Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah riwayat terkenal tentang peristiwa Isra' Mi'raj, khususnya bagian perjalanan Nabi ﷺ dari Masjidil Haram menembus langit-langit hingga menerima kewajiban shalat lima waktu. Di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang kemuliaan Nabi ﷺ, kedudukan shalat, dan kasih sayang Allah yang meringankan beban hamba-Nya. Hadits ini juga menunjukkan betapa para nabi saling menasihati dan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Peristiwa Isra' Mi'raj disebutkan dalam Al-Qur'an, di antaranya:
QS. Al-Isra' [17]: 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
QS. An-Najm [53]: 13–18 juga mengisyaratkan tentang penyaksian Nabi ﷺ terhadap tanda-tanda besar Tuhannya, yang oleh para ulama seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani dikaitkan dengan peristiwa Mi'raj.
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, dan juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan jalur yang berbeda. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits pokok tentang Isra' Mi'raj dan kewajiban shalat.
Penjelasan Rinci
1. Makna umum hadits
Hadits ini menceritakan perjalanan agung Nabi ﷺ dari Masjidil Haram menuju langit-langit, bertemu para nabi, hingga menerima perintah shalat. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menegaskan bahwa Isra' Mi'raj terjadi dengan ruh dan jasad Nabi ﷺ dalam keadaan sadar, bukan mimpi. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim.
2. Pembelahan dada dan pencucian hati
Nabi ﷺ dibawa sebuah baskom emas berisi hikmah dan iman, lalu hati beliau dibersihkan dengan air Zamzam dan dipenuhi hikmah serta iman. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah persiapan ruhani sebelum menghadap Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa ini menunjukkan kesucian hati Nabi ﷺ dan kesiapan beliau menerima wahyu agung.
3. Pertemuan dengan para nabi
Nabi ﷺ bertemu Adam, Yahya, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim عليه السلام. Setiap nabi menyambut beliau dengan hormat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini menunjukkan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ yang mulia di antara para nabi. Tangisan Musa عليه السلام karena umat Nabi Muhammad ﷺ lebih banyak masuk surga adalah bukti keutamaan umat ini, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
4. Al-Bait al-Ma'mur dan Sidratul Muntaha
Al-Bait al-Ma'mur adalah rumah di langit yang dihuni malaikat, setiap hari 70.000 malaikat shalat di dalamnya dan tidak kembali lagi. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ini menunjukkan betapa banyaknya malaikat dan betapa agungnya ibadah mereka. Sidratul Muntaha adalah pohon di batas tertinggi, buahnya seperti qilal Hajar (wadah besar dari Hajar, Yaman) dan daunnya seperti telinga gajah. Empat sungai mengalir dari dasarnya: dua di surga dan dua di dunia (Eufrat dan Nil). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah simbol keberkahan dan luasnya rahmat Allah.
5. Kewajiban shalat lima puluh hingga lima waktu
Awalnya Allah mewajibkan 50 shalat. Nabi ﷺ berulang kali kembali kepada Allah atas saran Musa عليه السلام hingga akhirnya menjadi 5 shalat, namun pahalanya tetap 50. Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan bahwa ini menunjukkan kasih sayang Allah dan syafaat Nabi ﷺ bagi umatnya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa shalat adalah ibadah yang langsung diterima Nabi ﷺ dari Allah tanpa perantara, menunjukkan kemuliaannya.
6. Perbedaan pendapat ulama
Tentang apakah Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad atau ruh saja, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi menguatkan bahwa itu terjadi dengan jasad dan ruh dalam keadaan sadar. Pendapat ini yang paling kuat berdasarkan dalil Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ menceritakannya kepada penduduk Makkah. Abu Bakar ash-Shiddiq langsung membenarkan tanpa ragu. Ketika ditanya bagaimana ia bisa percaya, beliau berkata: "Aku sudah membenarkan yang lebih besar dari itu, yaitu wahyu dari langit." Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan kisah ini sebagai bukti keimanan Abu Bakar yang kokoh. Hikmahnya: keimanan sejati tidak menuntut bukti fisik, tetapi tunduk pada kebenaran wahyu.
Kesimpulan Praktis
- Shalat adalah ibadah agung yang langsung diperintahkan Allah kepada Nabi ﷺ tanpa perantara.
- Kasih sayang Allah terlihat dari pengurangan kewajiban shalat dari 50 menjadi 5, namun pahalanya tetap 50.
- Meneladani Nabi ﷺ dalam kesabaran dan ketaatan, serta meneladani para nabi dalam saling menasihati.
- Menjaga shalat sebagai bentuk syukur atas kemudahan yang Allah berikan.
- Meyakini Isra' Mi'raj sebagai mukjizat Nabi ﷺ yang shahih, sebagaimana dijelaskan para ulama Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.