Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3856 tentang Pentingnya mengucapkan insya Allah dalam sumpah

Penjelasan Hadits Sunan An-Nasa'i No. 3856

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang hamba hendaknya menggantungkan segala keinginan dan sumpahnya kepada kehendak Allah dengan mengucapkan "insya Allah". Nabi Sulaiman 'alaihissalam pernah bersumpah tanpa menyebut insya Allah, sehingga apa yang beliau inginkan tidak tercapai. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seandainya beliau mengucapkan insya Allah, maka sumpahnya tidak dilanggar dan keinginannya akan tercapai.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Kahfi [18]: 23-24

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan melakukan itu besok,' kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah.' Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika engkau lupa."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Sumpah dan Nazar, Bab Istisna'. Perawi sahabat: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya istisna' (mengucapkan insya Allah) dalam sumpah dan janji.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ucapan insya Allah dalam sumpah mencegah terjadinya pelanggaran sumpah (hanats).
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-Kahfi di atas berkaitan langsung dengan kisah Nabi Sulaiman ini.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi Sulaiman 'alaihissalam adalah seorang nabi yang diberi kekuasaan luar biasa oleh Allah. Suatu malam beliau bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa beliau akan menggauli sembilan puluh istrinya, dan setiap istri akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan berjuang di jalan Allah. Namun beliau tidak mengucapkan "insya Allah".

Akibatnya, dari sembilan puluh wanita tersebut, hanya satu yang hamil, dan itupun melahirkan anak yang tidak sempurna (setengah manusia). Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan insya Allah, maka:

  1. Beliau tidak akan melanggar sumpahnya (tidak berdosa).
  2. Keinginannya akan tercapai (yakni apa yang beliau harapkan akan terwujud).

Pemahaman para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang adab seorang hamba kepada Allah. Sebesar apapun kekuasaan dan kedudukan seseorang, ia tetap bergantung kepada kehendak Allah. Sumpah tanpa insya Allah menunjukkan kurangnya tawakal dan merasa yakin atas kemampuan diri sendiri.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa mengucapkan insya Allah dalam sumpah adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan sebagian ulama menyatakan wajib, karena meninggalkannya dapat menyebabkan seseorang terjatuh dalam pelanggaran sumpah.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Kahfi [18]: 23-24 turun berkaitan dengan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar tidak mengatakan sesuatu tentang masa depan tanpa menyebut insya Allah. Ini merupakan adab ilahi yang berlaku umum bagi seluruh hamba.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa istisna' (mengucapkan insya Allah) adalah bentuk pengakuan seorang hamba atas kelemahannya dan ketergantungannya kepada Allah. Barangsiapa meninggalkannya karena merasa yakin dengan kemampuannya sendiri, maka ia telah terjatuh dalam sikap sombong yang tersembunyi.

Perbedaan pendapat ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengucapkan insya Allah dalam sumpah:

  • Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan jika ditinggalkan tidak berdosa selama sumpahnya ditunaikan.
  • Sebagian ulama berpendapat wajib, berdasarkan zhahir hadits ini yang menunjukkan bahwa meninggalkannya menyebabkan pelanggaran sumpah.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur, karena Nabi Sulaiman 'alaihissalam tetap dianggap tidak melanggar sumpah dalam arti berdosa, namun beliau kehilangan keberkahan dan keinginannya tidak tercapai. Wallahu a'lam.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman 'alaihissalam, seorang nabi yang memiliki kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun setelahnya, suatu malam berkata dengan penuh semangat: "Malam ini aku akan mengelilingi sembilan puluh istriku, dan setiap dari mereka akan melahirkan seorang lelaki yang akan berjuang di jalan Allah."

Beliau begitu yakin dengan kekuatan dan kemampuannya, sehingga lupa bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan izin Allah. Tidak ada satu pun yang mengingatkan beliau untuk mengucapkan insya Allah, dan beliau sendiri pun tidak mengucapkannya.

Malam itu berlalu. Sembilan puluh wanita telah beliau datangi. Namun takdir Allah berkata lain. Hanya satu wanita yang hamil, dan itupun melahirkan seorang anak yang tidak sempurna. Bukan pasukan yang lahir, bukan pejuang yang datang, melainkan hanya satu tubuh setengah manusia.

Rasulullah ﷺ menceritakan kisah ini kepada para sahabat sebagai pelajaran berharga: "Seandainya Sulaiman mengucapkan 'insya Allah', niscaya dia tidak akan melanggar sumpahnya, dan apa yang dia inginkan akan tercapai."

Hikmah: Sebesar apapun kekuatan, kekayaan, dan kedudukan seseorang, semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah. Ucapan insya Allah bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan tulus bahwa Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan mengucapkan "insya Allah" ketika berjanji, bersumpah, atau merencanakan sesuatu untuk masa depan.
  2. Sadari bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah, bukan pada kekuatan atau kemampuan diri sendiri.
  3. Jangan merasa sombong dengan kemampuan diri, karena sebesar apapun usaha manusia, hasilnya tetap di tangan Allah.
  4. Jika lupa mengucapkan "insya Allah", maka ingatlah dan sebutlah segera, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Kahfi [18]: 24: "Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika engkau lupa."
  5. Ucapan "insya Allah" adalah bentuk tawakal yang membawa keberkahan dan mencegah terjadinya pelanggaran sumpah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?