Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1189 tentang Mengembalikan salam dengan isyarat saat shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sedang shalat boleh menjawab salam dengan isyarat tangan, bukan dengan ucapan. Nabi ﷺ saat shalat hanya memberi isyarat kepada Jabir radhiyallahu 'anhu, lalu setelah selesai beliau menjelaskan bahwa beliau sedang shalat. Ini menjadi dalil bahwa berbicara saat shalat membatalkannya, sedangkan isyarat diperbolehkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Sahu, Bab Mengembalikan Salam dengan Isyarat dalam Shalat, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Al-Layts bin Sa'd dari Abu az-Zubair dari Jabir.

Teks hadits:

<p>أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِحَاجَةٍ ثُمَّ أَدْرَكْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَأَشَارَ إِلَىَّ فَلَمَّا فَرَغَ دَعَانِي فَقَالَ ‏"‏ إِنَّكَ سَلَّمْتَ عَلَىَّ آنِفًا وَأَنَا أُصَلِّي ‏"‏ ‏.‏ وَإِنَّمَا هُوَ مُوَجَّهٌ يَوْمَئِذٍ إِلَى الْمَشْرِقِ</p>

Terjemahan: "Diriwayatkan bahwa Jabir berkata: 'Rasulullah ﷺ mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku menjumpainya saat dia sedang shalat. Aku memberi salam kepadanya dan dia memberi isyarat kepadaku. Ketika dia selesai, dia memanggilku dan berkata: 'Kamu memberi salam kepadaku baru saja dan aku sedang shalat.' Dan dia menghadap ke arah timur pada hari itu."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar larangan berbicara dalam shalat dan perintah menjaga kekhusyukan:

<p>قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ</p>

QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2

Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kekhusyukan mencakup ketenangan hati, konsentrasi anggota badan, dan meninggalkan hal-hal yang mengganggu shalat, termasuk pembicaraan manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Larangan berbicara saat shalat. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa berbicara dengan sengaja saat shalat membatalkan shalat, berdasarkan hadits ini dan hadits Mu'awiyah bin al-Hakam yang terkenal. Nabi ﷺ menegur Jabir dengan lembut karena memberi salam, dan menjelaskan bahwa beliau sedang shalat — isyarat bahwa ucapan salam tidak dijawab dengan ucapan.

Kedua: Bolehnya isyarat dalam shalat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa isyarat dengan tangan saat shalat diperbolehkan untuk keperluan yang dibutuhkan, seperti menjawab salam, memberi petunjuk, atau menolak sesuatu. Ini tidak termasuk perbuatan yang membatalkan shalat karena bukan termasuk "kalam" (ucapan) dan bukan gerakan banyak yang berturut-turut tanpa kebutuhan.

Ketiga: Menghadap kiblat. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ saat itu menghadap ke arah timur. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini terjadi sebelum perintah menghadap Ka'bah di Madinah, atau dalam konteks safar. Yang penting, hadits ini menunjukkan bahwa isyarat dilakukan dalam keadaan shalat menghadap kiblat.

Keempat: Perbedaan pendapat tentang menjawab salam saat shalat. Di antara ulama dalam daftar:

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa menjawab salam dengan isyarat diperbolehkan, berdasarkan hadits ini.
  • Imam asy-Syafi'i juga membolehkan isyarat, namun tidak dengan ucapan.
  • Imam Abu Hanifah membolehkan isyarat dengan tangan atau kepala dalam keadaan darurat.

Yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan isyarat, karena hadits Jabir ini shahih dan jelas. Imam An-Nasa'i sendiri memasukkan hadits ini dalam bab khusus tentang isyarat menjawab salam, menunjukkan bahwa beliau menganggapnya sebagai dalil yang kuat.

Kelima: Adab Nabi ﷺ. Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ tidak menegur Jabir di depan orang banyak, tetapi memanggilnya setelah shalat selesai dan menjelaskan dengan lembut. Ini menunjukkan adab nasihat yang baik, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan ikut dalam banyak peperangan — suatu hari diutus oleh Rasulullah ﷺ untuk suatu keperluan. Ketika ia kembali dan menemui Nabi ﷺ sedang shalat, ia mengucapkan salam. Nabi ﷺ tidak menjawab dengan ucapan, tetapi memberi isyarat dengan tangan. Setelah shalat selesai, beliau memanggil Jabir dan menjelaskan dengan lembut: "Kamu tadi memberi salam kepadaku, dan aku sedang shalat."

Imam An-Nasa'i meriwayatkan kisah ini dalam Sunan-nya, dan Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini menjadi dalil penting dalam bab isyarat saat shalat. Hikmahnya: seorang mukmin hendaknya memahami bahwa shalat adalah waktu munajat kepada Allah, sehingga tidak boleh dicampuri ucapan manusia, namun tetap boleh berinteraksi dengan isyarat yang tidak mengganggu kekhusyukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berbicara saat shalat — baik menjawab salam, menegur, atau mengobrol. Ini membatalkan shalat menurut kesepakatan ulama.
  2. Boleh menjawab salam dengan isyarat — seperti mengangkat tangan, mengangguk, atau memberi tanda dengan jari, tanpa ucapan.
  3. Jaga kekhusyukan — shalat adalah waktu munajat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2.
  4. Tegur dengan lembut — jika ada orang yang keliru, ikuti adab Nabi ﷺ yang menegur setelah shalat selesai dengan cara yang baik.
  5. Rujuk ulama terpercaya — untuk masalah fiqih shalat yang lebih rinci, tanyakan kepada ulama Ahlus Sunnah yang berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?