Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1160 tentang Larangan menggerakkan kerikil saat shalat dan cara menunjuk jari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab penting saat duduk tasyahhud dalam shalat: jangan menggerak-gerakkan kerikil atau bermain-main dengan tangan, karena itu termasuk gangguan syaitan. Sebaliknya, letakkan tangan kanan di atas paha kanan, tunjuk dengan jari telunjuk ke arah kiblat, dan arahkan pandangan ke jari tersebut. Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang dicontohkan langsung oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Tata Cara Shalat, Bab Tempat Pandangan dalam Tasyahhud (no. 1160), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits lain tentang isyarat telunjuk dalam tasyahhud, yang dibahas oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, serta Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad.

Adapun ayat yang relevan tentang larangan perbuatan sia-sia dalam ibadah:

QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya."

QS. Al-A'raf [7]: 205

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغَدَوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

"Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah."

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, larangan menggerak-gerakkan kerikil atau bermain-main dengan tangan saat shalat. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menegaskan bahwa perbuatan tersebut "minasy-syaithan" (termasuk dari syaitan), karena syaitan senang mengganggu kekhusyukan shalat seorang hamba.

Kedua, tuntunan praktis tentang posisi tangan dan pandangan saat tasyahhud:

  • Tangan kanan diletakkan di atas paha kanan
  • Jari telunjuk (jari yang berada di samping ibu jari) diarahkan ke kiblat
  • Pandangan mata diarahkan ke jari telunjuk tersebut

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa disunnahkan bagi orang yang shalat untuk tidak mengalihkan pandangannya dari tempat isyarat telunjuknya saat tasyahhud, dan ini menunjukkan kekhusyukan serta konsentrasi kepada Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah mengarahkan pandangan ke telunjuk adalah karena jari tersebut menunjuk kepada tauhid (keesaan Allah), sehingga pandangan mengikuti apa yang diisyaratkan oleh hati — yaitu mengesakan Allah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika duduk tasyahhud, beliau mengarahkan pandangannya ke jari telunjuknya, tidak menoleh ke kanan atau ke kiri, karena pada saat itu seorang hamba sedang bermunajat kepada Rabb-nya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah pandangan harus tepat ke telunjuk atau boleh melihat ke arah kiblat secara umum. Sebagian memahami "ramaa bi basharihi ilaihaa" (melempar pandangannya ke arah itu) sebagai mengarahkan pandangan ke telunjuk. Sebagian lain memahami bahwa pandangan tetap ke arah kiblat dan telunjuk juga mengarah ke kiblat, sehingga keduanya sejalan.

Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah mengarahkan pandangan ke jari telunjuk yang menunjuk ke kiblat, sebagaimana zhahir hadits ini, dan ini yang dipilih oleh Ibnu Qayyim dan Ibnu Hajar.

Catatan tentang menggerakkan telunjuk:

Perlu diketahui bahwa hadits ini menyebutkan isyarat dengan telunjuk, dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ menggerakkan telunjuknya saat berdoa dalam tasyahhud. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa menggerakkan telunjuk saat berdoa adalah sunnah menurut madzhab Syafi'i, berdasarkan hadits lain yang shahih.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah seorang sahabat yang sangat ketat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang dianggap kecil oleh orang lain. Beliau pernah melihat seorang lelaki menggerak-gerakkan kerikil dengan tangannya saat shalat. Setelah shalat selesai, beliau tidak langsung menegur di tengah shalat, tetapi menunggu hingga selesai — ini menunjukkan adab dalam menasihati.

Beliau berkata dengan lembut: "Jangan menggerakkan kerikil saat kamu shalat, karena itu dari syaitan." Kemudian beliau tidak hanya melarang, tetapi langsung mengajarkan alternatifnya: "Lakukanlah seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ."

Lelaki itu pun bertanya, dan Abdullah bin Umar langsung mempraktikkan: meletakkan tangan kanan di paha kanan, menunjuk dengan telunjuk ke arah kiblat, dan mengarahkan pandangan ke sana. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mengajarkan dengan contoh langsung — sebuah metode pendidikan yang sangat efektif.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa para salaf selalu mengajarkan ilmu dengan amal, bukan hanya ucapan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan bermain-main saat shalat — baik dengan kerikil, tangan, pakaian, atau anggota tubuh lainnya. Ini termasuk gangguan syaitan yang merusak kekhusyukan.
  2. Letakkan tangan kanan di atas paha kanan saat duduk tasyahhud, dengan jari-jari dalam keadaan menggenggam kecuali telunjuk.
  3. Arahkan telunjuk ke kiblat dan pandangan mata ke arah telunjuk tersebut, sebagai tanda tauhid dan kekhusyukan.
  4. Tegurlah dengan lembut dan ajarkan dengan contoh — sebagaimana Abdullah bin Umar menunggu shalat selesai sebelum menasihati, dan langsung mempraktikkan sunnah.
  5. Jaga kekhusyukan karena itu adalah inti dari shalat yang diterima.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?