Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4993 tentang Perbedaan iman dan islam dalam pemberian harta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa iman dan Islam memiliki makna yang berbeda ketika disebut secara bersamaan. Islam adalah ketundukan lahiriah dengan amal-amal yang tampak, sedangkan iman adalah keyakinan batin yang lebih tinggi derajatnya. Nabi ﷺ mengajarkan kepada Sa'd bin Abi Waqqash agar tidak sembarangan menetapkan seseorang sebagai "mukmin" hanya berdasarkan penilaian lahiriah, karena hakikat iman ada di dalam hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi latar bab ini:

QS. Al-Hujurat [49]: 14

وَقَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan: "Orang-orang Arab Badui itu berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka): 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah berislam (tunduk),' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Hadits terkait:

Hadits riwayat Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه, dari Sunan An-Nasa'i no. 4993, Kitab Iman dan Syariatnya. Sanadnya: Amru bin Mansur → Hisham bin Abdul Malik → Salam bin Abi Muti' → Ma'mar → Az-Zuhri → Amir bin Sa'd → Sa'd bin Abi Waqqash.

Penjelasan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ketika Islam dan iman disebut bersamaan, maka Islam bermakna amal-amal lahiriah (syariat) dan iman bermakna keyakinan batin. Namun jika disebut sendiri-sendiri, keduanya saling mencakup.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini bukan berarti seorang Muslim tidak beriman, melainkan mengajarkan adab dalam menetapkan derajat iman kepada orang lain tanpa dasar wahyu.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Hujurat [49]: 14 menjelaskan bahwa kaum Badui (A'rab) yang baru masuk Islam belum mencapai derajat iman yang sempurna, karena iman menuntut pembenaran hati yang kokoh dan amal yang istiqamah.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan iman lebih khusus daripada Islam; setiap mukmin adalah muslim, tetapi tidak setiap muslim otomatis mencapai derajat mukmin yang sempurna.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits:

Rasulullah ﷺ sedang membagikan harta (dalam sebagian riwayat disebut sebagai bagian dari ghanimah/rampasan perang). Beliau memberi kepada sebagian orang dan tidak memberi kepada sebagian lainnya. Ini adalah kebijaksanaan beliau dalam ta'lif al-qulub (menarik hati orang-orang yang baru masuk Islam agar imannya semakin kokoh).

Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — melihat seseorang yang tidak diberi, lalu berkata: "Wahai Rasulullah, engkau memberi si fulan dan menahan dari si fulan, padahal dia seorang mukmin?"

Nabi ﷺ menjawab: "Jangan katakan 'mukmin', katakan 'muslim'."

Pemahaman ulama:

Az-Zuhri (perawi hadits ini) mengaitkan jawaban Nabi ﷺ dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 14, di mana Allah membedakan antara "iman" dan "Islam" bagi kaum Badui yang baru masuk.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa perbedaan ini bukanlah perbedaan yang saling menafikan, melainkan perbedaan derajat:

  1. Islam — ketundukan secara lahiriah: mengucapkan syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan amal-amal yang tampak.
  2. Iman — keyakinan yang mantap di dalam hati, yang melahirkan amal-amal batin seperti rasa takut, harap, cinta, dan tawakkal kepada Allah.

Imam an-Nawawi menambahkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada Sa'd agar berhati-hati dalam menetapkan derajat iman seseorang, karena:

  • Iman adalah perkara batin yang hanya Allah yang mengetahui hakikatnya.
  • Menetapkan seseorang sebagai "mukmin" secara mutlak bisa mengandung pengkultusan yang tidak pada tempatnya.
  • Seorang Muslim yang amalnya belum sempurna tetap disebut Muslim, dan itu sudah cukup sebagai pujian yang benar.

Syaikh as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat ini juga menjadi dalil bahwa iman memiliki tingkatan, dan tidak semua Muslim berada pada derajat iman yang sama. Ini sejalan dengan hadits lain tentang cabang-cabang iman (riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) yang menyebutkan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah berpendapat bahwa Islam dan iman pada dasarnya satu hakikat, namun berbeda penekanan. Sementara Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa ketika keduanya disebut bersamaan, maka keduanya berbeda; tetapi ketika disebut sendiri-sendiri, masing-masing mencakup yang lain.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan as-Sa'di — adalah bahwa Islam dan iman berbeda ketika disebut bersamaan, dan hadits ini menjadi dalil utamanya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash رضي الله عنه — yang dikenal sebagai salah satu sahabat paling utama dan doanya mustajab — merasa heran melihat seseorang yang tidak diberi bagian oleh Nabi ﷺ padahal ia telah masuk Islam. Dalam kebaikan hatinya, Sa'd ingin membela orang tersebut.

Namun Nabi ﷺ dengan lembut mengoreksi: "Jangan katakan 'mukmin', katakan 'muslim'."

Pelajaran yang bisa kita ambil: betapa besar adab Nabi ﷺ dalam mengajarkan ilmu. Beliau tidak membiarkan kesalahan istilah yang bisa berujung pada pengkultusan atau penetapan derajat yang bukan hak manusia. Az-Zuhri kemudian mengaitkannya dengan ayat Al-Hujurat, menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan sunnah saling menafsirkan.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa para salaf sangat berhati-hati dalam menetapkan sifat iman kepada seseorang, karena mereka memahami bahwa iman adalah amanah antara hamba dan Rabb-nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bedakan antara Islam dan iman ketika keduanya disebut bersamaan: Islam adalah amal lahiriah, iman adalah keyakinan batin yang lebih tinggi.
  2. Jangan mudah menetapkan derajat iman seseorang hanya berdasarkan penilaian kita, karena hakikat iman ada di hati yang hanya Allah mengetahuinya.
  3. Gunakan istilah yang tepat dalam berbicara tentang agama, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada Sa'd.
  4. Berusaha meningkatkan iman dari sekadar Islam lahiriah menuju iman yang kokoh di hati, dengan ilmu, amal, dan mujahadah.
  5. Husnuzan kepada sesama Muslim — seorang Muslim yang amalnya belum sempurna tetap saudara kita seiman, dan kita tidak boleh merendahkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?