Bab Jatuhnya Shalat bagi Wanita Haid
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ، قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ مُعَاذَةَ الْعَدَوِيَّةِ، قَالَتْ سَأَلَتِ امْرَأَةٌ عَائِشَةَ أَتَقْضِي الْحَائِضُ الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قَدْ كُنَّا نَحِيضُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلاَ نَقْضِي وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءٍ .
Diriwayatkan bahwa Mu'adhah Al-'Adawiyyah berkata: "Seorang wanita bertanya kepada 'Aisyah: 'Apakah wanita haid harus mengqadha shalat yang terlewat? Dia menjawab: 'Apakah kamu seorang Haruri? 1 Kami biasa haid di masa Rasulullah (ﷺ) tetapi kami tidak mengqadha shalat yang terlewat dan tidak diperintahkan untuk melakukannya.'" 1 Maksudnya, apakah kamu termasuk Khawarij. Harura adalah tempat yang terkait dengan kelompok Khawarij.
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
