Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2090 tentang Kewajiban shalat, puasa, dan zakat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa kewajiban dasar seorang Muslim dalam ibadah adalah shalat lima waktu, puasa Ramadan, dan zakat. Seorang Badui bertanya langsung kepada Nabi ﷺ, lalu berjanji tidak akan menambah amalan sunnah dan tidak akan mengurangi yang wajib. Nabi ﷺ bersabda bahwa orang itu akan beruntung dan masuk surga jika ia jujur melaksanakan janjinya. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bisa diraih dengan menunaikan yang wajib secara benar dan ikhlas, meskipun tanpa memperbanyak amalan sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Puasa, Bab Kewajiban Puasa (no. 2090), dari Talhah bin 'Ubaidullah radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, dari Talhah bin 'Ubaidullah radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nawawi menyebutkan hadits ini dalam Syarh Shahih Muslim dan menjelaskannya sebagai dalil bahwa amalan yang diwajibkan cukup untuk memasukkan seseorang ke surga jika ditunaikan dengan jujur dan sempurna.

Adapun ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar kewajiban-kewajiban ini:

QS. Al-Baqarah [2]: 43

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Terjemahan: "Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dan dirikanlah shalat, serta tunaikanlah zakat."

QS. Al-Baqarah [2]: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

QS. Al-Baqarah [2]: 110

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

Terjemahan: "Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah."

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran besar tentang kaidah dasar dalam beribadah: bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya, dan bahwa kewajiban-kewajiban pokok sudah cukup untuk menyelamatkan seseorang, selama ditunaikan dengan benar, ikhlas, dan jujur.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seorang Muslim yang hanya menunaikan yang wajib — tanpa menambah amalan sunnah — tetap bisa masuk surga. Ini bukan berarti amalan sunnah tidak penting, tetapi menunjukkan luasnya rahmat Allah dan bahwa pintu surga terbuka bagi siapa saja yang menunaikan kewajibannya dengan jujur.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ" (Ia akan beruntung jika ia jujur) mengandung makna bahwa kejujuran dalam beribadah adalah kunci. Orang yang berkata "saya hanya akan melakukan yang wajib" lalu benar-benar melakukannya dengan penuh tanggung jawab, maka ia termasuk orang yang beruntung. Namun, jika ia berbicara besar tetapi tidak melaksanakannya, maka ia tidak termasuk yang beruntung.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan adab bertanya kepada ahli ilmu. Seorang Badui datang dengan penuh kesungguhan, bertanya satu per satu tentang kewajiban, dan Nabi ﷺ menjawab dengan jelas dan ringkas. Ini mengajarkan kita untuk bertanya dengan sopan dan menerima jawaban dengan lapang dada.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa kewajiban-kewajiban ini adalah pondasi agama. Shalat lima waktu adalah tiang agama, puasa Ramadan adalah benteng dari hawa nafsu, dan zakat adalah pembersih harta. Barang siapa menjaga ketiganya, maka ia telah menjaga agamanya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa meskipun yang wajib cukup untuk masuk surga, namun amalan sunnah sangat dianjurkan untuk menyempurnakan kekurangan dan menaikkan derajat. Sedangkan Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan sunnah karena malas tidak berdosa, tetapi ia kehilangan banyak kebaikan. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa yang wajib adalah batas minimal, dan yang sunnah adalah penyempurna, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Sesungguhnya amalan yang paling utama adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit" (HR. Bukhari dan Muslim).

Story Telling

Dikisahkan bahwa Talhah bin 'Ubaidullah radhiyallahu 'anhu — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — meriwayatkan kisah ini. Seorang Badui yang tinggal di pedalaman datang ke Madinah dengan rambut yang acak-acakan, menunjukkan bahwa ia datang dari perjalanan jauh dan tidak sempat merapikan diri. Ia langsung bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kewajiban-kewajiban pokok dalam Islam.

Nabi ﷺ menjawab dengan lembut dan jelas: shalat lima waktu, puasa Ramadan, dan zakat. Badui itu kemudian berkata dengan penuh keyakinan: "Demi Dia yang telah memuliakanmu, saya tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi." Mendengar itu, Nabi ﷺ bersabda: "Ia akan beruntung jika ia jujur."

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa kisah ini menunjukkan kesederhanaan Islam. Seorang Badui yang mungkin tidak bisa membaca Al-Qur'an dan tidak memiliki banyak ilmu tetap bisa masuk surga jika ia menunaikan kewajibannya dengan jujur. Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang awam yang berusaha menjalankan kewajiban sebaik mungkin.

Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan dalam Fathul Bari bahwa Nabi ﷺ tidak mencela Badui itu karena tidak mau menambah amalan sunnah. Beliau justru membenarkan ucapannya dengan syarat kejujuran. Ini menunjukkan bahwa niat dan kejujuran lebih penting daripada banyaknya amalan.

Kesimpulan Praktis

  1. Tunaikan yang wajib dengan sungguh-sungguh: Shalat lima waktu, puasa Ramadan, dan zakat adalah kewajiban pokok yang tidak boleh ditinggalkan.
  2. Jujurlah dalam beribadah: Jangan hanya mengaku beribadah, tetapi laksanakan dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas.
  3. Jangan meremehkan amalan sunnah: Meskipun yang wajib sudah cukup untuk masuk surga, amalan sunnah akan menyempurnakan dan menaikkan derajat kita di sisi Allah.
  4. Bertanyalah kepada ahli ilmu: Seperti Badui yang bertanya kepada Nabi ﷺ, kita pun harus bertanya kepada ulama yang terpercaya tentang hal-hal yang belum kita pahami.
  5. Jangan berlebihan (ghuluw) dan jangan mengurangi: Islam adalah jalan tengah. Jangan menambah ajaran yang tidak ada dalilnya, dan jangan mengurangi apa yang telah diwajibkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?