Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3104 tentang Surga di bawah telapak kaki ibu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa berbakti kepada ibu lebih utama daripada berangkat jihad fardhu kifayah. Jika seseorang memiliki ibu yang masih hidup, maka merawat dan melayaninya adalah jalan menuju surga. Surga digambarkan berada di bawah telapak kaki ibu, artinya keridhaan ibu adalah kunci masuk surga.

Rujukan Ulama & Dalil

Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23)

Hadits:

Hadits yang ditanyakan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan al-Kubra no. 3104, dari Mu'awiyah bin Jahimah As-Sulami, bahwa Jahimah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah! Aku ingin pergi berperang dan aku datang untuk meminta nasihatmu." Beliau bersabda: "Apakah kamu memiliki ibu?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Maka tetaplah bersamanya, karena surga berada di bawah kakinya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 4435.

Penjelasan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan berbakti kepada ibu menunjukkan bahwa jika jihad adalah fardhu kifayah, maka berbakti kepada ibu lebih utama. Namun jika jihad menjadi fardhu 'ain (wajib perorangan), maka ia harus berjihad meskipun orang tuanya tidak ridha.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya kedudukan ibu. Surga di bawah kakinya bermakna bahwa keridhaan ibu adalah sebab masuk surga. Selama seorang anak berbakti kepada ibunya, ia sedang berjalan menuju surga.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan pelajaran agung tentang prioritas dalam beramal. Jahimah datang kepada Nabi ﷺ dengan semangat ingin berjihad, namun Nabi ﷺ justru menanyakan keberadaan ibunya. Ketika Jahimah menjawab bahwa ibunya masih hidup, Nabi ﷺ memerintahkannya untuk tetap bersama ibunya.

Para ulama menjelaskan bahwa perintah ini berlaku ketika jihad bersifat fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Jika sudah ada cukup orang yang berangkat, maka berbakti kepada ibu lebih utama. Namun jika jihad menjadi fardhu 'ain, seperti ketika negeri muslim diserang musuh, maka berjihad wajib meskipun orang tua tidak merestui.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua, khususnya ibu, termasuk amalan yang paling utama. Bahkan dalam banyak riwayat, berbakti kepada ibu disebut lebih utama daripada jihad di jalan Allah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu' Fatawa menegaskan bahwa hadits ini tidak berarti meninggalkan jihad sama sekali, tetapi mengajarkan prioritas. Jika seorang ibu sangat membutuhkan anaknya, maka merawatnya lebih utama daripada berjihad.

Ungkapan "surga di bawah kakinya" adalah metafora yang indah. Imam Al-Qurthubi (meski tidak dalam daftar, namun penjelasan ini masyhur) dan ulama lain menjelaskan bahwa maknanya adalah keridhaan ibu menjadi jalan menuju surga. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Ridha Allah ada pada ridha orang tua, dan murka Allah ada pada murka orang tua." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad.' Beliau bertanya: 'Apakah kedua orang tuamu masih hidup?' Ia menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Maka kepada keduanya engkau berjihad.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah bentuk jihad yang agung. Seorang sahabat bernama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Celaka, celaka, celaka orang yang mendapati orang tuanya yang sudah tua, salah satu atau keduanya, namun tidak memasukkan dirinya ke surga." (HR. Muslim).

Dari sini kita belajar bahwa kesempatan berbakti kepada ibu adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan. Seorang anak yang merawat ibunya dengan penuh kasih sayang, sesungguhnya ia sedang mengumpulkan bekal menuju surga.

Kesimpulan Praktis

  1. Berbakti kepada ibu lebih utama daripada jihad fardhu kifayah.
  2. Jika ibu membutuhkan perawatan, maka merawatnya adalah kewajiban yang didahulukan.
  3. Keridhaan ibu adalah kunci keridhaan Allah dan jalan menuju surga.
  4. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan berbakti selama ibu masih hidup.
  5. Jika jihad menjadi fardhu 'ain, maka wajib berjihad meskipun orang tua tidak merestui.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?