Penjelasan Hadits Nasa'i No. 465 tentang Shalat pertama dihisab, penentu keberuntungan hamba

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa amal pertama yang dihisab (dihitung) pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalat wajib seseorang sempurna dan baik, maka ia beruntung; jika rusak atau kurang, maka ia merugi. Kekurangan pada shalat wajib bisa ditutup dengan shalat sunnah (tathawwu'), dan demikian pula perhitungan amal-amal lainnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Huraith bin Qabisah dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dalam Sunan An-Nasa'i no. 465, Kitab Shalat, Bab Pertanggungjawaban atas Shalat. Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan makna serupa, dan sebagian ulama seperti Al-Albani menilainya shahih.

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2

```

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

```

Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya."

QS. Al-Ma'un [107]: 4-5

```

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

```

Terjemahan: "Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya."

Kaitan dengan ulama:

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (tabi'in) adalah perawi dalam sanad hadits ini, dari Al-Hasan al-Bashri, dari Huraith bin Qabisah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan shalat adalah amal pertama yang dihisab, dan menjadi tolok ukur amal lainnya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan pentingnya menjaga shalat wajib dan melengkapinya dengan sunnah.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha menjelaskan bahwa shalat adalah timbangan amal seorang hamba.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa kesempurnaan shalat mencerminkan kesempurnaan iman.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran utama:

Pertama, shalat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Ini menunjukkan kedudukan shalat yang sangat agung dalam Islam. Sebagaimana dijelaskan Ibn Qayyim al-Jawziyyah, shalat adalah hak Allah yang paling utama atas seorang hamba setelah tauhid.

Kedua, ukuran keberuntungan dan kerugian seorang hamba di akhirat bergantung pada kualitas shalatnya. Jika shalatnya shalabat (baik, sah, dan sempurna), maka ia beruntung. Jika fasadat (rusak), maka ia merugi. Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa shalat adalah cahaya seorang mukmin; siapa yang menjaga shalatnya, ia akan mendapatkan cahayanya di hari kiamat.

Ketiga, kekurangan pada shalat wajib dapat ditutup dengan shalat sunnah (tathawwu'). Ini menunjukkan rahmat Allah yang luas. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa shalat-shalat sunnah rawatib dan mutlak akan melengkapi kekurangan pada shalat fardhu, baik kekurangan dalam hal khusyuk, syarat, maupun hal lainnya.

Keempat, hadits ini juga menyebutkan bahwa seluruh amal lainnya akan diperlakukan dengan cara yang sama — yakni zakat, puasa, haji, dan seterusnya juga akan dihisab dengan pola yang sama: jika wajibnya kurang, sunnahnya akan melengkapinya.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar:

  • Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "shalat sunnah yang melengkapi" sebagai shalat sunnah rawatib, sebagian lagi mencakup semua shalat sunnah.
  • At-Tirmidzi meriwayatkan hadits serupa dan menilainya hasan. Al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Sunan An-Nasa'i.
  • Pendapat yang paling kuat: shalat sunnah yang dimaksud mencakup semua shalat sunnah (rawatib dan mutlak), karena keumuman lafazh "tathawwu'".

Catatan sanad: Dalam hadits ini, Hammam (salah satu perawi) berkata: "Aku tidak tahu apakah ini perkataan Qatadah atau bagian dari riwayat." Ini menunjukkan kehati-hatian para perawi dalam menjaga keakuratan hadits. Abu Dawud dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits ini, sehingga saling menguatkan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Huraith bin Qabisah datang ke Madinah dengan niat mulia: ia berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan teman saleh yang bisa memberinya manfaat ilmu. Allah mengabulkan doanya dengan mempertemukannya dengan Abu Hurairah رضي الله عنه, sahabat Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Huraith berkata kepada Abu Hurairah: "Aku berdoa kepada Allah agar diberi teman saleh, maka ceritakanlah kepadaku hadits yang engkau dengar dari Rasulullah ﷺ, semoga Allah memberiku manfaat darinya."

Abu Hurairah pun menyampaikan hadits agung ini — tentang hisab shalat. Kisah ini mengajarkan kepada kita:

  1. Adab mencari ilmu: Huraith berdoa sebelum mencari ilmu, menunjukkan bahwa ilmu adalah karunia Allah yang harus diminta dengan doa.
  2. Semangat para salaf: Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan bertemu orang saleh untuk mengambil ilmu.
  3. Keutamaan Abu Hurairah: Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan hadits ini termasuk yang beliau sampaikan dengan penuh amanah.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat perhatian terhadap hadits-hadits tentang shalat, karena shalat adalah amal pertama yang dihisab.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat wajib dengan sebaik-baiknya: tepat waktu, khusyuk, dan sesuai sunnah Nabi ﷺ.
  2. Perbanyak shalat sunnah (rawatib dan mutlak) sebagai tabungan untuk menutup kekurangan shalat wajib.
  3. Muhasabah diri setiap hari: sudahkah shalat kita berkualitas?
  4. Berdoa kepada Allah agar diberi teman saleh yang membantu kita taat, sebagaimana doa Huraith bin Qabisah.
  5. Ingatlah hari hisab: shalat adalah amal pertama yang ditimbang, maka persiapkanlah sejak sekarang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?