Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4991 tentang Rukun Islam dan penjelasannya kepada orang asing

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini dikenal sebagai Hadits Jibril, yaitu ketika Malaikat Jibril datang dalam wujud manusia untuk mengajarkan kepada para sahabat secara langsung tiga tingkatan agama: Islam, Iman, dan Ihsan, serta tanda-tanda hari kiamat. Hadits ini menjadi salah satu hadits paling mendasar dalam memahami pokok agama, karena Rasulullah ﷺ sendiri yang menjawab pertanyaan Jibril, lalu membenarkan jawabannya. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai induk pembahasan aqidah, fiqih, dan akhlak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Sifat Iman dan Islam, dari Abu Hurairah dan Abu Dzarr رضي الله عنهما. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه (dengan lafaz yang sedikit berbeda), dan itulah riwayat yang paling masyhur di kalangan ulama.

Ayat yang disebutkan di akhir hadits adalah:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

QS. Luqman [31]: 34

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan hadits agung yang mengumpulkan pokok-pokok ilmu agama, dan karena itulah sebagian ulama menyebutnya "Ummu as-Sunnah" (induk sunnah), sebagaimana Al-Fatihah disebut "Ummul Qur'an". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa hadits ini mencakup penjelasan Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda kiamat secara terpadu.

Penjelasan Rinci

1. Adab Nabi ﷺ dalam Majelis

Para sahabat membangun bangku dari tanah liat agar orang asing mudah mengenali Nabi ﷺ. Ini menunjukkan tawadhu' (kerendahan hati) beliau — beliau duduk bersama sahabat tanpa sekat, tidak menonjolkan diri, namun tetap memudahkan orang yang datang untuk mengenalnya. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan bermajelis dengan ilmu dan memudahkan orang awam menemui pemimpin.

2. Kedatangan Jibril dalam Wujud Manusia

Jibril datang dengan penampilan paling tampan, paling harum, dan pakaian yang bersih — tidak seperti orang yang baru menempuh perjalanan jauh. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penampakan Jibril dalam rupa manusia, sebagaimana disebutkan di akhir hadits bahwa ia menyerupai Dihyah al-Kalbi, seorang sahabat yang terkenal tampan.

3. Definisi Islam

Rasulullah ﷺ menyebutkan lima rukun Islam:

  • Syahadat (mengesakan Allah, tidak menyekutukan-Nya)
  • Shalat
  • Zakat
  • Haji
  • Puasa Ramadhan

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa Islam di sini bermakna amal lahiriah yang tampak — yaitu perkataan dan perbuatan anggota badan. Inilah yang menjadi pembahasan utama dalam kitab-kitab fiqih.

4. Definisi Iman

Rasulullah ﷺ menyebutkan enam rukun Iman:

  • Iman kepada Allah
  • Malaikat-malaikat-Nya
  • Kitab-kitab-Nya
  • Para nabi
  • Takdir (dalam riwayat lain: hari akhir)

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa Iman di sini bermakna keyakinan batin yang tersembunyi di hati. Inilah yang menjadi pembahasan utama dalam kitab-kitab aqidah. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan — bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

5. Definisi Ihsan

Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya; jika tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa Ihsan adalah puncak ibadah — yaitu menghadirkan hati sepenuhnya di hadapan Allah, merasa diawasi, sehingga melahirkan kekhusyukan dan keikhlasan.

6. Pertanyaan tentang Hari Kiamat

Ketika ditanya kapan kiamat, Nabi ﷺ menundukkan kepala dan tidak menjawab. Beliau lalu bersabda bahwa orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya, dan menyebutkan tanda-tandanya:

  • Para penggembala unta yang miskin berlomba membangun gedung tinggi
  • Orang-orang telanjang dan miskin menjadi penguasa bumi
  • Seorang wanita melahirkan tuannya (para ulama menafsirkan: banyaknya durhaka kepada orang tua, sehingga seorang ibu melahirkan anak yang kemudian memperbudaknya)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ilmu tentang kapan terjadinya kiamat adalah mutlak milik Allah, dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya — termasuk para nabi dan malaikat.

7. Pengakuan Jibril

Di akhir hadits, Nabi ﷺ bersabda: "Tidak, demi yang mengutus Muhammad dengan kebenaran... ia adalah Jibril yang turun dalam bentuk Dihyah al-Kalbi." Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak mengenali Jibril karena ia datang dalam wujud manusia, dan bahwa malaikat bisa menampakkan diri dalam bentuk manusia dengan izin Allah.

Perbedaan Pendapat di Antara Ulama

Para ulama berbeda pendapat apakah Islam dan Iman itu sama atau berbeda:

  • Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa Islam dan Iman pada hakikatnya sama, hanya berbeda dari sisi penekanan (lahir vs batin).
  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa keduanya berbeda: Islam adalah amal lahiriah, Iman adalah keyakinan batin. Namun jika disebutkan secara terpisah, masing-masing mencakup yang lain.

Ibnu Rajab menguatkan pendapat kedua, dan inilah yang paling kuat berdasarkan dalil, karena hadits ini sendiri memisahkan keduanya dalam pertanyaan yang berbeda.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah Jibril pergi, Nabi ﷺ bertanya kepada Umar bin al-Khaththab (dalam riwayat Muslim): "Wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?" Umar menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi ﷺ bersabda: "Itu adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa para sahabat merasa heran ketika lelaki itu berkata "Kamu benar" — karena ia bertanya lalu membenarkan jawaban sendiri, yang tidak lazim dilakukan oleh orang yang benar-benar bertanya. Baru setelah Nabi ﷺ menjelaskan, mereka memahami bahwa itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kepada mereka secara langsung.

Hikmahnya: ilmu agama ini datang melalui perantara wahyu, bukan hasil spekulasi manusia. Jibril sendiri yang datang mengajarkannya, dan Nabi ﷺ yang menyampaikannya kepada umat.

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari tiga tingkatan agama: Islam (amal lahir), Iman (keyakinan batin), dan Ihsan (kesadaran diawasi Allah) — ketiganya harus ada dalam diri seorang muslim.
  2. Jaga rukun Islam yang lima dengan sungguh-sungguh, karena itu pintu masuk ke dalam agama.
  3. Tanamkan rukun Iman yang enam di dalam hati, termasuk iman kepada takdir.
  4. Hadirkan Ihsan dalam setiap ibadah — shalat, dzikir, sedekah — dengan merasa diawasi Allah.
  5. Jangan sibuk menanyakan kapan kiamat, tetapi sibuklah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
  6. Beradab dalam majelis ilmu, memudahkan orang lain belajar, dan tidak merasa lebih tahu dari yang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?