Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara langsung, tanpa banyak bertanya tentang hal-hal yang belum terjadi atau yang di luar kemampuan kita. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu menegaskan bahwa beliau melihat Nabi ﷺ mencium dan menyentuh Hajar Aswad, dan itu sudah cukup sebagai dalil untuk diamalkan. Pertanyaan "bagaimana kalau berdesakan?" dijawab dengan tegas: jangan sibuk memikirkan hal yang belum terjadi, tapi ikutilah apa yang telah dicontohkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Az-Zubair bin 'Arabi (bukan Az-Zubair bin Adiyy sebagaimana terjemahan), dari seorang sahabat yang bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1610) dan Imam Muslim (no. 1268) dengan lafaz yang semakna.
Dalil Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa jawaban Ibnu Umar ini menunjukkan sikap seorang sahabat yang sangat teguh dalam mengikuti sunnah, tidak mau disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat hipotetis (belum terjadi) selama dalil sudah jelas.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Sikap Teguh dalam Mengikuti Sunnah
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang paling dikenal ketat dalam mengikuti jejak Nabi ﷺ. Beliau sering kali mencari tempat-tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk beribadah, bahkan dalam perjalanan sekalipun. Ketika ditanya tentang hukum menyentuh Hajar Aswad, beliau tidak menjawab dengan pendapat pribadi, tetapi langsung menyebutkan apa yang beliau saksikan dari Nabi ﷺ.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menjelaskan bahwa menyentuh dan mencium Hajar Aswad adalah sunnah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, dan seorang muslim dianjurkan untuk melakukannya jika mampu tanpa menyakiti orang lain.
2. Larangan Memperbanyak Pertanyaan yang Tidak Perlu
Jawaban Ibnu Umar, "اجْعَلْ أَرَأَيْتَ بِالْيَمَنِ" — "Tinggalkan pertanyaan 'bagaimana kalau' itu di Yaman" — adalah teguran halus agar orang tersebut tidak sibuk dengan pertanyaan hipotetis. Ini sejalan dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu." (QS. Al-Ma'idah [5]: 101)
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa pertanyaan yang tidak perlu dan hanya mempersulit diri sendiri adalah perbuatan yang tercela, terutama jika dalil sudah jelas.
3. Hikmah di Balik Mencium Hajar Aswad
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa mencium Hajar Aswad adalah ibadah yang dilakukan karena perintah Allah dan mengikuti Nabi ﷺ, bukan karena Hajar Aswad memiliki kekuatan sendiri. Ini sebagaimana perkataan Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu ketika mencium Hajar Aswad:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudharat maupun manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Al-Bukhari no. 1597)
Ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam dibangun di atas ketaatan dan mengikuti dalil, bukan akal semata.
4. Jika Terdesak dan Tidak Bisa Sampai ke Hajar Aswad
Para ulama menjelaskan bahwa jika seseorang tidak mampu mencapai Hajar Aswad karena terlalu ramai, maka ia cukup berisyarat (menunjuk) ke arahnya sambil bertakbir, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ saat thawad di atas kendaraan. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika thawad di atas unta beliau berisyarat dengan tongkat ke arah Hajar Aswad dan bertakbir.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Suatu ketika, beliau melakukan thawad dan ingin mencium Hajar Aswad, tetapi tempat itu sangat ramai. Beliau bersabar menunggu hingga akhirnya bisa menciumnya. Ketika ditanya mengapa beliau bersusah payah seperti itu, beliau menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah ﷺ karena kesulitan ini. Aku melihat beliau menciumnya, dan aku ingin melakukan seperti yang beliau lakukan."
Sikap Ibnu Umar ini menunjukkan kecintaannya yang mendalam kepada Nabi ﷺ dan kesungguhannya dalam meneladani beliau dalam segala keadaan.
Kesimpulan Praktis
- Ikuti sunnah Nabi ﷺ dengan teguh — ketika dalil sudah jelas, jangan ragu untuk mengamalkannya.
- Jangan sibuk dengan pertanyaan hipotetis — fokuslah pada apa yang bisa diamalkan sekarang.
- Jika tidak mampu melakukan sunnah secara sempurna (misalnya karena berdesakan), lakukan yang mampu — seperti berisyarat ke arah Hajar Aswad.
- Niatkan ibadah karena Allah dan mengikuti Nabi ﷺ, bukan karena mengagungkan benda semata.
- Jangan mempersulit diri sendiri — agama ini mudah, dan Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.