Sementara Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa ketika keduanya disebut bersamaan, maka keduanya berbeda; tetapi ketika disebut sendiri-sendiri, masing-masing mencakup yang lain.
Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan as-Sa'di — adalah bahwa Islam dan iman berbeda ketika disebut bersamaan, dan hadits ini menjadi dalil utamanya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه — yang dikenal sebagai salah satu sahabat paling utama dan doanya mustajab — merasa heran melihat seseorang yang tidak diberi bagian oleh Nabi ﷺ padahal ia telah masuk Islam. Dalam kebaikan hatinya, Sa'd ingin membela orang tersebut.
Namun Nabi ﷺ dengan lembut mengoreksi: "Jangan katakan 'mukmin', katakan 'muslim'."
Pelajaran yang bisa kita ambil: betapa besar adab Nabi ﷺ dalam mengajarkan ilmu. Beliau tidak membiarkan kesalahan istilah yang bisa berujung pada pengkultusan atau penetapan derajat yang bukan hak manusia. Az-Zuhri kemudian mengaitkannya dengan ayat Al-Hujurat, menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan sunnah saling menafsirkan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa para salaf sangat berhati-hati dalam menetapkan sifat iman kepada seseorang, karena mereka memahami bahwa iman adalah amanah antara hamba dan Rabb-nya.
Kesimpulan Praktis
- Bedakan antara Islam dan iman ketika keduanya disebut bersamaan: Islam adalah amal lahiriah, iman adalah keyakinan batin yang lebih tinggi.
- Jangan mudah menetapkan derajat iman seseorang hanya berdasarkan penilaian kita, karena hakikat iman ada di hati yang hanya Allah mengetahuinya.
- Gunakan istilah yang tepat dalam berbicara tentang agama, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada Sa'd.
- Berusaha meningkatkan iman dari sekadar Islam lahiriah menuju iman yang kokoh di hati, dengan ilmu, amal, dan mujahadah.
- Husnuzan kepada sesama Muslim — seorang Muslim yang amalnya belum sempurna tetap saudara kita seiman, dan kita tidak boleh merendahkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.