Penjelasan Hadits Nasa'i No. 316 tentang Tata cara tayammum dengan debu dan menghembus tangan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang tayammum sebagai pengganti wudhu atau mandi ketika tidak ditemukan air. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa tanah yang suci cukup untuk bersuci, yaitu dengan menepukkan kedua tangan ke tanah, menghembusnya, lalu mengusap wajah dan sebagian lengan. Hadits ini juga menunjukkan adab seorang sahabat dalam mengingatkan pemimpin dengan cara yang lembut dan penuh hormat.

Rujukan Ulama & Dalil

Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

"…maka jika kamu tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu."

(QS. Al-Ma'idah [5]: 6)

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Thaharah, no. 316, dari jalur Abdur-Rahman bin Abza (seorang tabi'in). Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang serupa, dari Ammar bin Yasir رضي الله عنه.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nasa'i memasukkan hadits ini dalam bab tentang tayammum dan menghembus di tangan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama tata cara tayammum.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan tayammum cukup dengan satu kali tepukan untuk wajah dan kedua tangan hingga siku (menurut jumhur) atau hingga pergelangan (menurut sebagian ulama).
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat tayammum bahwa Allah memberi keringanan bagi hamba-Nya ketika tidak ada air.

Penjelasan Rinci

Latar belakang kisah:

Abdur-Rahman bin Abza menceritakan bahwa mereka sedang bersama Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه. Seorang lelaki bertanya tentang keadaan mereka yang kadang tinggal sebulan atau dua bulan tanpa menemukan air. Umar menjawab dengan pendapatnya bahwa ia tidak akan shalat sampai menemukan air. Mendengar itu, Ammar bin Yasir رضي الله عنه mengingatkan Umar tentang peristiwa yang pernah terjadi bersama Nabi ﷺ.

Makna hadits:

  1. Tayammum adalah keringanan dari Allah. Ketika air tidak ditemukan, seorang muslim tidak boleh meninggalkan shalat, tetapi bertayammum dengan tanah suci.
  2. Tata cara tayammum menurut hadits ini:
  • Menepukkan kedua telapak tangan ke tanah (satu kali).
  • Menghembuskan tanah yang menempel di tangan.
  • Mengusap wajah.
  • Mengusap sebagian lengan (dalam riwayat ini disebut "sebagian lengan").
  1. Perbedaan pendapat ulama tentang batas usapan tangan:
  • Jumhur ulama (Malik, Syafi'i, Ahmad) berpendapat: mengusap wajah dan kedua tangan hingga siku, berdasarkan hadits lain dari Ammar yang menyebut "hingga siku."
  • Sebagian ulama seperti Al-Awza'i dan Al-Layts berpendapat cukup hingga pergelangan tangan berdasarkan zahir hadits ini.
  • Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang tayammum saling menafsirkan, dan yang paling kuat adalah pendapat jumhur: wajah dan kedua tangan hingga siku.
  1. Adab dalam mengingatkan pemimpin:
  • Ammar رضي الله عنه mengingatkan Umar dengan cara bertanya: "Apakah Anda ingat…?" — bukan dengan menegur secara kasar.
  • Umar رضي الله عنه menerima kebenaran dan tidak marah. Ini menunjukkan kerendahan hati seorang pemimpin yang adil.
  • Ketika Ammar menawarkan untuk tidak menyebutkan hadits itu lagi karena khawatir menyinggung perasaan Umar, Umar justru berkata: "Tidak, kami akan membiarkanmu memikul beban yang engkau ambil" — artinya Umar tidak ingin menutupi ilmu.
  1. Pelajaran tentang ijtihad dan rujukan kepada dalil:
  • Umar رضي الله عنه awalnya berpendapat berdasarkan ijtihadnya, tetapi ketika diingatkan dengan hadits Nabi ﷺ, ia menerima.
  • Ini menunjukkan bahwa kebenaran harus diikuti, bukan pendapat pribadi.

Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:

Dalam Fathul Bari, beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya tayammum dengan satu tepukan, dan bahwa menghembus tangan setelah menepuk tanah adalah sunnah. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bagi yang berpendapat cukup mengusap wajah dan tangan hingga pergelangan.

Penjelasan Imam An-Nawawi:

Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menyatakan bahwa hadits Ammar ini adalah dalil pokok tayammum. Beliau juga menjelaskan bahwa perbedaan pendapat tentang batas usapan tangan adalah perbedaan yang dikenal di kalangan ulama, dan yang paling kuat adalah hingga siku berdasarkan riwayat lain yang lebih jelas.

Story Telling

Kisah Ammar bin Yasir dan Umar bin al-Khaththab:

Suatu ketika, Ammar bin Yasir رضي الله عنه dan Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه pernah bersama dalam sebuah perjalanan. Mereka mengalami junub, sementara air tidak ditemukan. Ammar رضي الله عنه — yang mengetahui tata cara tayammum dari Nabi ﷺ — berguling-guling di tanah karena mengira itulah cara tayammum. Lalu mereka datang kepada Nabi ﷺ, dan beliau tertawa melihat perbuatan Ammar, kemudian mengajarkan cara yang benar: menepukkan kedua tangan ke tanah, menghembusnya, lalu mengusap wajah dan sebagian lengan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Umar menjadi khalifah, seorang lelaki bertanya tentang keadaan mereka yang berbulan-bulan tanpa air. Umar berpendapat tidak shalat sampai menemukan air. Ammar yang hadir pun mengingatkan Umar dengan lembut tentang peristiwa itu. Umar menerima kebenaran dengan lapang dada.

Hikmah:

  • Ilmu yang benar harus disampaikan dengan adab.
  • Pemimpin yang baik menerima nasihat dengan lapang dada.
  • Tayammum adalah keringanan dari Allah yang tidak boleh diabaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketika tidak menemukan air, bertayammumlah dengan tanah suci — jangan tinggalkan shalat.
  2. Tata cara tayammum: tepukkan kedua tangan ke tanah, hembuskan, usap wajah, lalu usap kedua tangan hingga siku (menurut jumhur ulama).
  3. Sampaikan kebenaran dengan adab, terutama kepada pemimpin atau orang yang lebih tua.
  4. Terimalah kebenaran ketika diingatkan, sebagaimana Umar رضي الله عنه menerima nasihat Ammar.
  5. Jangan menutupi ilmu karena khawatir menyinggung perasaan orang lain, tetapi sampaikan dengan cara yang baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?