Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan seorang lelaki dari umat terdahulu yang sangat takut kepada Allah karena banyaknya dosa. Karena takutnya yang luar biasa, ia meminta keluarganya untuk membakar dan menghancurkan jasadnya setelah mati, lalu menaburkannya di laut, dengan keyakinan bahwa jika Allah "menangkapnya", Dia tidak akan mengampuninya. Namun, Allah justru mengampuninya karena ketakutan itulah bukti keimanannya. Hadits ini mengajarkan bahwa rasa takut kepada Allah yang tulus adalah sebab ampunan, dan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk mengumpulkan kembali jasad yang telah hancur.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab Ruh-Ruh Orang Beriman, nomor 2080. Hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan redaksi yang serupa.
Dalil dari Al-Qur'an yang relevan dengan kisah ini adalah firman Allah tentang kekuasaan-Nya mengumpulkan kembali jasad manusia setelah hancur:
QS. Yasin [36]: 78-79
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan kejadiannya; dia berkata: 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?' Katakanlah: 'Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'"
Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar dalam Kitab Tauhid, Bab "Qaulullah Ta'ala: Wa kana 'Arsyuhu 'alal-ma'". Beliau menukil penjelasan para ulama tentang makna ketakutan lelaki tersebut dan mengapa ia diampuni.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kisah ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat takut kepada Allah.
Pertama, lelaki tersebut disebut yusi'u zhanna bi'amalihi (berprasangka buruk terhadap amalnya). Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ia merasa amalnya tidak akan menyelamatkannya dari siksa Allah karena ia melihat banyaknya dosa dan kekurangannya dalam beramal. Ini bukan berarti ia putus asa dari rahmat Allah, tetapi ia sangat khawatir karena merasa amalnya tidak cukup.
Kedua, permintaannya untuk dibakar dan ditabur di laut menunjukkan keyakinannya yang kuat bahwa Allah Maha Kuasa. Ia berkata, "Jika Allah menguasai diriku, Dia tidak akan mengampuniku." Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa ia berkata: "Demi Allah, jika Allah menguasai diriku, sungguh Dia akan mengazabku dengan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di seluruh alam." Ini menunjukkan bahwa ia tidak mengingkari kebangkitan, tetapi ia meyakini bahwa jika jasadnya sudah hancur dan menyatu dengan laut, maka ia "luput" dari kekuasaan Allah—ini adalah pemikiran yang keliru, namun lahir dari rasa takut yang sangat besar.
Ketiga, ketika Allah bertanya: "Apa yang membuatmu melakukan apa yang kamu lakukan?" Ia menjawab: "Karena takut kepada-Mu, ya Rabb." Inilah kunci ampunan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa ketakutan yang murni kepada Allah adalah bukti keimanan yang tulus. Lelaki itu tidak lari dari Allah karena mengingkari-Nya, tetapi karena takut akan keadilan-Nya atas dosa-dosanya. Justru ketakutan inilah yang menjadi sebab ia diampuni.
Keempat, Syaikh Abdurrahman As-Sa'di ketika menafsirkan ayat tentang kebangkitan menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa mengumpulkan kembali jasad yang telah hancur, bahkan yang telah menjadi tanah atau abu sekalipun. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh keadaan jasad manusia.
Kelima, para ulama juga mengambil pelajaran bahwa seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa meskipun lelaki itu memiliki pemahaman yang keliru tentang kekuasaan Allah, namun Allah memandang hatinya yang penuh ketakutan dan keikhlasan, lalu mengampuninya. Ini menunjukkan bahwa Allah menerima amal hamba-Nya berdasarkan niat dan ketulusan hati, bukan hanya berdasarkan bentuk amal lahiriah.
Story Telling
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul-'Ulum wal-Hikam menceritakan bahwa sebagian salaf sangat takut ketika menghadapi kematian. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri ketika menjelang wafatnya menangis dan berkata: "Aku takut jika Allah memandangku dengan pandangan kemurkaan, maka aku tidak akan pernah beruntung selamanya." Namun para ulama menjelaskan bahwa ketakutan seperti ini adalah ketakutan yang terpuji, karena lahir dari pengagungan kepada Allah dan perasaan kurang dalam beribadah. Adapun ketakutan yang tercela adalah putus asa dari rahmat Allah, karena Allah berfirman: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah" (QS. Az-Zumar [39]: 53).
Hikmah dari kisah lelaki dalam hadits ini adalah bahwa Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang benar-benar takut kepada-Nya, meskipun ia memiliki pemahaman yang kurang tepat dalam sebagian urusan. Yang penting adalah ketulusan hati dan pengagungan kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Takut kepada Allah adalah sebab ampunan, selama ketakutan itu lahir dari iman dan pengagungan, bukan dari putus asa.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Kekuasaan Allah tidak terbatas—Dia mampu mengumpulkan kembali jasad yang telah hancur, karena Dialah yang menciptakannya pertama kali.
- Niat dan ketulusan hati sangat menentukan diterimanya amal di sisi Allah.
- Jangan meremehkan dosa, namun juga jangan berlebihan dalam berprasangka buruk sehingga menjauhkan diri dari rahmat Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.