Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang bacaan tasyahud dalam shalat. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada para sahabat agar tidak mengucapkan salam kepada Allah, karena Allah adalah As-Salam (Yang Maha Sejahtera, suci dari segala kekurangan). Beliau lalu mengajarkan lafazh tasyahud yang agung, yang diakhiri dengan syahadatain, kemudian memberikan kebebasan kepada setiap muslim untuk berdoa setelahnya dengan doa yang ia sukai. Ini menunjukkan bahwa setelah tasyahud, kita dianjurkan untuk berdoa sebelum salam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1298), juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang Allah sebagai As-Salam:
QS. Al-Hasyr [59]: 23
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
Hadits terkait:
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku tasyahud -sedangkan telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan beliau- sebagaimana beliau mengajarkan kepadaku satu surat dari Al-Qur'an..." (HR. Al-Bukhari no. 6265, Muslim no. 402)
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berdoa setelah tasyahud sebelum salam, dan inilah pendapat jumhur ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa juga menjelaskan bahwa doa setelah tasyahud sebelum salam adalah waktu yang mustajab, dan beliau menukil kesepakatan para ulama tentang hal ini.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Larangan mengucapkan "Assalamu 'alallah" (Salam bagi Allah)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para sahabat pada awalnya mengucapkan "Assalamu 'alallah" (keselamatan atas Allah) karena kebiasaan mereka di masa jahiliyah yang mengucapkan salam kepada orang-orang yang mereka hormati. Maka Rasulullah ﷺ melarang hal ini karena Allah tidak membutuhkan salam dari makhluk-Nya. Allah adalah As-Salam, sumber keselamatan, dan kepada-Nya semua keselamatan kembali. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in menjelaskan bahwa makna "Allah adalah As-Salam" berarti Allah suci dari segala kekurangan, cacat, dan aib.
2. Ajaran tasyahud yang lengkap
Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa lafazh tasyahud yang diajarkan dalam hadits ini adalah yang paling utama. Beliau memilih lafazh tasyahud Ibnu Mas'ud ini karena sanadnya paling shahih dan diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada sahabatnya.
Makna "At-tahiyyatu lillah" adalah segala penghormatan, pengagungan, dan kerajaan yang kekal hanyalah milik Allah. "Ash-shalawatu" adalah doa-doa atau shalat-shalat yang dilakukan semata-mata karena Allah. "Ath-thayyibat" adalah perkataan-perkataan yang baik.
3. Makna "Assalamu 'alaika ayyuhan nabiyyu"
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dalam tasyahud adalah bentuk penghormatan. Para ulama berbeda pendapat apakah lafazh ini tetap diucapkan setelah wafatnya Nabi ﷺ. Jumhur ulama (termasuk Imam Asy-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad) berpendapat tetap diucapkan karena Nabi ﷺ hidup di kuburnya dan menjawab salam orang yang mengucapkannya. Ini dikuatkan oleh hadits riwayat Abu Dawud bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku sehingga aku menjawab salamnya."
4. Doa setelah tasyahud
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Kemudian hendaklah ia memilih doa yang ia sukai" menunjukkan bahwa setelah tasyahud dan syahadatain, seorang muslim diberi kebebasan untuk berdoa dengan doa apa pun yang ia inginkan, baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Ini adalah waktu yang mustajab, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa doa antara tasyahud dan salam adalah waktu yang mustajab.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad Al-Ma'ad menyebutkan beberapa doa yang diajarkan Nabi ﷺ setelah tasyahud, di antaranya: "Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabil qabri, wa min 'adzabi jahannam, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu -yang meriwayatkan hadits ini- adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau adalah orang yang pertama kali membaca Al-Qur'an dengan suara keras di hadapan kaum Quraisy. Suatu ketika, para sahabat berkumpul dan ingin mengetahui siapa di antara mereka yang paling paham tentang shalat Nabi ﷺ. Mereka berkata: "Tidak ada seorang pun di antara kita yang lebih paham tentang shalat Nabi ﷺ selain Ibnu Mas'ud." Maka mereka bertanya kepadanya, dan ia menjawab: "Aku melihat Rasulullah ﷺ bertakbir pada setiap kali turun dan bangun, dan beliau mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri: 'Assalamu'alaikum warahmatullah'." (HR. An-Nasa'i)
Ibnu Mas'ud juga dikenal dengan ketawadhuannya. Ketika Umar bin Khattab mengangkatnya sebagai gubernur Kufah, ia berkata: "Aku tidak ingin menjadi gubernur kalian, tetapi jika kalian memaksaku, maka aku akan tunaikan hak-hak kalian." Beliau adalah contoh sahabat yang memahami ajaran Nabi ﷺ dengan baik dan mengamalkannya dengan istiqamah.
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat sangat antusias mempelajari tata cara shalat Nabi ﷺ, termasuk bacaan tasyahud. Mereka tidak malu bertanya dan memperhatikan dengan teliti. Ini mengajarkan kita untuk senantiasa mempelajari dan memperbaiki kualitas shalat kita.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan dan amalkan lafazh tasyahud sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini, karena ini adalah bacaan yang paling shahih dan paling utama.
- Jangan mengucapkan salam kepada Allah dalam bentuk apa pun, karena Allah adalah As-Salam dan tidak membutuhkan salam dari makhluk-Nya.
- Perbanyak doa setelah tasyahud sebelum salam, karena ini adalah waktu yang mustajab. Pilihlah doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ atau doa apa pun yang baik untuk dunia dan akhirat.
- Jaga kekhusyukan dalam shalat dengan memahami makna setiap bacaan, terutama tasyahud yang mengandung pujian kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, dan persaksian iman.
- Ajarkan tata cara shalat yang benar kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, sebagaimana para sahabat saling mengajarkan ilmu ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.