Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3644 tentang Peringatan Nabi kepada kerabat untuk selamat dari api neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ kepada seluruh kaumnya, terutama keluarga terdekatnya, bahwa nasab dan kekerabatan tidak akan menyelamatkan seseorang dari siksa Allah. Yang menyelamatkan hanyalah iman dan amal saleh. Bahkan putri beliau sendiri, Fatimah radhiyallahu 'anha, diperingatkan secara khusus agar tidak bergantung pada statusnya sebagai putri Rasulullah ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."

(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 214)

Hadits terkait:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Wasiat, Bab "Jika Ia Berwasiat untuk Keluarganya yang Terdekat" (no. 3644). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 204) dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4771) dengan redaksi yang semakna.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi ﷺ langsung mengumpulkan kerabatnya dan menyampaikan peringatan ini. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa ayat ini turun di awal-awal kenabian, ketika dakwah masih sembunyi-sembunyi, lalu Allah memerintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan kepada keluarga terdekat.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Urgensi Dakwah kepada Keluarga Terdekat

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi ﷺ memulai dakwahnya dari keluarga terdekat. Ini menunjukkan bahwa dakwah harus dimulai dari yang terdekat, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tahrim [66]: 6 yang memerintahkan menjaga keluarga dari api neraka.

2. Nasab Tidak Menyelamatkan Seseorang

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan bahwa kekerabatan dengan orang saleh tidak bermanfaat jika tidak disertai keimanan dan amal saleh. Bahkan Nabi ﷺ sendiri tidak mampu memberikan pertolongan kepada kerabatnya jika mereka dalam keadaan kafir.

3. Makna "Aku Akan Menjaga Hubungan Kekerabatan"

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perkataan Nabi ﷺ "سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا" maknanya: "Aku akan terus menyambung tali silaturahmi dengan kalian selama kalian hidup." Ini menunjukkan bahwa silaturahmi tetap dianjurkan meskipun mereka belum beriman, sebagai bentuk kasih sayang dan harapan akan hidayah.

4. Peringatan Khusus kepada Fatimah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa penyebutan Fatimah secara khusus menunjukkan bahwa orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ pun tidak akan selamat kecuali dengan iman dan amal. Ini adalah bentuk keadilan dan kejujuran dakwah Nabi ﷺ.

5. Tidak Ada Perantara antara Hamba dan Allah

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan prinsip tawassul yang benar. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi perantara keselamatan di hadapan Allah kecuali dengan izin-Nya. Bahkan Nabi ﷺ tidak memiliki kekuasaan untuk menyelamatkan keluarganya tanpa keimanan mereka.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ naik ke bukit Shafa dan berseru: "Wahai Bani Fihr! Wahai Bani 'Adi!" Lalu beliau memanggil kabilah-kabilah Quraisy satu per satu hingga mereka berkumpul. Beliau bertanya: "Bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini akan menyerang kalian, apakah kalian percaya?" Mereka menjawab: "Ya, kami percaya, karena kami tidak pernah mendustakanmu." Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum datangnya azab yang pedih." Maka Abu Lahab berkata: "Celakalah engkau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?" Maka Allah menurunkan surat Al-Lahab.

Hikmah dari kisah ini: Dakwah Nabi ﷺ dimulai dengan kasih sayang dan kejujuran. Beliau tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa beliau penuhi. Beliau menyampaikan kebenaran meskipun ada yang menolak dengan kasar.

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah dakwah dari keluarga terdekat — ajaklah mereka kepada kebaikan dengan hikmah dan kelembutan.
  2. Jangan bergantung pada nasab atau status — keselamatan hanya dengan iman dan amal saleh.
  3. Tetap jalin silaturahmi meskipun ada keluarga yang belum baik agamanya, sebagai bentuk kasih sayang dan harapan hidayah.
  4. Jangan menjadikan perantara selain amal dan iman kepada Allah. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali rahmat Allah.
  5. Sampaikan kebenaran dengan jujur meskipun pahit, sebagaimana Nabi ﷺ menyampaikan peringatan kepada keluarganya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?