Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1190 tentang Membalas salam dengan isyarat saat shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sedang shalat boleh membalas salam dengan isyarat tangan, bukan dengan ucapan. Nabi ﷺ mengisyaratkan tangan saat Jabir bin Abdullah memberi salam, lalu setelah selesai shalat beliau menjelaskan alasannya: "Aku tadi sedang shalat." Ini menjadi dalil bahwa isyarat dalam shalat tidak membatalkan shalat dan merupakan bentuk jawaban salam yang disyariatkan bagi orang yang sedang shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan An-Nasa'i no. 1190, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, kitab "As-Sahw" (Kesalahan dalam Shalat), bab membalas salam dengan isyarat dalam shalat. Sanadnya: Muhammad bin Hasyim al-Ba'labakki → Muhammad bin Syu'aib bin Syabur → 'Amr bin al-Harits → Abu az-Zubair → Jabir.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab berbicara dalam shalat dan mengingat Allah:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Terjemahan: "Peliharalah semua shalat dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk (qanitin)."

Hadits pendukung — dari Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu, bahwa dahulu mereka berbicara dalam shalat, lalu turun perintah untuk diam dan mengingat Allah; hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim. Maknanya: shalat adalah waktu bermunajat kepada Allah, sehingga ucapan manusia di dalamnya tidak sebagaimana ucapan di luar shalat.

Penjelasan Rinci

1. Kedudukan hadits ini. Imam an-Nasa'i menempatkannya dalam bab khusus tentang membalas salam dengan isyarat ketika shalat. Ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut memiliki dasar dari sunnah, bukan perkara yang diada-adakan.

2. Makna peristiwa. Jabir mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ yang sedang dalam perjalanan dan sedang shalat. Nabi ﷺ tidak menjawab dengan lisan, tetapi berisyarat dengan tangan. Setelah shalat selesai, beliau memanggil Jabir dan menjelaskan: "Aku tadi sedang shalat." Jadi isyarat itu adalah jawaban salam, dan penjelasan beliau menegaskan bahwa diamnya bukan karena mengabaikan salam, melainkan karena sedang berada dalam shalat.

3. Bagaimana ulama memahami isyarat ini.

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa isyarat dalam shalat dibolehkan untuk keperluan yang masyhur (seperti menjawab salam, memberi isyarat kepada orang yang memanggil), dan hal itu tidak membatalkan shalat. Beliau juga menyebut bahwa isyarat dengan tangan adalah bentuk jawaban yang paling ringan dan tidak termasuk "kalam" (ucapan manusia).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari membahas hadits-hadits isyarat dalam shalat dan menyimpulkan bahwa isyarat ringan yang dibutuhkan tidak membatalkan shalat, berbeda dengan ucapan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menempatkan hadits Jabir ini dalam pembahasan adab shalat, bahwa Nabi ﷺ menjawab salam dengan isyarat dan tidak berbicara, karena shalat adalah munajat kepada Allah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarh Shahih al-Bukhari) menegaskan bahwa larangan berbicara dalam shalat tidak berarti menutup semua bentuk jawaban; isyarat tetap dibolehkan sesuai kebutuhan.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar. Sebagian ulama membedakan antara isyarat dengan tangan dan isyarat dengan jari; sebagian memilih isyarat dengan tangan sebagaimana zhahir hadits Jabir. Yang paling kuat menurut dalil adalah isyarat dengan tangan sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ, karena hadits ini shahih dan jelas. Adapun menjawab dengan lisan saat shalat, para ulama sepakat itu tidak boleh karena termasuk "kalam" yang membatalkan shalat, berdasarkan hadits Zaid bin Arqam dan hadits Mu'awiyah bin al-Hakam yang diriwayatkan Muslim.

5. Hikmah. Hadits ini mengajarkan dua hal sekaligus: (a) menjaga kekhusyukan shalat dengan tidak berbicara, dan (b) tetap beradab kepada orang yang memberi salam dengan cara yang tidak merusak shalat, yaitu isyarat. Ini menunjukkan kelapangan syariat dan keseimbangan antara hak Allah dan hak sesama.

Story Telling

Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Nabi ﷺ — menceritakan pengalaman pribadinya ini. Ia diutus Nabi ﷺ untuk suatu keperluan, lalu kembali dan mendapati Nabi ﷺ sedang shalat menghadap ke arah timur atau barat. Jabir memberi salam, dan Nabi ﷺ hanya berisyarat dengan tangan. Jabir pun pergi, lalu Nabi ﷺ memanggilnya: "Wahai Jabir!" Jabir datang dan bertanya mengapa salamnya tidak dijawab. Nabi ﷺ menjawab dengan lembut: "Aku tadi sedang shalat." Dari kisah ini kita belajar bahwa Nabi ﷺ tidak meninggalkan adab menjawab salam, tetapi menyesuaikannya dengan keadaan — dan beliau menjelaskan dengan penuh kelembutan agar sahabatnya tidak merasa diabaikan. (Sumber: Sunan An-Nasa'i; makna umum juga disebutkan an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari.)

Kesimpulan Praktis

  1. Jika seseorang memberi salam kepada kita saat kita sedang shalat, jawablah dengan isyarat tangan, bukan dengan ucapan.
  2. Isyarat ringan dalam shalat tidak membatalkan shalat dan dibolehkan sesuai kebutuhan.
  3. Jangan berbicara dalam shalat, karena shalat adalah munajat kepada Allah.
  4. Jika ada yang bertanya mengapa kita tidak menjawab dengan lisan, jelaskan dengan lembut bahwa kita sedang shalat — meneladani penjelasan Nabi ﷺ kepada Jabir.
  5. Jagalah adab kepada sesama tanpa merusak ibadah; syariat memberi jalan keluar yang mudah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?