Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1364 tentang Pahala shalat malam berjamaah hingga imam selesai

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar shalat malam (qiyamul lail/tarawih) berjamaah bersama imam hingga selesai, yaitu dicatat pahalanya seperti shalat sepanjang malam. Nabi ﷺ tidak selalu menambah qiyam setiap malam Ramadhan, tetapi ketika beliau mengerjakannya, beliau memanjangkan hingga sepertiga atau setengah malam, dan pada malam-malam terakhir beliau mengumpulkan keluarga serta manusia hingga dikhawatirkan masuk waktu sahur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه, dan dicatat oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i, Kitab as-Sahu, Bab "Pahala Siapa yang Shalat Bersama Imam Hingga Selesai" (no. 1364). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan lafaz yang berdekatan. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, dan al-Albani menshahihkannya.

Sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam hingga imam selesai (berpaling/pulang), maka dicatat baginya (pahala) qiyam satu malam penuh."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum keutamaan qiyamul lail:

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ

"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu." (QS. Al-Muzzammil [73]: 20)

Penjelasan Rinci

1. Makna hadits secara umum

Hadits ini menggambarkan kebiasaan Nabi ﷺ dalam qiyam Ramadhan (yang kita kenal sebagai tarawih). Beliau tidak mengerjakannya setiap malam secara berjamaah, tetapi pada malam-malam tertentu beliau memanjangkannya. Ini menunjukkan bahwa qiyam Ramadhan disyariatkan berjamaah, dan pahalanya sangat besar.

2. Pahala shalat bersama imam hingga selesai

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama disunnahkannya shalat tarawih berjamaah hingga imam selesai salam, karena orang yang pulang lebih awal tidak mendapatkan keutamaan "qiyam satu malam penuh". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa yang dimaksud "hingga yansharif" adalah hingga imam menyelesaikan shalatnya, bukan sekadar sebagiannya.

3. Sikap Nabi ﷺ yang tidak selalu berjamaah

Ibnu Hajar juga menjelaskan hikmah Nabi ﷺ tidak mengerjakan qiyam setiap malam: agar tidak dianggap wajib oleh umatnya. Ini selaras dengan hadits 'Aisyah رضي الله عنها tentang kekhawatiran Nabi ﷺ jika manusia menganggapnya wajib. Namun pada malam-malam ganjil terakhir, beliau justru mengumpulkan keluarga dan manusia, menunjukkan kesunnahan memperbanyak qiyam di akhir Ramadhan.

4. Makna "al-falah" = sahur

Dalam riwayat ini, Dawud bin Abi Hind (perawi) bertanya kepada Jubair bin Nufair tentang makna "al-falah", dan beliau menjawab: "sahur". Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menyebut bahwa ini adalah penafsiran yang masyhur, karena sahur adalah sebab kekuatan untuk berpuasa, dan sebagian salaf menyebut sahur sebagai "al-falah" (keberuntungan) karena keberkahannya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menukil bahwa sahur termasuk syi'ar Ramadhan yang agung.

5. Perbedaan pendapat ulama daftar

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa shalat tarawih berjamaah lebih utama, berdasarkan hadits ini.
  • Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa shalat sendiri di rumah boleh, namun berjamaah tetap memiliki keutamaan besar, khususnya di bulan Ramadhan.
  • Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah tetapnya keutamaan berjamaah hingga selesai bersama imam, sebagaimana zhahir hadits Abu Dzarr ini.

Story Telling

Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه — seorang sahabat yang terkenal zuhud dan jujur — menceritakan pengalaman langsungnya bersama Nabi ﷺ di bulan Ramadhan. Beliau memperhatikan dengan cermat malam-malam qiyam Nabi ﷺ: kapan beliau berdiri, berapa lama, dan bagaimana beliau mengumpulkan keluarga serta manusia di malam-malam terakhir. Ketika para sahabat memohon agar Nabi ﷺ menambah qiyam di malam-malam yang tersisa, Nabi ﷺ justru mengajarkan sebuah kaidah agung: "Jika seseorang shalat bersama imam hingga selesai, dicatat baginya qiyam satu malam penuh."

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang keutamaan qiyamul lail: "Tidak ada ibadah yang lebih berat bagi jiwa selain qiyamul lail, karena ia menuntut keikhlasan dan kesabaran." Dan Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Aku tidak mengetahui amal yang lebih utama setelah kewajiban selain qiyamul lail." (dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif).

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat tarawih berjamaah hingga imam selesai memiliki pahala seperti shalat sepanjang malam — jangan tergesa-gesa pulang sebelum imam salam.
  2. Qiyam Ramadhan disunnahkan berjamaah, dan lebih ditekankan pada malam-malam ganjil di akhir Ramadhan.
  3. Sahur (al-falah) adalah sunnah yang penuh berkah; jangan tinggalkan meski hanya dengan beberapa suapan.
  4. Jangan menganggap qiyam Ramadhan sebagai kewajiban, karena Nabi ﷺ sengaja tidak selalu mengerjakannya berjamaah untuk menjaga hal ini.
  5. Hidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat, dzikir, dan doa, serta ajak keluarga sebagaimana Nabi ﷺ mengumpulkan putri-putrinya dan para wanita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?