Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1497 tentang Tata cara shalat gerhana matahari berjamaah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara shalat gerhana (kusuf) yang diajarkan Nabi ﷺ: shalat berjamaah, dengan dua kali berdiri, dua kali rukuk dalam setiap rakaat (total empat rukuk), bacaan dan rukuk yang panjang, lalu tasyahhud dan salam. Setelah shalat, Nabi ﷺ berkhutbah menerangkan bahwa gerhana bukan tanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah, dan kaum muslimin diperintahkan kembali kepada Allah dengan shalat, dzikir, dan doa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, dikeluarkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Gerhana, bab tasyahhud dan salam dalam shalat gerhana), dan maknanya juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah dengan jalur yang lain.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan gerhana sebagai tanda kekuasaan Allah:

QS. Fushshilat [41]: 37

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa matahari dan bulan adalah makhluk Allah yang tunduk kepada perintah-Nya, bukan objek penyembahan, dan peristiwa gerhana adalah pengingat akan kekuasaan Allah.

Hadits terkait dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah: Nabi ﷺ bersabda bahwa matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah, maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar disyariatkannya shalat gerhana dan khutbah setelahnya.

Penjelasan Rinci

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' dan Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat gerhana disyariatkan berdasarkan kesepakatan ulama, dan tata caranya yang paling utama adalah sebagaimana dalam hadits Aisyah ini: dua rakaat, pada setiap rakaat dua kali berdiri dan dua kali rukuk, sehingga total empat rukuk dan empat sujud. Beliau juga menyebutkan bahwa bacaan pada berdiri pertama lebih panjang dari yang kedua, dan rukuk pertama lebih panjang dari yang kedua.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menguraikan bahwa hadits ini menunjukkan urutan: takbir, membaca panjang, rukuk panjang, bangkit dan membaca lagi (lebih pendek), rukuk lagi (lebih pendek), lalu sujud dua kali, kemudian berdiri untuk rakaat kedua dengan pola yang sama, lalu tasyahhud dan salam. Beliau juga menegaskan bahwa setelah shalat, Nabi ﷺ berkhutbah mengingatkan kaum muslimin.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa shalat gerhana memiliki keistimewaan tersendiri dibanding shalat lain, yaitu adanya dua rukuk dalam satu rakaat, dan beliau menegaskan bahwa Nabi ﷺ mengerjakannya secara berjamaah dengan seruan "ash-shalatu jami'ah".

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan hikmah gerhana: Allah menakuti hamba-Nya dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya agar mereka kembali kepada-Nya dengan taubat, dzikir, doa, dan shalat, bukan sibuk dengan takhayul atau keyakinan bahwa gerhana berkaitan dengan kematian atau kelahiran seseorang.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama tentang jumlah rukuk: mayoritas ulama dari kalangan Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik (dalam riwayat yang masyhur) berpendapat dua rukuk per rakaat berdasarkan hadits Aisyah ini. Imam Abu Hanifah berpendapat shalat gerhana seperti shalat biasa (satu rukuk per rakaat), namun pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur karena hadits Aisyah shahih dan tegas, sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

Story Telling

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana diriwayatkan dalam hadits ini — ketika matahari gerhana pada masa Nabi ﷺ, beliau memerintahkan seorang lelaki menyerukan "ash-shalatu jami'ah". Orang-orang berkumpul, lalu Nabi ﷺ shalat bersama mereka dengan bacaan dan rukuk yang sangat panjang, hingga para sahabat berdiri lama dalam shalat. Setelah salam, Nabi ﷺ berdiri dan berkhutbah, menerangkan bahwa gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi tanda kekuasaan Allah, dan beliau mengarahkan umat untuk kembali kepada Allah dengan shalat dan doa. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada masa hidup Nabi ﷺ dan menjadi rujukan utama tata cara shalat gerhana. Hikmahnya: seorang mukmin ketika melihat tanda kekuasaan Allah hendaknya segera mendekat kepada-Nya, bukan sibuk dengan cerita-cerita yang tidak berdasar.

Kesimpulan Praktis

  • Shalat gerhana disyariatkan dan dikerjakan secara berjamaah dengan seruan "ash-shalatu jami'ah".
  • Tata caranya: dua rakaat, setiap rakaat dua kali berdiri dan dua kali rukuk, dengan bacaan dan rukuk yang panjang; bacaan dan rukuk pertama lebih panjang dari yang kedua.
  • Setelah shalat, disunnahkan khutbah yang mengingatkan bahwa gerhana adalah tanda kekuasaan Allah, bukan tanda kematian atau kelahiran seseorang.
  • Dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, takbir, dan sedekah saat terjadi gerhana.
  • Ikuti tata cara yang shahih dari sunnah Nabi ﷺ dan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah, serta hindari takhayul.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?