Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan bacaan tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat, yaitu ucapan penghormatan kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam kepada diri sendiri dan hamba-hamba Allah yang saleh, serta dua kalimat syahadat. Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu sangat memperhatikan kalimat ini sampai beliau mengajarkannya kepada murid-muridnya seperti mengajarkan Al-Qur'an, karena bacaan ini termasuk bagian penting dalam shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Tashahhud, Bab Cara Tashahhud Pertama, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang disebutkan:
قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Makna ringkasnya: “Segala penghormatan, shalat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kewajiban shalat dan mengingat Allah:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
(QS. Thaha [20]: 14)
Maknanya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
Hadits ini juga memiliki riwayat yang sangat masyhur dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dan menjadi salah satu dasar utama dalam bab tasyahhud.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat dahulu belum mengetahui bacaan tertentu ketika duduk dalam shalat, lalu Nabi ﷺ mengajarkan kepada mereka kalimat tasyahhud yang padat makna. Imam An-Nawawi dalam penjelasan hadits-hadits shalat menegaskan bahwa tasyahhud adalah bacaan yang disyariatkan pada duduk terakhir, dan sebagian ulama menyebutkan juga pada duduk antara dua sujud atau duduk setelah rakaat kedua dalam shalat tiga dan empat rakaat, sesuai perbedaan pendapat yang dikenal dalam madzhab.
Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kalimat “at-tahiyyatu lillahi” mengandung pengagungan kepada Allah, karena semua penghormatan, ibadah, dan kebaikan hanya layak ditujukan kepada-Nya. Ibn Rajab al-Hanbali juga menekankan bahwa tasyahhud memuat tauhid, pengagungan kepada Nabi ﷺ, doa untuk kaum mukminin yang saleh, dan syahadat. Karena itu, ia bukan sekadar bacaan biasa, tetapi ringkasan akidah dan adab seorang hamba dalam shalat.
Ibn Katsir dalam tafsirnya sering menjelaskan bahwa pujian dan penghormatan kepada Allah harus disertai tauhid dan pengagungan kepada Rasulullah ﷺ. Dalam tasyahhud, seorang hamba mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ, lalu mendoakan dirinya dan seluruh hamba Allah yang saleh. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga mengandung doa untuk kebaikan sesama mukmin.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya tentang shalat menjelaskan bahwa tasyahhud memiliki kedudukan besar karena di dalamnya terkumpul pengagungan kepada Allah, syahadat, dan pengakuan kenabian Muhammad ﷺ. Beliau juga menegaskan bahwa memperhatikan bacaan shalat dengan baik termasuk menyempurnakan kekhusyukan.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits Ibn Mas'ud ini adalah salah satu bentuk tasyahhud yang paling shahih dan banyak dipakai. Beliau juga menegaskan bahwa mengajarkan bacaan shalat kepada orang lain termasuk amal yang sangat mulia, sebagaimana Ibn Mas'ud mengajarkan tasyahhud kepada murid-muridnya seperti mengajarkan Al-Qur'an.
Syeikh Abdul Aziz bin Baz juga menegaskan pentingnya mengikuti bacaan shalat yang diajarkan Nabi ﷺ, dan bahwa tasyahhud termasuk bagian yang harus diperhatikan dalam shalat. Beliau menganjurkan kaum muslimin untuk mempelajari bacaan shalat dengan benar sesuai sunnah.
Dalam hadits ini, Alqamah bin Qais menyebutkan bahwa Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu mengajarkan kalimat-kalimat tasyahhud kepada mereka sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur'an. Ini menunjukkan perhatian besar salaf dalam mengajarkan bacaan shalat secara tepat, bukan hanya menghafalnya secara kasar.
Story Telling
Diceritakan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dan paling memahami bacaan Nabi ﷺ. Beliau pernah berkata bahwa para sahabat dahulu tidak tahu apa yang harus diucapkan ketika shalat, sampai Nabi ﷺ mengajarkan kalimat tasyahhud ini. Karena itu, Ibn Mas'ud sangat bersungguh-sungguh mengajarkan bacaan ini kepada murid-muridnya, bahkan Alqamah bin Qais menyaksikan sendiri bagaimana Ibn Mas'ud mengajarkannya seperti mengajarkan Al-Qur'an. Hikmahnya, urusan ibadah harus dipelajari dengan sungguh-sungguh dan teliti, karena shalat adalah perkara besar yang tidak boleh diremehkan.
Kesimpulan Praktis
- Bacaan tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits Ibn Mas'ud ini hendaknya dipelajari dan diamalkan dengan benar.
- Tasyahhud mengandung tauhid, pengagungan kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, doa untuk hamba-hamba Allah yang saleh, dan syahadat.
- Hendaknya kita mengajarkan bacaan shalat kepada keluarga dan anak-anak dengan penuh perhatian, sebagaimana salaf mengajarkannya seperti mengajarkan Al-Qur'an.
- Perbedaan riwayat tasyahhud yang shahih tetap harus dihormati, dan yang paling utama adalah mengikuti bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ dengan benar.
- Jangan meremehkan bacaan shalat, karena ia termasuk bagian penting dari ibadah dan tanda kecintaan kepada sunnah Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.