Penjelasan Hadits Nasa'i No. 31 tentang Siksaan kubur akibat tidak menjaga diri dari kencing

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua perkara besar yang sering dianggap remeh oleh manusia: pertama, menjaga diri dari percikan dan najis air kencing, dan kedua, bahaya besar perbuatan mengadu domba (namimah). Keduanya adalah sebab azab kubur. Hadits ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang mendoakan keringanan siksa bagi ahli kubur, serta bolehnya bertawassul dengan amal shalih dan mendoakan mayit.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Thaharah, Bab Menjauhkan Diri dari Kencing, no. 31) dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Teks Arab Hadits (sesuai riwayat An-Nasa'i):

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَإِنَّهُ كَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Terjemahan: Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan, lalu bersabda: 'Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena perkara yang besar (menurut pandangan manusia). Adapun yang satu, maka ia tidak menjaga diri dari (percikan) air kencingnya. Adapun yang lain, maka ia berjalan menyebarkan namimah (mengadu domba).' Kemudian beliau meminta pelepah kurma yang basah, lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkan satu di atas kuburan ini dan satu di atas kuburan yang lain. Lalu beliau bersabda: 'Semoga siksa keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering.'"

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (QS. Al-Humazah [104]: 1)

Ayat ini menunjukkan ancaman keras bagi orang yang suka mencela dan menggunjing, yang merupakan bagian dari perbuatan lisan yang keji.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Tidak Disiksa Karena Perkara yang Besar"

Para ulama menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "wa ma yu'adzdzabani fi kabir" (keduanya tidak disiksa karena perkara yang besar) memiliki dua makna:

  • Pertama, maknanya: "Keduanya tidak disiksa karena perkara yang mereka anggap besar dan sulit untuk dijauhi." Maksudnya, kedua perkara ini (tidak menjaga diri dari kencing dan namimah) dianggap remeh oleh manusia, padahal di sisi Allah ia adalah perkara besar. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.
  • Kedua, sebagian ulama memaknai: "Keduanya tidak disiksa karena perkara yang besar menurut pandangan mereka berdua." Artinya, mereka berdua menganggap kedua dosa ini kecil, padahal Allah membesarkannya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna yang benar adalah yang pertama, yaitu keduanya tidak disiksa karena perkara yang sulit dihindari, tetapi karena perkara yang mudah dihindari namun mereka sepelekan.

2. Bahaya Tidak Menjaga Diri dari Air Kencing

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya menjaga diri dari najis, khususnya air kencing. Ini karena air kencing adalah najis yang berat, dan jika seseorang tidak membersihkannya, maka shalatnya tidak sah dan ia terancam azab kubur.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "la yastanzihu min baulihi" adalah tidak membersihkan diri dari air kencing, baik dengan istinja' (membersihkan dengan batu/tisu) atau istijmar (mencuci dengan air). Ini adalah peringatan keras bagi orang yang meremehkan kesucian dalam ibadah.

3. Bahaya Namimah (Mengadu Domba)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa namimah adalah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka. Ini adalah dosa besar yang dapat memicu permusuhan dan kebencian.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa namimah termasuk perbuatan yang merusak masyarakat, karena ia menanamkan kebencian di antara sesama Muslim. Oleh karena itu, Allah mengancam pelakunya dengan azab yang pedih.

4. Hikmah Menancapkan Pelepah Kurma

Para ulama menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ menancapkan pelepah kurma di atas dua kuburan tersebut adalah bentuk kasih sayang dan doa beliau untuk meringankan siksa keduanya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Semoga siksa keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tindakan ini menunjukkan bolehnya mendoakan mayit dan berharap keringanan siksa baginya. Adapun berkah dari pelepah kurma itu sendiri, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang kuat adalah bahwa hal itu adalah doa dari Nabi ﷺ yang dikaitkan dengan keberadaan pelepah tersebut sebagai tanda, bukan karena pelepah itu sendiri memiliki kekuatan. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar.

5. Pelajaran dari Perbedaan Riwayat

Dalam riwayat An-Nasa'i disebutkan bahwa Mansur meriwayatkan dari Mujahid langsung dari Ibnu Abbas tanpa menyebut Thawus. Ini menunjukkan ketelitian para ulama hadits dalam menjaga sanad. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan menyebut Thawus, dan inilah yang lebih kuat karena disepakati oleh kedua imam hadits tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, suatu hari Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan di dekat Madinah. Beliau berhenti dan bersabda bahwa kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Para sahabat yang mendengar tercengang, karena mereka tidak menyangka ada orang yang disiksa di kubur.

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan sebabnya: yang satu tidak menjaga diri dari air kencing, dan yang lain suka mengadu domba. Beliau lalu mengambil pelepah kurma yang masih basah, membelahnya menjadi dua, dan menancapkannya di atas kedua kuburan itu. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ini bermanfaat bagi mereka?" Beliau menjawab, "Semoga siksa keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering."

Kisah ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap umatnya, bahkan kepada orang yang sedang disiksa di kubur. Beliau tidak mencela atau menghina, tetapi justru berusaha meringankan siksa mereka dengan cara yang bisa dilakukan. Ini adalah pelajaran tentang kasih sayang dan akhlak mulia yang harus kita contoh.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga kesucian diri — Pastikan tubuh, pakaian, dan tempat shalat bersih dari najis, terutama air kencing. Jangan meremehkan percikan-percikan kecil yang bisa membatalkan shalat.
  2. Jauhi namimah — Jangan pernah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. Ini adalah dosa besar yang sering dianggap remeh.
  3. Bersegera mendoakan mayit — Jika kita mengetahui ada orang yang meninggal, doakanlah kebaikan untuknya. Doa kita bisa menjadi sebab keringanan siksa baginya.
  4. Jangan meremehkan dosa kecil — Dosa yang kita anggap kecil bisa menjadi besar di sisi Allah jika kita terus-menerus melakukannya dan meremehkannya.
  5. Teladani kasih sayang Nabi ﷺ — Bahkan kepada orang yang berbuat dosa, Nabi ﷺ tetap menunjukkan kasih sayang dan berusaha membantu. Kita pun harus demikian kepada sesama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?