Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua hal utama tentang shalat malam Nabi ﷺ: (1) beliau biasa mengerjakan sebelas raka'at di antara Isya dan Fajr, di luar dua raka'at Fajar; dan (2) sujud beliau cukup lama, kira-kira selama seseorang membaca lima puluh ayat. Ini menunjukkan sunnahnya memperpanjang sujud dan konsistensi jumlah raka'at shalat malam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Malam dan Sunnah Siang, Bab Ukuran Sujud Setelah Witir, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) — salah satu ulama Tabi'in dalam daftar rujukan.
Hadits ini juga memiliki asal yang sama dengan riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah tentang shalat malam Nabi ﷺ sebelas raka'at, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan panjangnya sujud dan kekhusyukan shalat malam:
وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
"Dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra' [17]: 78)
Dan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil." (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4)
Penjelasan Rinci
Pertama: Jumlah raka'at shalat malam Nabi ﷺ
Aisyah radhiyallahu 'anha menyebutkan bahwa Nabi ﷺ shalat sebelas raka'at di malam hari, di luar dua raka'at Fajar (qabliyah Subuh). Ini adalah riwayat yang paling kuat dan disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tentang jumlah raka'at shalat malam Nabi ﷺ berbeda-beda (11, 13, dan lainnya), dan para ulama menggabungkannya: perbedaan itu terjadi karena sebagian riwayat menghitung witir secara terpisah, sebagian menggabungkannya, atau karena keadaan yang berbeda-beda. Namun sebelas raka'at adalah yang paling banyak disebutkan dan paling kuat.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidak selalu sama jumlahnya, tetapi yang paling sering dan paling shahih adalah sebelas raka'at, termasuk witir.
Kedua: Panjangnya sujud Nabi ﷺ
Sabda beliau: "beliau sujud selama waktu yang diperlukan salah seorang dari kalian untuk membaca lima puluh ayat" — ini menunjukkan bahwa sujud Nabi ﷺ sangat panjang, bukan sekadar sebentar.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah dalil disunnahkannya memperpanjang sujud dalam shalat malam, dan bahwa bacaan tasbih dalam sujud bisa diulang-ulang sesuai kemampuan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memperpanjang sujudnya hingga mendekati lamanya berdiri dan ruku', sebagai bentuk penghambaan yang sempurna.
Ketiga: Waktu shalat malam
Hadits ini menyebutkan waktu shalat malam Nabi ﷺ adalah antara selesai Isya hingga Fajar. Ini menunjukkan bahwa shalat malam bisa dilakukan kapan saja dalam rentang waktu tersebut, dan yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir, sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah shalat malam Nabi ﷺ selalu sebelas raka'at atau berubah-ubah. Ibnu Hajar dan an-Nawawi menguatkan bahwa jumlahnya bisa berbeda sesuai keadaan, tetapi yang paling sering adalah sebelas raka'at. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menyatakan bahwa shalat malam itu luas, dan yang penting adalah kekhusyukan serta konsistensi, bukan terpaku pada satu jumlah saja.
Yang paling kuat: Sebelas raka'at adalah jumlah yang paling shahih dan paling utama untuk diikuti, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah ini dan riwayat-riwayat shahih lainnya.
Story Telling
Diceritakan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang shalat malam Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab dengan sangat detail, termasuk lamanya sujud Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa Aisyah memperhatikan ibadah Nabi ﷺ dengan seksama, karena beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ di malam hari.
Al-Hasan al-Bashri — salah satu ulama Tabi'in dalam daftar — pernah berkata tentang pentingnya memperpanjang sujud: "Aku mendapati sujud itu sebagai waktu paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya." (Makna ini disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang keutamaan sujud, sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif).
Hikmah: Panjangnya sujud Nabi ﷺ bukanlah tanpa tujuan. Sujud adalah saat paling dekat seorang hamba dengan Allah, dan Nabi ﷺ memanfaatkannya untuk berdoa, bertasbih, dan merendahkan diri. Ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam sujud.
Kesimpulan Praktis
- Shalat malam Nabi ﷺ adalah sebelas raka'at, di luar dua raka'at Fajar. Ini adalah jumlah yang paling utama untuk diikuti.
- Perpanjanglah sujud dalam shalat malam, minimal seukuran membaca lima puluh ayat, sebagai bentuk penghambaan dan kedekatan dengan Allah.
- Waktu shalat malam adalah antara Isya dan Fajar, dan yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir.
- Konsistenlah dalam shalat malam, meskipun sedikit, karena amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah yang lain.
- Perbanyak doa dan tasbih dalam sujud, karena sujud adalah waktu paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.