Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3140 tentang Ikhlas dalam berjihad, bukan untuk pujian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa amal—termasuk berjihad—tidak bernilai di sisi Allah jika niatnya tercampur antara mencari pahala akhirat dan mencari pujian/nama baik manusia. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa orang seperti itu "tidak mendapatkan apa-apa," karena Allah hanya menerima amal yang ikhlas dan ditujukan untuk wajah-Nya. Intinya: keikhlasan adalah syarat diterimanya amal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan An-Nasa'i no. 3140, Kitab Jihad, dari Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه):

Nabi ﷺ bersabda:

> «إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ»

"Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang murni untuk-Nya dan yang dengannya dicari wajah-Nya."

Ayat yang menjadi dasar makna ikhlas:

QS. Al-Bayyinah [98]: 5

> وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

QS. Al-Kahfi [18]: 110

> قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-Kahfi [18]: 110 bahwa syarat amal diterima ada dua: (1) ikhlas karena Allah, dan (2) sesuai tuntunan syariat. Hadits ini menegaskan syarat pertama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas bab ikhlas dan riya', menegaskan bahwa amal yang tercampur riya' tidak berpahala.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (kitab al-Imarah) menegaskan bahwa jihad yang dilakukan untuk selain Allah tidak bernilai pahala akhirat.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menekankan bahwa niat adalah ruh amal; rusaknya niat merusak amal.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang orang yang berperang dengan dua motivasi sekaligus: mencari pahala (الأجر) dan mencari nama baik/pujian (الذكر). Nabi ﷺ menjawab tegas: "لَا شَيْءَ لَهُ" — "tidak ada apa-apa baginya," dan mengulanginya tiga kali untuk menegaskan. Lalu beliau menjelaskan kaidah besarnya: Allah hanya menerima amal yang khalish (murni) dan ibtigha' wajhihi (mencari wajah-Nya).

Pemahaman ulama daftar:

  1. Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim, kitab al-Imarah) menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang niat jihad menunjukkan keikhlasan adalah syarat sahnya pahala jihad. Orang yang berjihad karena riya' atau mencari pujian tidak mendapat pahala akhirat, meski secara hukum dunia ia tetap dianggap berjihad.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari, kitab al-Jihad) menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa amal yang dicampuri riya' tertolak. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama membedakan antara riya' yang menjadi motivasi utama (ini yang terlarang keras) dan riya' yang hanya terbersit lalu ditolak (ini tidak membatalkan amal).
  3. Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam) menegaskan bahwa hadits ini termasuk kaidah agung: "Amal itu tergantung niatnya." Beliau mengutip hadits Umar bin al-Khaththab tentang niat dan menjelaskan bahwa niat adalah pembeda antara amal yang bernilai dan yang sia-sia.
  4. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah (dalam Ighatsat al-Lahfan dan al-Fawa'id) menjelaskan bahwa riya' adalah syirik kecil yang menghapus pahala amal. Beliau membagi riya' menjadi beberapa tingkatan: (a) riya' yang membatalkan amal secara total, (b) riya' yang mengurangi pahala, dan (c) riya' yang hanya lintasan hati yang tidak disengaja.
  5. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (dalam Tafsir as-Sa'di) menjelaskan bahwa ayat Al-Bayyinah [98]: 5 dan Al-Kahfi [18]: 110 menunjukkan dua rukun amal yang diterima: ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti sunnah). Hadits ini menegaskan rukun pertama.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Sebagian ulama (seperti yang dinukil Ibnu Hajar) berpendapat bahwa jika riya' hanya terbersit di tengah amal lalu ditolak, amal tetap sah. Namun jika riya' menjadi motivasi awal atau dominan, amal batal.
  • Pendapat yang paling kuat: amal yang motivasi utamanya adalah riya' atau mencari pujian manusia, tidak bernilai pahala di akhirat, sebagaimana tegas dalam hadits ini. Adapun lintasan hati yang tidak disengaja dan langsung ditolak, tidak membatalkan amal.

Catatan penting:

Hadits ini tidak berarti orang yang berjihad lalu mendapat pujian otomatis tidak berpahala. Yang dilarang adalah mencari pujian sebagai motivasi. Jika pujian datang tanpa dicari, itu tidak membatalkan pahala selama niat tetap ikhlas.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim (kitab al-Imarah) dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

> «مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

"Barangsiapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah."

Hadits ini menegaskan bahwa ukuran jihad yang benar adalah niat: meninggikan kalimat Allah, bukan mencari nama. Para sahabat seperti Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه—perawi hadits ini—adalah contoh generasi yang berjihad dengan niat murni, hingga beliau dikenal sebagai ahli ibadah dan zuhud setelahnya.

Hikmah: Niat adalah penentu nilai amal. Betapa banyak orang beramal besar secara lahir, tetapi kosong pahalanya karena niatnya rusak. Sebaliknya, amal kecil bisa menjadi besar karena ikhlas.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki niat sebelum beramal — tanyakan pada diri: "Untuk siapa aku melakukan ini?"
  2. Jauhi riya' — terutama dalam ibadah, jihad, dakwah, dan amal sosial.
  3. Jika pujian datang tanpa dicari, jangan bangga; kembalikan kepada Allah dan tetap rendah hati.
  4. Ingat kaidah: Allah hanya menerima amal yang khalish (murni) dan ibtigha' wajhihi (mencari wajah-Nya).
  5. Perbanyak doa agar Allah membersihkan hati dari riya' dan menjaga keikhlasan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?