Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 307 tentang Doa Rasulullah atas gangguan Quraisy saat shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa beratnya ujian yang menimpa Nabi ﷺ ketika shalat di dekat Ka'bah. Orang-orang Quraisy yang kafir meletakkan kotoran unta (isi perut) di punggung beliau saat sujud. Putri beliau, Fatimah radhiyallahu 'anha, yang masih kecil, datang membersihkannya. Nabi ﷺ kemudian berdoa agar Allah menghukum para pemimpin Quraisy tersebut, dan doa beliau dikabulkan—mereka semua tewas dalam Perang Badar. Hadits ini mengajarkan kita tentang kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi gangguan, keberanian dan cinta Fatimah kepada ayahnya, serta kepastian bahwa doa Nabi ﷺ mustajab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Thaharah, Bab Kotoran yang Terkena Pakaian, no. 307). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 520) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1794) dengan redaksi yang semakna.

Berikut teks hadits dalam riwayat Al-Bukhari yang lebih ringkas:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ وَمَلَأٌ مِنْ قُرَيْشٍ جُلُوسٌ، وَقَدْ نَحَرُوا جَزُورًا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: أَيُّكُمْ يَأْخُذُ فَرْثَهَا بِدَمِهَا، ثُمَّ يُمْهِلُهُ حَتَّى يَضَعَ وَجْهَهُ سَاجِدًا، فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِهِ؟ فَانْبَعَثَ أَشْقَاهَا، فَأَخَذَهُ، فَلَمَّا وَضَعَ النَّبِيُّ ﷺ وَجْهَهُ سَاجِدًا، وَضَعَهُ عَلَى ظَهْرِهِ، ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ سَاجِدٌ، ثُمَّ جَلَسَ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: مَا صَنَعْتُمْ بِمُحَمَّدٍ؟ قَالُوا: وَضَعْنَا عَلَى ظَهْرِهِ فَرْثًا وَدَمًا، فَقَالَ: اذْهَبُوا إِلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، فَأَتَوْا فَاطِمَةَ وَهِيَ جَارِيَةٌ، فَقَالَتْ: شَأْنُكُمْ بِهَذَا، فَأَخَذَتْهُ فَرَمَتْهُ، ثُمَّ أَقْبَلَتْ عَلَيْهِمْ فَسَبَّتْهُمْ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاتَهُ قَالَ: «اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ، اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ، اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ» ثُمَّ سَمَّى: «اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ، وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةِ، وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ» قَالَ: فَوَالَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ، لَقَدْ رَأَيْتُهُمْ صَرْعَى يَوْمَ بَدْرٍ، ثُمَّ سُحِبُوا إِلَى الْقَلِيبِ.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ shalat di dekat Ka'bah dan sekelompok orang Quraisy sedang duduk-duduk, mereka baru saja menyembelih unta. Sebagian mereka berkata: 'Siapa di antara kalian yang mengambil isi perutnya beserta darahnya, lalu menunggu sampai beliau sujud, kemudian meletakkannya di punggung beliau?' Maka berangkatlah orang yang paling celaka di antara mereka, ia mengambilnya. Ketika Nabi ﷺ sujud, ia meletakkannya di punggung beliau. Lalu Nabi ﷺ tersadar dalam keadaan sujud, kemudian duduk. Ketika Jibril melihat hal itu, ia berkata: 'Apa yang kalian perbuat kepada Muhammad?' Mereka menjawab: 'Kami meletakkan kotoran dan darah di punggungnya.' Jibril berkata: 'Pergilah kepada keluarganya.' Maka mereka mendatangi Fatimah yang masih kecil. Fatimah berkata: 'Uruslah ini sendiri!' Lalu ia mengambilnya dan membuangnya, kemudian menghadap mereka dan mencela mereka. Ketika Rasulullah ﷺ selesai shalat, beliau berdoa: 'Ya Allah, hukumlah Quraisy! Ya Allah, hukumlah Quraisy! Ya Allah, hukumlah Quraisy!' Kemudian beliau menyebut nama-nama: 'Ya Allah, hukumlah Abu Jahl, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al-Walid bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf, dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith.'" Abdullah berkata: "Demi Dzat yang menurunkan kitab kepadanya, sungguh aku melihat mereka semua tewas pada hari Badar, lalu mayat mereka diseret ke dalam sumur." (HR. Al-Bukhari no. 520)

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Kesabaran Nabi ﷺ dalam Menghadapi Gangguan

Peristiwa ini terjadi di Makkah sebelum hijrah, ketika Nabi ﷺ masih menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa perlakuan keji ini menunjukkan betapa besar gangguan yang diterima Nabi ﷺ, namun beliau tetap menyempurnakan shalatnya dan tidak membatalkannya karena marah. Ini adalah puncak kesabaran dan keteguhan hati seorang hamba dalam beribadah kepada Allah.

2. Keberanian dan Kasih Sayang Fatimah radhiyallahu 'anha

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Fatimah saat itu masih kecil (belum baligh), namun ia berani datang dan membersihkan kotoran itu dari punggung ayahnya. Ini menunjukkan keberanian yang lahir dari cinta yang tulus kepada ayahnya dan pembelaan terhadap kehormatan agama. Fatimah juga mencela orang-orang Quraisy tersebut, dan ini dibenarkan karena mereka telah melakukan kemungkaran yang nyata.

3. Doa Nabi ﷺ yang Mustajab

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ terhadap orang-orang kafir Quraisy ini adalah doa yang diijabahi. Allah mengabulkan doa beliau dengan membinasakan mereka dalam Perang Badar. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bersaksi bahwa ia melihat semua orang yang disebut nama mereka oleh Nabi ﷺ tewas dalam keadaan terbunuh dan dilemparkan ke dalam sumur. Ini menunjukkan bahwa doa seorang hamba yang ikhlas dan benar-benar terzhalimi akan dikabulkan oleh Allah.

4. Hukum Kotoran yang Mengenai Pakaian

Imam An-Nasa'i meletakkan hadits ini dalam "Bab Kotoran yang Terkena Pakaian" untuk menunjukkan bahwa kotoran (najis) yang menempel pada pakaian harus dibersihkan. Namun perlu dicatat, Nabi ﷺ tidak membatalkan shalatnya karena najis yang menimpanya tanpa sepengetahuannya. Para ulama menjelaskan bahwa jika najis mengenai pakaian seseorang tanpa ia sadari, maka shalatnya tetap sah karena ia tidak sengaja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa najis yang tidak diketahui oleh orang yang shalat tidak membatalkan shalatnya, karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

5. Kisah Ini Menunjukkan Kekuasaan Allah

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kenabian. Nabi ﷺ berdoa agar mereka dihukum, dan Allah mengabulkannya secara tepat—semua orang yang disebut namanya tewas dalam Perang Badar. Ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa membela hamba-Nya yang beriman dan menolong mereka dari kezhaliman musuh-musuh-Nya.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 240) dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

Suatu hari, Nabi ﷺ sedang shalat di dekat Ka'bah. Abu Jahal dan teman-temannya duduk-duduk sambil menunggu kesempatan untuk mengganggu beliau. Ketika Nabi ﷺ sujud, Abu Jahal berkata: "Siapa yang bisa membawa isi perut unta ini lalu meletakkannya di punggung Muhammad?" Maka berangkatlah 'Uqbah bin Abi Mu'aith—orang yang paling celaka—mengambil kotoran unta itu dan meletakkannya di punggung Nabi ﷺ yang sedang sujud. Nabi ﷺ tidak bisa mengangkat kepalanya karena beratnya kotoran itu.

Fatimah yang masih kecil mendengar kabar itu. Ia berlari secepatnya menuju Ka'bah, mengambil kotoran itu dari punggung ayahnya, lalu membuangnya. Kemudian ia menghadap orang-orang Quraisy dan mencela mereka dengan kata-kata yang tegas. Setelah selesai shalat, Nabi ﷺ mengangkat tangannya dan berdoa: "Ya Allah, hukumlah Quraisy! Ya Allah, hukumlah Quraisy! Ya Allah, hukumlah Quraisy!" Beliau menyebut nama-nama pemimpin mereka satu per satu.

Abdullah bin Mas'ud berkata: "Demi Dzat yang menurunkan kitab kepadanya, sungguh aku melihat mereka semua tewas terbunuh pada hari Badar, lalu mayat mereka diseret ke dalam sumur." Inilah balasan Allah bagi orang-orang yang mengganggu kekasih-Nya. Tidak ada satu pun dari mereka yang selamat dari doa Nabi ﷺ.

Hikmah dari kisah ini: Allah pasti membela hamba-Nya yang beriman. Meskipun ujian datang bertubi-tubi, kesabaran dan doa adalah senjata orang mukmin. Dan cinta yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya akan melahirkan keberanian untuk membela agama.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar dalam menghadapi gangguan — Nabi ﷺ tidak membatalkan shalatnya meskipun diganggu dengan cara yang sangat keji. Kita hendaknya meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi ujian.
  2. Membersihkan najis dari pakaian — Najis yang mengenai pakaian harus dibersihkan. Namun jika najis menimpa tanpa sepengetahuan kita, shalat tetap sah.
  3. Berani membela kebenaran — Fatimah radhiyallahu 'anha yang masih kecil berani membersihkan gangguan dari ayahnya. Keberanian lahir dari keimanan dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
  4. Doa adalah senjata orang mukmin — Nabi ﷺ berdoa kepada Allah dan doanya dikabulkan. Kita hendaknya banyak berdoa kepada Allah dalam setiap kesulitan.
  5. Jangan berputus asa dari pertolongan Allah — Meskipun kaum muslimin saat itu tertindas di Makkah, Allah memberikan kemenangan di Badar. Pertolongan Allah pasti datang bagi orang-orang yang bersabar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.