Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan hari Jum'at sebagai hari terbaik, serta keberadaan satu waktu mustajab di dalamnya. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya waktu mustajab tersebut, namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ia berada di akhir waktu Ashar sebelum matahari terbenam, berdasarkan hadits dari Abdullah bin Salam. Hadits ini juga mengajarkan adab penting: tidak boleh bersusah payah melakukan perjalanan jauh (safar) untuk beribadah kecuali ke tiga masjid.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Jumu'ah [62]: 9-10
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Hadits terkait:
Hadits yang sedang dijelaskan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jum'at, Bab Waktu yang Dijawab Doanya pada Hari Jum'at, nomor 1430. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan perbedaan pendapat tentang waktu mustajab ini. Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad juga membahasnya secara panjang lebar dan menguatkan pendapat bahwa waktu tersebut adalah akhir waktu Ashar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan Hari Jum'at
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari Jum'at adalah hari terbaik di mana matahari terbit. Pada hari ini terjadi peristiwa-peristiwa besar:
- Adam diciptakan
- Adam diturunkan ke bumi
- Taubat Adam diterima
- Adam wafat
- Kiamat akan terjadi
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan ini menunjukkan kedudukan istimewa hari Jum'at di sisi Allah. Hari ini dipilih sebagai hari raya mingguan bagi umat Islam.
2. Waktu Mustajab pada Hari Jum'at
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya waktu mustajab ini. Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan ada beberapa pendapat, namun yang paling kuat ada dua:
Pendapat pertama: Waktu tersebut adalah saat imam duduk di mimbar hingga selesai shalat Jum'at. Ini berdasarkan hadits dari Abu Musa al-Asy'ari.
Pendapat kedua: Waktu tersebut adalah akhir waktu Ashar sebelum matahari terbenam. Ini berdasarkan hadits Abdullah bin Salam yang disebutkan dalam riwayat ini, bahwa waktu mustajab itu adalah "akhir waktu dari hari Jum'at sebelum matahari terbenam."
Imam Ibnul Qayyim menguatkan pendapat kedua ini dengan alasan yang kuat, di antaranya:
- Ini adalah waktu yang paling utama untuk berdoa
- Pada waktu ini, seorang hamba menanti shalat Maghrib, sehingga ia dianggap dalam keadaan shalat
- Ini adalah waktu di mana para malaikat turun dan amal diangkat
3. Pelajaran tentang Adab Safar
Dalam hadits ini juga terdapat kisah Abu Hurairah yang pergi ke Thur (gunung tempat Nabi Musa berbicara dengan Allah). Ia bertemu dengan Bashrah bin Abi Bashrah al-Ghifari yang mengingatkannya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak boleh melakukan perjalanan (safar untuk ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha."
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan melakukan perjalanan khusus untuk beribadah ke tempat-tempat selain tiga masjid tersebut. Adapun jika seseorang mengunjungi tempat lain untuk tujuan lain seperti silaturahmi atau perdagangan, maka itu diperbolehkan.
4. Hikmah dari Kisah Abu Hurairah dengan Ka'b
Kisah ini menunjukkan adab ilmiah di kalangan sahabat:
- Mereka saling bertukar ilmu
- Mereka tidak segan mengoreksi pendapat yang keliru dengan dalil
- Abdullah bin Salam dengan tegas mengatakan "Ka'b berbohong" ketika Ka'b mengatakan waktu mustajab itu hanya setahun sekali, lalu setelah Ka'b membaca Taurat dan mengakui kebenaran hadits, Abdullah bin Salam membenarkannya
Ini mengajarkan kita untuk selalu kembali kepada dalil, bukan kepada pendapat pribadi.
Story Telling
Dari kisah dalam hadits ini, kita melihat keteladanan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Suatu hari beliau pergi ke Thur (gunung di Sinai) dan bertemu dengan Ka'b al-Ahbar, seorang ulama Yahudi yang telah masuk Islam.
Mereka menghabiskan waktu sehari penuh untuk saling bertukar ilmu. Abu Hurairah menceritakan hadits-hadits Rasulullah ﷺ, sementara Ka'b menceritakan kisah-kisah dari Taurat. Ketika Abu Hurairah menyampaikan hadits tentang keutamaan hari Jum'at, Ka'b berkomentar bahwa waktu mustajab itu hanya terjadi setahun sekali.
Abu Hurairah dengan tegas mengoreksinya: "Tidak, waktu itu ada di setiap hari Jum'at." Ka'b kemudian membaca Taurat dan membenarkan perkataan Abu Hurairah.
Kemudian Abu Hurairah bertemu dengan Bashrah bin Abi Bashrah yang mengingatkannya tentang larangan safar kecuali ke tiga masjid. Lalu beliau bertemu dengan Abdullah bin Salam yang memberitahukan bahwa waktu mustajab itu adalah akhir waktu Ashar.
Hikmah dari kisah ini: seorang penuntut ilmu tidak boleh malu untuk bertanya dan belajar dari siapa pun, selama ilmunya benar. Abu Hurairah yang merupakan sahabat besar tetap mau belajar dari sahabat lainnya.
Kesimpulan Praktis
- Muliakan hari Jum'at sebagai hari terbaik, perbanyak ibadah dan doa di dalamnya.
- Perbanyak doa di akhir waktu Ashar pada hari Jum'at, karena ini adalah waktu mustajab yang paling kuat menurut para ulama.
- Jangan melakukan safar khusus untuk ibadah ke tempat-tempat selain tiga masjid yang disebutkan dalam hadits.
- Kembalikan setiap perselisihan kepada dalil, sebagaimana para sahabat saling mengoreksi dengan dalil.
- Jadikan hari Jum'at sebagai momen introspeksi mengingat kematian dan hari kiamat, karena pada hari inilah kiamat akan terjadi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.