Penjelasan Hadits Nasa'i No. 478 tentang Ancaman meninggalkan shalat Ashar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memperingatkan dengan sangat keras tentang bahaya meninggalkan atau melewatkan shalat Ashar hingga waktunya habis. Rasulullah ﷺ menggambarkan orang yang kehilangan shalat Ashar seperti orang yang kehilangan seluruh keluarga dan hartanya — sebuah kerugian yang sangat besar. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Ashar dan betapa seriusnya dosa meninggalkannya tanpa udzur syar'i.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan An-Nasa'i no. 478, Kitab Shalat, Bab Shalat Ashar dalam Perjalanan), dari Nawfal bin Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, dan juga dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma:

> مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

"Siapa yang terlewat shalat Ashar, maka seolah-olah ia kehilangan keluarga dan hartanya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dengan lafaz serupa, sehingga derajatnya shahih dan disepakati.

Ayat yang berkaitan — Allah memerintahkan menjaga shalat:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

> حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk."

Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dan Qatadah menyebut bahwa "shalat wustha" dalam ayat ini adalah shalat Ashar, berdasarkan hadits-hadits shahih yang menegaskannya.

Penjelasan Rinci

Makna "وُتِرَ" (wutira): Kata ini berasal dari akar "witr" yang berarti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, seperti seseorang yang keluarganya dibunuh atau hartanya dirampas. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah perumpamaan (tamtsil) untuk menggambarkan kerugian yang menyeluruh — bukan sekadar kehilangan satu hal, tetapi kehilangan segala yang paling dicintai.

Mengapa shalat Ashar secara khusus disebutkan?

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan beberapa alasan:

  1. Shalat Ashar berada di waktu sibuk manusia — akhir siang, saat orang sibuk bekerja dan berdagang, sehingga paling mudah dilalaikan.
  2. Ia adalah "shalat wustha" menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama, sehingga penekanannya lebih besar.
  3. Waktunya sempit dan sering terlewat tanpa disadari.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan shalat Ashar memiliki keutamaan khusus, dan meninggalkannya dengan sengaja termasuk dosa besar. Beliau menegaskan bahwa "faut" (terlewat) di sini mencakup:

  • Meninggalkan shalat sama sekali hingga keluar waktunya tanpa udzur.
  • Menunda shalat hingga keluar waktunya dengan sengaja.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan kerugian yang tidak bisa ditebus — karena keluarga dan harta adalah dua hal yang paling dicintai manusia, dan kehilangan keduanya adalah puncak musibah. Maka kehilangan shalat Ashar lebih besar musibahnya di akhirat.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ibnul Mubarak (yang juga perawi dalam sanad hadits ini) dan Ishaq bin Rahuyah memahami hadits ini sebagai ancaman keras (tahdid) bagi yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja tanpa udzur. Adapun jika seseorang tertidur atau lupa, maka ia wajib mengqadha dan tidak berdosa — sebagaimana hadits "Barangsiapa tertidur atau lupa shalat, maka kaffarahnya adalah mengerjakannya ketika ingat" (HR. Muslim). Pendapat yang paling kuat: ancaman ini berlaku bagi yang meninggalkan dengan sengaja dan meremehkan, bukan bagi yang memiliki udzur syar'i.

Story Telling

Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — dikenal sangat ketat menjaga shalat. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menceritakan bahwa Ibnu Umar pernah berkata tentang shalat Ashar: "Barangsiapa meninggalkannya, maka ia seperti orang yang kehilangan keluarganya." Beliau sendiri tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah hingga wafat, bahkan ketika sudah sangat tua dan lemah.

Al-Hasan al-Bashri (tabi'in) pernah ditanya tentang seseorang yang sibuk bekerja hingga melewatkan Ashar. Beliau menjawab dengan tegas: "Demi Allah, kerugiannya lebih besar daripada kehilangan dunia dan seisinya." Ini menunjukkan bagaimana salaf memandang shalat bukan sebagai rutinitas, tetapi sebagai poros kehidupan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat Ashar dengan sangat ketat — jadikan ia prioritas, atur jadwal kerja dan aktivitas agar tidak melewatinya.
  2. Segera qadha jika terlewat karena lupa atau tidur — jangan tunda, karena kaffarahnya adalah mengerjakannya saat ingat.
  3. Jangan remehkan peringatan Nabi ﷺ — ungkapan "kehilangan keluarga dan harta" adalah tamtsil kerugian hakiki di akhirat.
  4. Perbanyak doa agar Allah menjaga shalat kita — karena menjaga shalat adalah tanda keimanan yang benar.
  5. Ingatkan keluarga dan sahabat dengan lembut tentang pentingnya shalat Ashar, terutama di waktu sibuk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?