Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita sebuah dzikir yang sangat agung dan ringan, yaitu: "Subhanakallahumma wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik" (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu). Dzikir ini berfungsi sebagai "penutup" (cap/stempel) bagi majelis atau shalat kita. Jika kita banyak berbicara yang baik, dzikir ini akan mengunci kebaikan tersebut. Namun, jika ada percakapan yang sia-sia atau kurang baik, dzikir ini menjadi penghapus (kafarat) atas kekurangan tersebut. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang sangat besar kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1344) dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih An-Nasa'i.
Meskipun hadits ini tidak secara langsung menyebutkan ayat Al-Qur'an, maknanya sangat sejalan dengan firman Allah tentang taubat dan istighfar. Di antaranya:
- Nama Surah dan Nomor Ayat: QS. Ali 'Imran [3]: 135
- Teks Arab (potongan ayat yang relevan):
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ
- Terjemahan/Makna Ringkas: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka..."
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin ketika terjatuh dalam dosa atau kekeliruan, maka obatnya adalah segera kembali kepada Allah dengan istighfar dan taubat. Dzikir dalam hadits ini adalah salah satu bentuk aplikasi nyata dari perintah tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Makna "Thabi'an" (طابعًا): Kata ini berarti "cap" atau "stempel". Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib menjelaskan bahwa dzikir ini berfungsi seperti stempel yang mengunci amalan. Jika seseorang duduk di majelis dan banyak berbicara kebaikan, maka dzikir ini menjadi saksi dan penutup yang baik atas kebaikannya. Sebaliknya, jika ada percakapan yang sia-sia atau lalai, dzikir ini menjadi pembersih yang menghapus kekeliruan tersebut.
- Makna "Kaffarah" (كَفَّارَة): Ini adalah penebus dosa. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa dzikir-dzikir tertentu yang diajarkan Nabi ﷺ di penghujung majelis berfungsi sebagai penebus atas kekurangan dan kesalahan yang mungkin terjadi selama majelis tersebut berlangsung. Ini menunjukkan betapa sempurnanya syariat Islam yang memberikan solusi bagi kelemahan manusia.
- Keutamaan Dzikir Ini: Dzikir ini menggabungkan tiga hal utama:
- Tasbih (Pensucian): Subhanaka (Maha Suci Engkau) membersihkan Allah dari segala kekurangan.
- Hamdalah (Pujian): wa bihamdika (dan dengan memuji-Mu) mengakui segala kesempurnaan dan kebaikan Allah.
- Istighfar dan Taubat: astaghfiruka wa atubu ilaik (aku memohon ampun dan bertaubat) adalah pengakuan atas kelemahan diri dan kembali kepada-Nya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menekankan bahwa dzikir ini adalah obat bagi hati yang lalai. Beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin yang sadar akan kekurangannya dalam beribadah dan bermuamalah, maka ia akan senantiasa menutup aktivitasnya dengan istighfar dan taubat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, adalah seorang yang sangat jeli dan cerdas. Beliau memperhatikan setiap gerak-gerik dan ucapan Rasulullah ﷺ. Suatu hari, beliau melihat Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat-kalimat tertentu setiap kali selesai dari majelis atau shalat. Karena penasaran dan ingin tahu, Aisyah pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kalimat apa yang selalu engkau ucapkan ini?"
Maka Rasulullah ﷺ menjelaskan hikmah di baliknya, yaitu sebagai penutup dan penebus atas apa pun yang terjadi selama majelis atau shalat tersebut. Ini menunjukkan bahwa istri-istri Nabi ﷺ adalah wanita-wanita yang sangat perhatian terhadap urusan agama, dan mereka tidak segan untuk bertanya demi mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dari sini kita belajar bahwa bertanya tentang urusan agama adalah akhlak para sahabat dan keluarga Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan Membaca Dzikir: Biasakanlah untuk membaca dzikir "Subhanakallahumma wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik" setiap kali selesai dari suatu majelis, rapat, pertemuan, atau setelah shalat.
- Jadikan Penutup: Jadikan dzikir ini sebagai penutup dari setiap aktivitas, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah sehari-hari.
- Sadari Kelemahan Diri: Sadari bahwa kita sering kali lalai dan berbicara hal yang tidak bermanfaat. Dengan beristighfar, kita mengakui kelemahan kita dan memohon ampunan Allah.
- Teladani Nabi ﷺ: Ini adalah contoh nyata dari akhlak dan kebiasaan Nabi ﷺ yang harus kita ikuti dengan penuh cinta dan harap akan ampunan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.