Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau menjanjikan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat (tarawih/qiyamul lail), yang didasari oleh iman yang jujur dan hanya mengharap pahala dari Allah, bukan karena riya' atau tujuan duniawi. Ini adalah dorongan kuat untuk tidak menyia-nyiakan malam Ramadhan yang penuh berkah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2191) dari jalur Sa'id bin Al-Musayyab, seorang ulama besar tabi'in. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dari riwayat An-Nasa'i):
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Man qaama ramadhaana iimaanan wah'tisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih."
Artinya: "Barangsiapa yang melaksanakan shalat (di malam hari) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil qur'aanu hudan linnaasi wa bayyinaatin minal hudaa wal furqaan."
Artinya: "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)."
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "iimaanan" (karena iman) adalah membenarkan dengan keyakinan akan keutamaan shalat ini dan bahwa Allah akan memberi pahala. Sedangkan "ihtisaaban" (mengharap pahala) adalah dia tidak mengharapkan pujian manusia atau hal lain, tetapi hanya mengharap wajah Allah semata. Ini adalah syarat untuk meraih ampunan yang dijanjikan.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan hadits ini. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa "qiyaam Ramadhan" yang dimaksud adalah shalat malam di bulan Ramadhan, yang dikenal dengan shalat Tarawih. Beliau menukil perkataan Imam Al-Hasan Al-Bashri bahwa para sahabat dan tabi'in sangat bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam Ramadhan.
Makna "Iimaanan" (إيمانًا):
- Ini berarti keyakinan yang benar terhadap Allah dan janji-Nya. Bukan sekadar ikut-ikutan atau karena tradisi.
- Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa iman adalah landasan amal. Amal tanpa iman tidak akan diterima.
Makna "Ihtisaaban" (احتسابًا):
- Ini adalah keikhlasan. Dia mengharap pahala dari Allah semata, bukan mengharap pujian, popularitas, atau tujuan duniawi lainnya.
- Imam Ibn Al-Qayyim dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa "ihtisaab" adalah ketika seorang hamba melakukan amal karena Allah, dan dia yakin Allah akan membalasnya. Dia tidak menggantungkan harapannya kepada makhluk.
Mengapa Dosa-Dosa yang "Telah Lalu" yang Diampuni?
Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah karunia Allah yang sangat besar. Dosa-dosa kecil yang telah lalu diampuni. Adapun dosa besar, maka ia membutuhkan taubat yang khusus. Namun, ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa ampunan ini bisa mencakup dosa-dosa besar jika disertai taubat yang jujur. Yang terpenting, ini adalah kabar gembira yang memotivasi kita untuk bersungguh-sungguh.
Perbedaan Pendapat tentang Jumlah Rakaat:
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat shalat Tarawih. Ada yang berpendapat 11 rakaat (termasuk witir) berdasarkan praktik Nabi ﷺ dan penjelasan Imam Asy-Syafi'i. Ada juga yang berpendapat 23 rakaat (20 rakaat tarawih + 3 witir) berdasarkan praktik Umar bin Khattab yang diikuti oleh para sahabat, dan ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah. Namun, yang terpenting adalah esensi menghidupkan malam, bukan hanya soal jumlah rakaat. Imam Ibn Taimiyyah menjelaskan bahwa semua pendapat ini memiliki dasar dan yang penting adalah kekhusyukan dan keikhlasan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat Tarawih berjamaah di masjid dengan dipimpin oleh Ubay bin Ka'ab, beliau melihat cahaya dan semangat ibadah yang luar biasa. Maka beliau berkata: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini." (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq).
Yang beliau maksud dengan "bid'ah" di sini adalah bid'ah lughawiyyah (secara bahasa), yaitu sesuatu yang baru dilakukan secara berjamaah, karena Nabi ﷺ sendiri pernah melakukannya namun tidak terus-menerus karena khawatir diwajibkan. Ini menunjukkan bahwa semangat para sahabat dalam menghidupkan malam Ramadhan sangat besar. Mereka tidak berdebat tentang jumlah rakaat, tetapi bersemangat dalam keikhlasan dan kekhusyukan.
Hikmah: Semangat para sahabat adalah teladan. Mereka tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai ajang perpecahan, tetapi justru bersatu dalam ketaatan.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan dengan Iman: Sebelum shalat Tarawih, perbarui niat bahwa kita melakukannya karena beriman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya.
- Ikhlas karena Allah: Jangan mengharap pujian manusia. Fokuskan hati hanya kepada Allah.
- Jaga Kekhusyukan: Lebih baik shalat dengan pelan dan khusyuk walaupun sedikit, daripada cepat tetapi hati lalai.
- Jangan Berpecah karena Jumlah Rakaat: Yang penting adalah menghidupkan malam. Jika imam shalat 11 rakaat, ikuti. Jika 23 rakaat, ikuti. Yang utama adalah menjaga persatuan dan kekhusyukan.
- Perbanyak Doa dan Istighfar: Di sela-sela shalat atau setelahnya, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.