Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi bai'at (janji setia) yang diminta Rasulullah ﷺ dari para sahabat, yang intinya ada tiga perkara: pertama, beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya; kedua, menegakkan shalat lima waktu; dan ketiga, tidak meminta-minta kepada manusia. Ini adalah pondasi agama yang agung, dan hadits ini menunjukkan bahwa shalat lima waktu adalah salah satu pilar terpenting setelah tauhid.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Bai'at untuk Shalat Lima Waktu, no. 460. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat 'Auf bin Malik Al-Asyja'i Radhiyallahu 'Anhu.
Adapun dalil dari Al-Qur'an tentang perintah shalat, Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Baqarah [2]: 43
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk."
QS. Thaha [20]: 14
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa tauhid (ibadah hanya kepada Allah) dan shalat adalah perintah yang beriringan, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat agung tentang inti ajaran Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa bai'at Nabi ﷺ kepada para sahabat selalu menekankan perkara-perkara pokok, dan di antaranya adalah tauhid dan shalat.
Beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Bai'at adalah janji setia yang agung. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa bai'at kepada Nabi ﷺ adalah bentuk komitmen untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bai'at ini bukan sekadar formalitas, tetapi ikrar yang mengikat.
2. Tauhid adalah pondasi pertama. Nabi ﷺ memulai dengan "menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu." Ini menunjukkan bahwa tauhid adalah kunci diterimanya semua amal. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menegaskan bahwa tauhid adalah hak Allah yang paling besar atas hamba-Nya, dan tanpa tauhid, amal ibadah tidak akan diterima.
3. Shalat lima waktu adalah tiang agama. Setelah tauhid, Nabi ﷺ langsung menyebut shalat lima waktu. Ini menunjukkan kedudukan shalat yang sangat tinggi. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha menjelaskan bahwa shalat adalah tiang agama, dan meninggalkannya termasuk dosa besar yang sangat berbahaya. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in seperti Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia tidak memiliki bagian dalam Islam.
4. Larangan meminta-minta. Kalimat yang diucapkan pelan oleh Nabi ﷺ adalah "jangan meminta kepada manusia sesuatu pun." Ini adalah pelajaran adab yang sangat tinggi. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menjaga kehormatan diri dan tidak memberatkan orang lain dengan permintaan, kecuali dalam keadaan darurat yang dibenarkan syariat.
5. Urutan penyebutan menunjukkan urutan prioritas. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits-hadits bai'at, Nabi ﷺ selalu memulai dari perkara yang paling penting, yaitu tauhid, kemudian shalat. Ini mengajarkan kita untuk mendahulukan perkara yang lebih utama dalam dakwah dan pengajaran.
6. Tentang kalimat yang dirahasiakan. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan kalimat terakhir dengan pelan karena ini adalah nasihat khusus yang bersifat adab dan keutamaan, bukan kewajiban yang bersifat umum. Namun, maknanya tetap berlaku dan menjadi pelajaran berharga bagi umat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa 'Auf bin Malik Al-Asyja'i Radhiyallahu 'Anhu adalah salah satu sahabat yang mulia. Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Muslim, 'Auf bin Malik berkata: "Aku pernah ikut serta dalam perang Tabuk bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau adalah orang yang paling baik dan paling lembut kepada manusia."
Kisah dalam hadits ini menunjukkan betapa para sahabat sangat antusias untuk berbai'at kepada Rasulullah ﷺ. Ketika beliau mengulangi tawarannya tiga kali, mereka segera mengulurkan tangan tanpa ragu. Ini menunjukkan kecintaan dan ketaatan mereka yang luar biasa. Namun, mereka juga bertanya, "Atas dasar apa kami berbai'at?" Ini menunjukkan bahwa bai'at dalam Islam bukanlah buta, tetapi berdasarkan pemahaman dan kesadaran akan konsekuensinya.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa seorang muslim hendaknya bersegera dalam ketaatan, tetapi juga memahami apa yang ia ikrarkan. Inilah sikap para sahabat yang menjadi teladan bagi kita.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Menjaga tauhid dengan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil.
- Menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah di masjid bagi laki-laki, karena shalat adalah tiang agama dan pembeda antara muslim dan kafir.
- Melatih diri untuk tidak meminta-minta kepada manusia, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Jika membutuhkan, berusahalah terlebih dahulu, dan hanya meminta kepada Allah.
- Meneladani para sahabat dalam kesegeraan berkomitmen kepada kebaikan dan ketaatan.
- Mendahulukan perkara pokok dalam dakwah dan pengajaran, yaitu tauhid dan shalat, sebelum perkara-perkara cabang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.